Titik Nol Mataram yang Terlupakan

Banyak orang bingung saat ditanya Titik Nol Kota Mataram. Sebagian tidak mengerti apa itu Titik Nol dan separuhnya lagi tidak tahu dimana keberadaan titik tersebut.

Tapi coba tanyakan hal itu pada masyarakat Yogya, pasti semua tahu dan bisa menunjukkan lokasinya. Sebab, kawasan Titik Nol Yogyakarta telah menjadi icon wisata sejarah, tak hanya bagi masyarakat Yogya, namun juga bagi para pelancong yang berkunjung ke kota pelajar tersebut.

Oleh : Made Yoga Indra Permana

Kawasan Titik Nol kilometer di Yogyakarta memang merupakan kawasan heritage tourism atau wisata sejarah. Di seputarannya terdapat bangunan-bangunan kuno yang sering juga disebut loji atau bangunan tua yang besar peninggalan Belanda.

Kawasan Titik Nol yang juga merupakan jantung Kota Yogyakarta tumbuh menjadi sentra perekonomian yang selalu dipadati wisatawan. Kawasan tersebut hampir tidak pernah sepi dari aktivitas masyarakat, mulai dari pagi, siang, sore, bahkan hingga malam hari sepanjang trotoar menjadi tempat nongkrong masyarakat dan wisatawan.

Banyak komunitas juga berkumpul untuk mencari inspirasi dan menyalurkan bakat dengan berekspresi di Titik Nol. Singkatnya, ruang publik bersejarah tersebut menjadi pusat kegiatan masyarakat.

Melihat begitu ikonik-nya Titik Nol kilometer sebagai magnet wisata, pemda di berbagai daerah pun lantas berusaha mencari-cari, menciptakan Titik Nol baru dan meresmikannya. Tapi ironisnya, ketika berbagai daerah lain berlomba-lomba ‘mengarang’ Titik Nol baru, Mataram yang telah memilikinya justru tidak pernah memperdulikannya.

Di Mataram, Titik Nol kilometer tersebut telah hadir sejak dahulu kala, sejak jaman Belanda. Namun sama sekali tidak pernah dianggap penting. Peninggalan bersejarah tersebut kita abaikan begitu saja. Tak heran jika kilometerpaal tersebut hanya terongggok kesepian, merana tak terawat.

Oleh karena itulah, LHS melakukan inisiatif dan bekerjasama dengan Kodim 1606 Lombok Barat berupaya merawatnya, pada hari Sabtu tanggal 5 Juni lalu. Yang luar biasa adalah, Dandim 1606, Kolonel Arm Gunawan S.Sos., M.T., langsung terjun ke lapangan ikut memperbaiki dan mengecat kilometerpaal tersebut serta mengundang pihak terkait untuk perawatan dan pemberdayaannya ke depan.

Rapat pun digelar secara spontan di halaman Makodim. Membicarakan berbagai kemungkinan yang dapat dilakukan ke depan.

Respon dari Dandim 1606 ini tentu sangat luar biasa. Keperduliannya terhadap berbagai peninggalan sejarah serta pengetahuan sejarah itu sendiri, tentu menjadi mercusuar yang dapat menerangi masa depan konservasi, preservasi serta restorasi peninggalan sejarah di wilayah ini. Kita harapkan keperdulian serta langkah beliau dapat diikuti oleh para pejabat publik lainnya.

Titik Nol kilometer di Indonesia sejatinya memiliki akar yang panjang. Jika dalam bahasa Inggris ada istilah “milestone”, yang berarti penanda jarak satu mil, maka dalam bahasa Belanda digunakan istilah paal yang kemudian diserap dalam bahasa Indonesia menjadi pal.

Pada awalnya pal juga menggunakan mil sebagai satuan pengukur jarak antar pal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) kata pal diartikan sebagai tonggak batu tanda jarak, antara satu tonggak dan tonggak yang lain berjarak 1,5 km. Artinya, satuan ukur jarak yang dipakai adalah mil.

Kemudian belakangan satuan mil ini berubah menjadi kilometer. Istilahnya pun berganti dari milestone atau paal menjadi kilometerpaal atau tonggak penanda kilometer. Dan sejak saat itu hingga kini satuan resmi yang digunakan di seluruh Indonesia adalah kilometer dan disingkan ‘km’.

Sejarah pemasangan paal di Hindia Belanda sendiri diawali di Jawa pada masa kolonial, tepatnya di era pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Untuk kelancaran tugasnya di Pulau Jawa maka dibangun Groote Postweg atau Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan yang berjarak sekitar 1000 kilometer. Untuk penanda jaraknya itulah dipasang paal.

Di Mataram sendiri pemasangan kilometerpaal tersebut terkait erat dengan sejarah. Sebagaimana kita ketahui, berdasarkan Staatblad Nomor 123 Tahun 1882, Bali dan Lombok dijadikan satu wilayah kekuasaan pemerintahan dengan status Keresidenan, beribukota di Singaraja dan diperintah oleh seorang Residen.

Selanjutnya berdasarkan Staatblad Nomor 181 Tahun 1895 tanggal 31 Agustus 1895 Pulau Lombok ditetapkan sebagai daerah yang diperintah langsung oleh Hindia Belanda. Staatblad ini kemudian disempurnakan dengan Staatblad Nomor 185 Tahun 1895 dimana Lombok diberikan status Afdeling, sebuah wilayah administratif setingkat kabupaten.

Semula Afdeling Lombok beribukota di Ampenan dan kemudian pindah ke Mataram, dikepalai oleh seorang Asisten Residen.

Untuk menjalankan roda pemerintahannya, maka di Mataram pun dibangun kantor beserta rumah Asisten Residen. Rumah Asisten Residen bertempat di area rumah dinas gubernur saat ini, sementara kantor Asisten Residen berada dan masih digunakan sebagai Makodim 1606.

Karena kantor Asisten Residen sebagai pusat pemerintahan, maka di depan kantor ini ditentukan sebagai Titik Nol. Kilometerpaal yang merupakan architectural heritage ini dibagun oleh Burgerlijke Openbare Werken atau Departemen Pekerjaan Umum dan masih kokoh berdiri hingga kini.

Tak hanya sebagai penanda administratif daerah, paal tersebut juga menandakan titik awal perencanaan pembangunan kota pada jaman kolonial. Sebagaimana halnya di kota lain, sebut saja Yogyakarta sebagai contoh, di sekeliling Titik Nol itu dibangun berbagai landmark.

Di Yogya Titik Nol dikelilingi oleh bangunan kolonial seperti Bank Indonesia, Kantor Pos Besar, Gedung BNI, Istana Negara, Seni Sono, Benteng Vredenburg dan lain sebagainya. Di Mataram pun sejatinya demikian juga, di mana di sekitar Titik Nol tersebar bangunan Belanda seperti kantor Asisten Residen, rumah Asisten Residen, gedung sekolah Belanda HIS, Monumen Perang Lombok, Gereja Katolik, kantor dan rumah Kontroler Onderafdeling Lombok Barat, Gedung Gereja Protestan, Gedung Pola dan lain sebagainya.

Sayangnya, hampir semua gedung-gedung yang pernah menjadi landmark Kota Mataram tersebut sudah tidak dapat kita lihat lagi. Digerus atas nama pembangunan. Beruntung Makodim 1606 masih tetap memelihara dan menjaga bentuk kantor Asisten Residen beserta Titik Nol-nya.

Untuk itu kita patut angkat topi untuk seluruh jajaran Kodim 1606 yang telah berupaya menjaga keasrian sekaligus keaslian dari bentuk bangunan tua Kantor Asisten Residen Afdeling Lombok tersebut. Salut pantas kita berikan kepada Kolonel Arm Gunawan S.Sos., M.T., atas berbagai upayanya untuk perduli pada proses konservasi, preservasi dan restorasi berbagai peninggalan sejarah yang ada.

Kini Titik Nol kilometer Mataram telah pulih kembali dan tampil menawan. Pengawasannya kita titipkan pada jajaran Makodim 1606 karena bagaimanapun juga Titik Nol dan kantor Asisten Residen (Makodim) adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan sejarahnya.

Pemberdayaan dan pengembangannya kita serahkan kepada para pemangku kepentingan. Titik Nol ini memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi magnet heritage tourism sekaligus juga landmark ikonik bagi masyarakat serta para wisatawan, sebagaimana yang terjadi di kota-kota lainnya.

Mungkin suatu waktu anda perlu berfoto di Titik Nol Mataram, untuk mengabarkan pada dunia bahwa di Mataram pun kita memiliki pusat gravitasi sekaligus magnet bagi heritage tourism. (*)