Legenda Siti Nurbaya ‘Menjual’ Pariwisata Kota Tua Padang

Mungkin ada, tetapi barangkali bukan bernama “Jembatan Siti Nurbaya”.

Seandainya pula novel itu tidak pernah terbit, legenda Gunung Padang di sisi bibir mulut Batang Arau (Muaro) tidak pernah disebut orang. Tumpukan bukit yang menjorok ke laut itu tak ubahnya bukit-bukit yang tidak mengandung cerita. Namun, gara-gara novel itu, banyak orang datang mendaki Gunung Padang, berwisata, sekaligus “berziarah” ke pusara Siti Nurbaya.

Pertanyaannya, adakah pusara itu?

Tentu, jawabannya, tidak ada! Sebab, Siti Nurbaya hanya ada dalam alam imajinasi pengarangnya, Marah Rusli.

Siti Nurbaya tidak pernah dilahirkan dari rahim perempuan mana pun di alam nyata, tetapi novel itu mewakili apa yang sedang terjadi dan dialami perempuan-perempuan di zamannya.

Kalaupun di Gunung Padang disebut-sebut ada sebuah pusara di goa batu yang konon berkubur jasad Siti Nurbaya, itu tak lain hanya berupa petilasan, dengan tujuan menarik minat pengunjung (wisatawan) datang, berwisata, menikmati keindahan alam Kota Padang dari puncak bukit itu. Memang, dari ketinggian Gunung Padang, hamparan laut dan panorama Kota Padang yang berdinding Bukit Barisan sangat memukau di penglihatan. Apalagi pantainya. Indah menawan. Garis pantai itu panjang terbentang.

Siapa yang diuntungkan dari ketenaran nama Siti Nurbaya?

Tentu para pengelola pariwisata, termasuk masyarakat Kota Padang—Sumatra Barat umumnya—sebagai penerima dampak ekonomi di industri itu. Orang bukan saja datang berjalan dan melihat-lihat, tetapi juga melakukan transaksi jual beli, baik di lepau-lepau, rumah makan, penginapan, pasar, dan berimbas ke sektor-sektor penting lainnya.

Ketenaran nama Siti Nurbaya yang telah melegenda, jauh sebelum itu, “dikalahkan” dengan Legenda Batu Malin Kundang di Pantai Airmanis. Malin Kundang si Anak Durhaka, yang tidak mengakui ibu kandungnya, setelah sukses menjadi saudagar kaya raya di rantau, dikutuk ibunya menjadi batu setelah ia pulang ke kampung halaman. Tubuh Malin Kundang dan puing-puing pecahan kapalnya “membatu” di bibir pantai itu.

BACA JUGA:  Saya Bersaksi, Ade Armando Rajin Salat

Beratus tahun kemudian, orang berbondong-bondong datang ke Pantai Airmanis, sebab diundang rasa penasaran, seperti apa seorang anak manusia yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya.

Pertanyaannya lagi, benarkah Malin Kundang ada di alam nyata?

Jangan-jangan, batu berbentuk orang bersujud dengan pecahan kapalnya yang juga sudah membatu di Pantai Airmanis Padang itu hanya “produk pandai-tangan” seniman di masa lampau saja, lalu dibumbui cerita pemanis bibir, kemudian didongengkan kepada anak-anak sebelum tidur? Dongeng itu mengandung muatan moral agar anak tak melawan atau tak durhaka kepada kedua orangtuanya. Buktinya, kisah itu masih melekat kuat di ingatan kolektif banyak orang dan ampuh menjadi kabar petakut kepada anak-anak, sehingga menjadi lebih sayang dan menghormati ayah dan ibunya.

Sejarah tentang peristiwa dikutuknya Malin Kundang menjadi batu tidak kita temukan. Tidak ada bukti otentik. Keilmiahan kisah Malin Kundang diragukan.

Namun, dampak positifnya, cerita “Malin Kundang”—seperti halnya “Siti Nurbaya” dan cerita-cerita rakyat lainnya di Minangkabau, pun di daerah lain—telah menjadi pendulang pundi-pundi uang di dunia pariwisata. Sudah menjadi rahasia umum, ketenaran nama suatu objek wisata, bernilai jual tinggi. Bagi orang pariwisata, ini produk yang dapat dikemas dan dipromosikan ke luar Sumatra Barat. Buktinya, keberadaan legenda-legenda itu benar-benar ampuh mengundang minat wisatawan datang.

Karya sastra—khususnya novel dan cerita rakyat—ternyata, bukan sekadar bacaan hiburan pembunuh waktu di kala senggang. Karya-karya itu, jika digandengkan dengan kerja kreatif pariwisata akan mendatangkan keuntungan bagi masyarakat. Persoalannya, pengelola atau pelaku pariwisata jeli atau tidak memanfaatkan peluang itu. Yang dikhawatirkan, para pelaku pariwisata—terutama pemerintah daerah—, “kurang peduli” dengan adanya cerita-cerita itu, atau tidak mau tahu.

BACA JUGA:  Surat Terbuka Untuk Kapolda NTB

Ini juga salah satu momen yang ditangkap Pemerintah Belitong ketika novel populer “Laskar Pelangi” yang ditulis Andrea Hirata meledak di pasaran, di zamannya, kemudian difilmkan. Pembaca dan penonton film yang terinspirasi dari novel itu berbondong-bondong datang ke Belitong karena hasrat penasaran ingin melihat keindahan pantai dengan hamparan batu-batu besar seperti diceritakan di dalam novel dan divisualkan di dalam filmnya. Tidak hanya itu, lokasi syuting film “Laskar Pelangi” serta adat budaya Belitong yang menjadi latar dalam novel dan film tersebut menjadi daya tarik lain bagi wisatawan yang berkunjung.

Bayangkan, sebelum novel itu ada, Belitong tidak setenar sekarang. Sejak Andrea Hirata sukses menerbitkan trilogi “Laskar Pelangi”, industri Pariwisata Belitong ikut terbantu, sebab novel itu otomatis menjadi media promosi gratis yang ampuh untuk menjual industri pariwisata ke luar Belitong.

Sumatra Barat punya potensi serupa. Sejumlah film yang diadopsi dari kisah-kisah di dalam novel karya pengarang-pengarang Sumatra Barat pernah dilayarlebarkan. Menyebut beberapa judul, di antaranya “Sengsara Membawa Nikmat”, “Di Bawah Lindungan Ka’bah”, “Tenggelamnya Kapal van Der Wijk”, dan beberapa film lain, telah melambungkan nama Sumatra Barat di pentas pariwisata dunia serta mengundang penasaran orang untuk beramai-ramai datang melihat keindahan alam Ranah Minang.

Maka, buku-buku sastra yang memiliki muatan kearifan lokal yang terkait-hubung dengan pariwisata, patut menjadi perhatian pemerintah daerah, khususnya di Sumatra Barat. Pemerintah bisa “berjualan” di sini, di samping tidak menutup mata memberi apresiasi kepada pengarangnya.

Pemerintah daerah di Sumatra Barat perlu mendata, mendokumentasikan, mencetak ulang, lalu menjadikan buku-buku sastra pengarang-pengarang Sumatra Barat sebagai cenderamata wisatawan sehingga penyebarannya lebih luas. Sesuatu yang langka jika setiap tamu yang datang diberikan buku, apalagi buku fiksi, kecuali cenderamata berupa plakat yang terkadang hanya menjadi benda mubazir dan teronggok begitu saja di lemari sebuah ruangan. Memang ada nilainya, tapi kosong dari narasi.

BACA JUGA:  Tuak, Minuman Tradisional Lombok Warisan Kerajaan Karangasem?

Narasi sebuah kota melalui buku akan tersebar ke berbagai pelosok membawa nama Ranah Minang, seperti halnya legenda Batu Malin Kundang atau kisah Siti Nurbaya. Selain itu, konversi karya fiksi terutama cerita rakyat yang dibukukan dapat pula dialihmediakan atau dialihwahanakan ke bentuk-bentuk karya seni lain, seperti film pendek, film layar lebar, animasi (komik), lukisan, fotografi, maupun membuat monumen-monumen miniatur yang diletakkan di lokasi-lokasi di mana sumber cerita rakyat (fiksi) itu muncul, dan menjadi petunjuk wisatawan yang kemudian secara oral berwujud media promosi kota dari “cerita mulut ke mulut”.

Banyak hal dapat dikembangkan dari memberdayakan potensi sastra (cerita rakyat) melalui penulis-penulisnya untuk mendukung geliat industri pariwisata di masa depan selain jejak sejarah lain yang sudah melekat dan menjadi ingatan kolektif masyarakat.

Kepedulian pada potensi karya sastra yang dapat mendukung industri pariwisata ini harus menjadi perhatian pemangku kebijakan. Lihatlah bagaimana tingginya penghargaan dunia (UNESCO) kepada sastrawan yang lahir di Padang Panjang, A.A. Navis, dan merayakan hari kelahirannya (meski perayaan itu “masih sepi” di Padang Panjang) sebagai salah satu peringatan dunia. Navis yang penulis Minang itu menjadi pembicaraan di mana-mana, yang tentu saja, mengundang ketertarikan banyak orang untuk datang berkunjung, melihat, berkegiatan di daerah di mana pengarang itu berasal. Ketika orang berbondong-bondong datang, di situlah industri pariwisata turut menggeliat, dan tentu, yang diuntungkan adalah pemerintah daerah dan masyarakat setempat.