Selao

“Basarasok gurumu nan, no tama ko akal (ngawur gurumu itu, tidak masuk akal, bahasa Samawa),” kata salah seorang teman, usianya lebih tua, yang kerja serabutan di terminal Alas, Sumbawa, setelah mendengar penuturan saya.

Kami akhirnya satu pemikiran. Tak ada cerita air minum diperjualbelikan. Sebab di Alas, air minum bisa didapatkan cuma-cuma. Yang mentah maupun yang sudah dijerang. Saya sering minta air selao (gentong atau tempayan dari tanah liat) pada orang-orang Sasak (dari Apitaik, Pancor, Kelayu, Rumbuk, dan Ampenan) yang bermukim di kecamatan ini. Kalau di Sumbawa disebut petinang. Ai petinang. Rasanya sangat menyegarkan tenggorokan. Dahaga seketika lenyap. Tubuh segar kembali dan terhidrasi.

Di sungai juga ada air minum gratis. Bukan air kali yang diminum langsung. Beberapa meter dari sungai banyak ditemukan lubang kecil. Di Sumbawa disebut buin. Berisi air yang sangat jernih juga terasa sejuk. Air yang tak habis-habisnya. Pasir dan kerikil menjernihkan air yang merembes dari aliran sungai.

BACA JUGA:  Deflasi Lotim Minggu III Desember 2023 Terbaik Pertama di Indonesia   

Di rumah, ayah membuat sumur permanen. Bagian sisinya hingga dasar sumur diberi penguat pasangan batu bata agar tidak mudah longsor. Mengambil airnya tidak menggunakan timba, tapi ayah memasang pompa. Merknya Dragon. Tak hanya kami sekeluarga yang menggunakan air sumur itu, tapi juga para tetangga. Air yang juga gratis. Dan sumur itu tak pernah kering walaupun terus diambil airnya.

Lalu di akhir 1980-an, produk Aqua muncul di Alas. Dijajakan di terminal. Orang-orang merasa asing, melihat cairan bening yang berada dalam botol plastik. Bukan berwarna-warni, seperti limun buatan Tauke Anden dalam botol kaca.

Respons orang-orang yang menganggap air minum mustahil dijual pun beragam. Mungkin jika sejak awal orang-orang tahu isinya air minum, produk itu sulit laku.

BACA JUGA:  Komisi IV DPR RI Persoalkan Anggaran Pengadaan Ayam Lokal dan Babi

Syahdan, sekelompok remaja patungan untuk membeli sebotol Aqua yang sensasional itu. Botol telah dibuka, tapi satu pun belum ada yang berani meminumnya. Akhirnya seseorang menuang sedikit isinya ke tutup botol.

“Bagaimana rasanya?” teman-temannya bertanya.

“Kayak air rasanya.”

Guru saya benar. Ternyata setelah bertahun-tahun kemudian air dalam kemasan muncul di kota kecil kami. Aqua mengawalinya, lalu diikuti merk lainnya.


Setelah menetap di Mataram, saya sudah meminum bermacam merk air mineral. Saya juga pernah terlibat dalam publikasi awal produk air minum lokal Narmada Awet Muda.

Selama belasan tahun air minum dalam kemasan bersaing di pasaran. Ini mulai menurun sejak pertengahan 2000-an. Orang-orang yang sudah bergantung air minum tersebut, sebagian beralih pada air isi ulang. Harganya jauh lebih murah. Di mana-mana bermunculan jasa memproses air yang siap untuk diminum yang menggunakan sejumlah merk perangkat filtrasi. Tinggal bawa galon kosong, ditukar dengan galon yang telah berisi air minum.

Namun peralatan filter kini bukan benda yang menghebohkan lagi. Di kota-kota besar, gaya hidup menggunakan air yang disaring mulai bergeser, sejak munculnya branding tentang air minum alami yang diawali sebuah produsen di Jawa Barat. Disebut-sebut, air dalam kemasan yang dipasarkan itu dari mata air langsung, bukan hasil proses peralatan canggih. Air langsung dari alam, dari kawasan yang belum tercemar. Begitu promosinya. Hebatnya, harga sebotolnya yang hanya sekitar 500 ml, hampir sepuluh kali lipat dibanding air mineral biasa. Saya pernah mencobanya beberapa botol. Sempat beredar saat even MotoGP Mandalika setahun lewat. Air minum yang mulai ngetren. Lantas, apa bedanya dengan air selao? Airnya juga dari sumber air yang masih cukup terjaga. Apalagi di Pulau Lombok dan Sumbawa belum banyak industri yang berkontribusi dalam pencemaran lingkungan.

BACA JUGA:  Heger: Bule Pertama yang Melancong ke Lombok

Saya sudah jenuh menjajal bermacam merk produk air. Saya kini sedang mencari selao yang bisa bertahan lama. Saya rindu meminum air yang disimpan di benda itu. (*)