Musim Kawin, Musim Telih Kembang Komak

Setiap malam, selama hampir dua minggu ini, saya selalu menggigil. Udara dingin terasa menembus hingga ke tulang. Orang-orang Sasak menyebutnya musim telih kembang komak.

Di Lombok, tanaman komak, jenis kacang-kacangan dengan nama Latin lablab purpureus yang sedang bekembang (berbunga), menjadi penanda datangnya kemarau. Ini berlangsung sejak Juni hingga Agustus, di mana udara bisa turun hingga 20 derajat celcius.

Di musim dingin ini diikuti kabar para lajang yang melangsungkan pernikahan. Musim yang bertepatan dengan lebaran haji (Idul Adha). Zulhijjah, satu dari empat bulan dalam perhitungan almanak Qomariyah yang disebut bulan-bulan haram. Haram, maksudnya terlarang untuk melaksanakan peperangan. Sehingga keagungan Bulan Zulhijjah mesti dijalani dengan aktifitas yang mulia dan merealisasikan niat-niat yang baik. Misalnya menghelat acara perkawinan atau khitanan.

BACA JUGA:  Prangko Indonesia Tahun 1978 Bergambar Masjid Al Aqsha Palestina

Ada telih (dingin) kembang komak, ada pula kain motif kembang komak. Apakah cuaca dan selimut berhubungan erat secara kultural sehingga nama komoditas ini teradopsi, saya belum banyak telusuri. Yang pasti, kain kembang komak sedang banyak digunakan di Lombok untuk bertahan menghadapi cuaca ekstrem.

Tapi, tentu selimut tak dibutuhkan mereka yang sedang dalam suasana pengantin baru. Tiba-tiba saya prihatin pada diri sendiri. Lha, saya tak punya selimut kembang komak. Sementara bulan madu saya sudah lewat seperempat abad lalu. Maka saya orang paling menderita di saat-saat ini.

BACA JUGA:  MISTERI WALI AMAT (1)

Bicara tentang kembang komak, saya teringat saudara tua Lalu Bayu Windia — saya memanggil Ketua Pelaksana Harian Majelis Adat Sasak (MAS) ini Miq Bayu. Suatu hari, sambil menyetir menuju villanya di Pantai Gerupuk, sekitar dua kilometer dari sirkuit Mandalika, ia banyak bercerita tentang pengalamannya semasih aktif memimpin beberapa dinas.

Miq Bayu selalu membawa serta kain kembang komak ke mana-mana setiap tugas luar. Begitu pula ketika ia ke Rusia, membawa misi mempromosikan NTB sebagai kawasan potensial penanaman modal.

BACA JUGA:  Tuak, Minuman Tradisional Lombok Warisan Kerajaan Karangasem?

“Ternyata, kain kembang komak itu bisa berfungsi paling optimal saat kita ke Sembalun,” Bayu menyebut kawasan di kaki Rinjani yang memiliki temperatur paling rendah di Lombok.

Saya membayangkan Miq Bayu yang menggigil sendirian ketika itu. Dipakai tiga lembar sekaligus pun, kain kembang komak jelas tak mempan. Dan, saking dinginnya, komak pun barangkali tak bisa tumbuh di negeri Beruang Merah itu. Di Rusia, yang ada hanya kembang es, dengan temperatur bisa menembus minus 50 derajat celcius. (*)