Paus Lombok

Di awal 2017, seekor paus sperma (physeter catodon) betina terdampar di pesisir Gili Batu, Lombok Týimur. Paus berbobot 5 ton ini ditemukan telah mati. Setahun kemudian, paus jenis sama ditemukan terdampar di Pantai Tabuan, Jerowaru, Lombok Timur. Panjangnya 10 meter lebih, dengan berat 10 ton. Lalu, baru-baru ini, di awal Maret 2024, ý lagi di perairan Lombok Timur, persisnya di y Mbang Mbangan, Pringgabaya. Paus ini jauh lebih besar, panjangnya 15 meter. Yang menggembirakan, mamalia laut ini masih hidup. TNI dan Polri dibantu warga berhasil mengevakuasi hewan yang dilindungi ini ke tengah laut.

BACA JUGA:  Amoek Sesela 1897

Temuan-temuan itu semakin memperkuat catatan sejarah tentang kekayaan perairan Lombok yang menjadi incaran pihak asing.

Dan bukan hanya Belanda dan Jepang yang punya histori kelam terkait ekploitasi di kawasan ini. Amerika Serikat pun terlibat.

Pada 1840-an, banyak kapal penangkap ikan paus dari Amerika menuju Lombok. “The Nautical Magazine and Nabal Chronicle” yang terbit di tahun 1843 menyebutkan, awak-awak kapal tersebut juga berbelanja di Pulau Lombok, membeli perbekalan yang berkualitas namun harganya murah.

Perburuan paus diperkirakan telah dimulai secara tradisional sejak 3000 SM oleh masyarakat Inuit di Atlantik Utara dan Pasifik Utara. Namun baru ramai dikomersilkan sejak abad 17.

BACA JUGA:  Legend of The Gang Bawi

Empat negara paling dominan memburu paus, masing-masing Inggris, Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat.

Hingga abad ke-18, populasi paus secara global tercatat 1,1 juta ekor.

Paus sperma menjadi incaran, karena di bagian kepalanya mengandung banyak minyak yang mencapai 2000 liter per ekor. Dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik, pengerjaan kulit, pelumas, pembuatan lilin, kain pembalut, obat oles, dan masih banyak lagi. Dengan nilai uang sekarang, minyak dari satu ekornya saja harganya miliaran rupiah.

Perburuan hewan ini sempat surut ketika minyak bumi ditemukan. Namun kembali marak setelah perang dunia II, yang dipicu kelangkaan minyak.

Paus banyak ditemukan di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, termasuk perairan Hindia Belanda, kini Indonesia. Amerika sendiri membantai paus di perairan Indonesia sejak 1761 sampai 1920.

BACA JUGA:  Telah Terbit, Buku Biografi Maestro Dalang Lalu Nasib AR

Di Buku “The Mariner’s Mirror” yang disunting Leonard George Carr Laughton, Roger Charles Anderson ‎William, dan Gordon Perrin, disebutkan jadual rutin perburuan paus sperma di selatan Pulau Jawa dan perairan Lombok. Itu berlangsung empat bulan setiap tahunnya, yaitu sejak Bulan Nopember hingga Maret.

159 tahun lamanya para pemburu paus dari negeri Paman Sam mengeksploitasi perairan Lombok. Dari catatan ini dapat diperkirakan berapa nilai hasil kekayaan laut kawasan ini yang dinikmati pihak asing. Dan itu baru satu spesies saja. (*)