Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer

Oleh : M Chairul Anam

Judul. : Filsafat Ilmu Klasik hingga kontemporer Penulis : Dr Akhyar Yusuf Lubis, Editor. : Tim pondok Penyuntingan, Edisi : Cetakan ke 7, Januari 2020

BAB 1 Sebuah Perkenalan Singkat

Pada bab ini mengkaji berbagai pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam filsafat dibahas. Mulailah membahas apa itu filsafat. Filsafat didefinisikan sebagai pencarian kebijaksanaan atau pengetahuan yang tiada henti. Bab ini juga membahas periodisasi filsafat Barat meliputi periode Helenistik, periode abad pertengahan, periode modern, dan periode postmodern atau kontemporer. Kemudian membahas tentang cabang-cabang filsafat, ciri-ciri berpikir dan cara meneliti filsafat, metode filsafat dan manfaat filsafat. Kajian filsafat secara intensif membangun kemandirian intelektual, mengembangkan toleransi terhadap berbagai sudut pandang, dan membebaskan kita dari jebakan dogmatisme.serta mempelajaran manfaat mempelajari sebuah Pendidikan filsafat shingga tidak memberikan kesalah pahaman dalam pemhaman maksud sebuah filsafat


BAB 2 Epistemologi


Pada bab ini mengkaji tentang Epistemologi,  yakni episteme yang berarti pengetahuan, dan logos berarti ilmu, ulasan, atau teori. Jika definisikan, epistemologi artinya cabang filsafat yang berkaitan dengan sifat, asal, karakter serta jenis pengetahuan. Epistemologi pada dasarnya merupakan upaya evaluatif dan kritis tentang pengetahuan (knowledge) manusia. Hospers mengemukakan sumber pengetahuan terdiri dari enam, yaitu persepsi atau pengamatan indrawi, memory atau ingatan, akal dan nalar, introspeksi, intuisi, otoritas, prakognisi, clairvoyance, dan telepati. Epistemologi mengkaji secara filosofis tentang asal, struktur, metode, validitas dan tujuan ilmu pengetahuan. Ia menjelaskan apa yang disebut kebenaran serta kriterianya dan menjelaskan cara yang dapat membantu diperolehnya kebenaran itu

BACA JUGA:  SelaparangTV: Peringkat Tiga LPPL TV Terbaik Nasional 2021


BAB 3 Filsafat Ilmu Pengetahuan


Pada bab ini mengkaji perbedaan ilmu dan ilmu pengetahuan serta menjelaskan perbedaan ilmu sehari-hari dan ilmu pengetahuan. Pengetahuan adalah pemikiran, gagasan, dan pemahaman manusia tentang dunia dan segala isinya. Sedangkan sains adalah suatu jenis pengetahuan yang mempunyai ciri, metode, dan sistematika tertentu. Pada bab ini juga menjelaskan ciri-ciri ilmu pengetahuan dari sudut pandang tokoh-tokoh seperti Berlingg, Ban Melsen dan lain-lain. Menjelaskan konsep-konsep yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, dilanjutkan dengan penjelasan istilah-istilah penting dalam filsafat ilmu, metode ilmiah, dan hipotesis berbagai konsep ilmiah

BAB 4 Rasionalisme Klasik dan Modern


Pada bab ini mengkaji tentang pemikiran para tokoh rasionalis, baik yang hidup pada zaman klasik maupun modern. Pembahasan rasionalisme pada masa klasik dibahas oleh filosof seperti Plato, sedangkan pembahasan rasionalisme pada masa modern dibahas oleh filosof René Descartes dan Baruch Spinoza. Menurut beberapa pembahasan asionalisme yang dikemukakan oleh para filosof, semuanya meyakini bahwa bahasa akal adalah sumber utama ilmu pengetahuan. Rasionalisme lebih banyak membahas pertanyaan-pertanyaan yang bersifat epistemologis. Menurut Plato, realitas yang selalu berubah adalah realitas dunia material (fenomena alam) sedangkan realitas sempurna terdapat dalam dunia gagasan. Sedangkan rasionalisme modern seperti yang dikemukakan oleh René Descartes, rasionalisme diartikan sebagai upaya mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandang rasional (proporsional).


BAB 5 Empirisme Klasik dan Modern


Pada bab kelima ini mengkaji tentang empirisme klasik dan modern. Pembahasan empirisme di era Klasik diwakili oleh tokoh filsuf Aristoteles, sedangkan untuk pembahasan empirisme di era modern yang dibahas adalah dari pandangan Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke, dan Barkeley. Pada bab ini juga untuk pembahasan di era modern dimasukkan juga pemikiran dari tokoh filsuf Roger Bacon yang hidup pada abad pertengahan. Pemikiran tentang empirisme dari tokoh filsuf Roger Bacon juga sama dengan pemikiran dari tokoh-tokoh filsuf lainnya. Empirisme berasal dari Bahasa Yunani empiria, empiros yang berarti pengalaman.

BACA JUGA:  Dinilai Bermasalah, MUI Minta Beberapa Acara Puasa Ramadhan Stasiun TV Dihentikan


BAB 6 Positivisme, Positivisme Logis, dan Siklus Empiris


Pada bab keenam ini berfokus mengkaji mengenai positivisme dan positivisme logis. Pembahasan positivisme yang dibahas berfokus pada pendapat filsuf Auguste Comte, yang dikenal dengan bapak positivisme. Dari pemikiran Auguste Comte membahas seputar pengaruh positivisme sampai dengan pada kelemahan dari positivisme. Sedangkan pada pembahasan positivisme logis membahas beberapa pandangan dari tokoh positivisme logis, ajaran pokok positivisme logis, pemikiran-pemikiran yang mempengaruhi positivisme logis, hingga prinsip verivikasi positivisme logis yang bisa dijadikan tolak ukur untuk menentukan bahasa ilmiah. Istilah positif adalah sesuatu yang dapat diuji atau diverifikasi oleh setiap orang yang mau membuktikannya. Positivisme Auguste Comte hanya menerima pengetahuan fakta positif yaitu fakta yang terlepas dari kesadaran individu.

BAB 7 Pemikiran Kuhn dan Pluralisme Paradigma


Pada bab ketujuh ini mengkaji tentang pemikiran paradigma dari tokoh filsuf Kuhn. Di bab ini terdapat pembahasan tentang plularisme paradigma berdasarkan hasil pemikiran dari Thomas Samuel Khun mengenai pemahaman tentang prinsip ketidaksepadaan dan plularisme paradigma. Kuhn mengemukakan paradigma adalah pandangan dasar tentang pokok bahasan ilmu. Paradigma berkaitan dengan pendefinisian, eksemplar ilmiah, teori, metode, serta instrument yang tercakup di dalamnya. Dalam bab ini juga membahas dan menjelaskan pemikiran Kuhn yang telah memberikan sumbangan pemikiran serta pengaruh yang sangat besar bagi post positivisme dan epistemology postmodern dengan plularisme paradigma ilmiah.

BACA JUGA:  Dewan Pers Apresiasi Pemilu Pilpres 2024 Berjalan Lancar dan Sukses

BAB 8 HermeutikaPada bab kedeplapan ini mengkaji tentang kajian hermeutika sebagai bagian dari filsafat yang memiliki asumsi dasar yang berbeda dengan positivisme. Membahas secara mendasar pengertian dari hermeutika, Secara etimologi, hermeutika berasal dari kata “hermeneuin” yang berarti menafsirkan atau seni memberikan makna. Sejarah hermeutika, membahas mengenai hermeutika sebagai pandangan atau paradigma baru dalam filsafat, dan mengenai pemikiran-pemikiran dari tokoh filsuf hermeutika.


BAB Fenomenologi


Pada bab kesembilan buku ini membahas mengenai fenomenologi. Fenomenologi memiliki asumsi dasar yang berbeda dengan positivisme. Pada bab ini juga dijelaskan secara jelas pengertian dari fenomenologi, dan pemikiran-pemikiran dari tokoh-tokoh fenomenologi. Fenomenologi terbentuk dari kata fenomenom yang berarti sesuatu yang menggejala dan logos yang berarti ilmu. Fenomenologi berarti ilmu tentang fenomena pembahasan tentang sesuatu yang menampakkan diri. Fenomenologi juga terkadang disebut dengan ilmu tentang makna. Dalam pandangan fenomenolog, dunia kehidupan adalah semesta tanda-tanda yang memerlukan penafsiran yang tidak pernah selesai. (*)