Sugriwa: Pemilik Kelompok Media Gemini FM Berpulang

MATARAMRADIO.COM, Mataram – Insan penyiaran NTB berduka. Adalah Sugriwa Pimin , pengusaha media Siaran di NTB dikabarkan meninggal dunia pada Kamis (25/11) sekitar Pkl. 20.00 WIT di sebuah rumah sakit di Jakarta.

Kabar meninggalnya Pak Sugriwa disampaikan oleh Dimas Valentine, salah seorang penyiar senior NTB yang juga kerabat dekat almarhum.”🌀 berita duka::: sekilas info ✓ pak Tie Sugriwa meninggal dunia malam ini sekitar pukul 20.oo di Jakarta. informasi selanjutnya masih menunggu berita dari pihak keluarga almarhum. 🙏,”demikian tulis Dimas Valentine di Grup WA Komunitas Tenda Siar NTB yang juga diterima redaksi MATARAMRADIO.COM, Kamis tadi malam (25/11).


Berita duka Bos Besar Radio Gemini 101 FM Dangdut Station ini sontak membuat kaget banyak kalangan khususnya insan penyiaran dan seniman lokal di NTB. Ucapan belasungkawa pun seketika menghiasi ranah media sosial, disampaikan oleh mereka yang mengaku dekat dan sangat kehilangan atas kabar meninggalnya almarhum.


Maklum Sugriwa yang akrab disapa Pak Tie adalah pengusaha radio ternama di Mataram sejak era 80-an. Selain mendirikan Radio Gemini FM, almarhum juga pendiri Radio Idola AM Pancor Lombok Timur, Radio Fresh 95.9 FM, Radio Mayapesona FM, Bima FM Kota Bima dan perusahaan rekaman Sri Record yang dikenal konsisten memproduksi lagu daerah Sasak Lombok.

BACA JUGA:  Selamat Jalan Hj Verawaty Fajrin, Legenda Bulu Tangkis Indonesia

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi tentang rencana pemakaman almarhum.

foto: istimewa

Kesaksian Mereka Tentang Sugriwa

Salah seorang mantan Personil Band Indie Lombok Tragic Lunch, Doddy Wahyu Wibowo mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya Sugriwa yang disebut sangat berjasa mendukung kiprah band lokal Lombok era 90-an.”Turut berduka cita.. Beliau adalah salah satu sosok yang sangat mensupport tragiC Lunch dimasa itu. Bahkan sempat memperbaiki kualitas rekaman album pertama TL (Pionir). Saat itu beliau dan almarhum Pak Made sering berdiskusi dengan saya dan Ari Wibowo tentang musik. Beliau juga menerima TL (Tragic Lunch) untuk memutar lagu-lagu TL di Radio Mayapesona miliknya. Terimakasih Pak…

Selamat jalan Pak Sugriwa, hormat saya kepada Bapak,”tulis Doddy dalam status terbaru di akun facebooknya.

Hal senada diungkapkan Muhammad Shafwan, Musisi dan Seniman Lombok lainnya.
Ia menuturkan pengalamannya masuk dapur rekaman di studio Sri Record milik almarhum. “Di studionya 1987, kami rekaman lagu perjuangan NW pertama kali dibantu Abah Mark Bages . Banyak sekali perannya dalam dunia rekaman musik lokal, selamat jalan . Semoga damai dengan segala kebajikannya,”kenang Shafwan.


Redaktur dan Jurnalis Senior SUARA NTB Marham Ham juga menyampaikan dukacita dan kesan mendalam.”Turut berdukacita. Beliau selama ini telah membantu melestarikan budaya lokal NTB, khususnya Sasak Lombok, lewat jaringan siaran radio dan musik Sasak lewat Sri Record… Bahkan, di Radio Gemini, Idola — sebelum ada Fresh dan Maya Pesona, kami saat kecil menikmati suguhan sandiwara radio yang masih membekas hingga saat ini. Selamat jalan Pak Sugriwa,”katanya.

BACA JUGA:  Biografi Singkat Almarhum Prof Dr Harry Azhar Azis MA, Mantan Ketua BPK

Salah seorang karyawan almarhum di Radio Mayapesona FM Dessy Dpl berkisah.”Bossku, tempat curhatku,guru dan orangtua bagiku 😭😭. Kalau ada masalah apapun beliau selalu mensupport dengan kata-katanya yang selalu bijak dan penuh semangat. Masih tak percaya karena terakhir ketemu sama beliau pas beliau anterin kunci ke studio Pesona, dari studio langsung ke rumah sakit untuk diopname 😭..,”tulis Dessy di akun facebooknya.

foto: istimewa

Yudhi Buster, Marketing Manager Miru Production, sahabat almarhum dan sama-sama menjadi Pengurus Asosiasi Perusahaan Rekaman Lokal Lombok menggambarkan kepribadian almarhum Sugriwe sebagai pribadi yang asyik orangnya. “Saat transisi dari produksi casset tape ke VCD beliau sering diskusi dengan saya di Berugak Miru. Maklum Pak Sugriwe belum berani mengambil keputusan mengalih produksi dari kaset tape ke VCD. Karena masih melihat situasi di lapangan..ALhasil ada beberapa album yang dirilis Sri Record daam bentuk VCD laku keras di pasaran seperti Pesisir Endoq dan lain-lain. Pak Sugriwe juga Sekretaris dari Asosiasi produser dan rekaman lagu Sasak, pendapatnya sering kali kami jadikan rujukan dalam mengelola keluarnya album baru agar dipasaran tidak terkesan saling tindih… Selamat jalan Pak. RIP,”ulas Yudhi.

BACA JUGA:  Meninggal Dunia di Usia 58 Tahun, Selamat Jalan Prof Sunarpi


Dimas Valentine, Penyiar Senior NTB yang kini masih bersiaran di Sutra Bandar Dangdut Lombok 93.6 FM mengungkapkan kenangannya tentang sosok almarhum yang sangat baik. “Almarhum tidak sama prilakunya seperti “cingkoren-cingkoren” pada umumnya terhadap pribumi. terlebih-lebih kepada rekan-rekan sesama broadcaster (baca: orang radio 🤭); ramah, familiar, sangat menghargai lawan bicaranya, pendengar yang baik, humoris, tidak pernah menyekat antara senior junior, disiplin, dan masih banyak lagi 😢,”tuturnya.

Nana Apriana Mahdan, Penyiar Senior Produa FM RRI Mataram juga memberi kesaksian.”Innalillahiwainnailaihiraajiuun…. , 😭Om Tie orang baik, beliau broadcaster sejati, sahabat baik almarhum bapak, Na kenal beliau darinkecil, dari SD waktu sering ikut produksi sandiwara sasak recording di Gemini, beliau sangat cinta dunia radio… Paling na inget selalu kirim parcel dan kartu lebaran kebrumah tiap hari raya,”kenang Nana.
Selamat Jalan Pak Sugriwa, salah satu maskot, tokoh penyiaran NTB yang sangat peduli dengan pelestarian budaya daerah NTB. (EditorMRC)