Nestapa Kuburan di Durjana KEK Mandalika

Seperti kata Amat Ocong “Jangan salahkan orang lapar tidak bertuhan.”

Saya sangat faham risiko, konsekuensi pembangunan. Saya juga sedikit faham risiko kebijakan politik. Hampir semua kaum terpelajar mempunyai pengetahuan dan pengalaman terkait hal ini. Jadi, dari sudut pandang yang ini, seandainya gugusan ikan di lautan selatan dan rerambitan nyawa manusia terkorbankan demi pembangunan Kek Mandalika, itu ialah biasa. Sekali lagi itu sangat biasa.

Karena itu saya ingin bicara dari sudut pandang yang lain. Dari ruang bagaimana konsep kuburan bagi orang Sasak. Jauh sebelum orang Sasak beragama Islam, mereka sudah mempunyai konsep yang cukup kuat tentang kuburan. Bukan hanya sebagai tempat peristirahatan terakhir seperti lazimnya dalam pandangan Islam. Kuburan malahan ialah pintu baru bagi orang Sasak. Pintu untuk bertemu dengan leluhur yang pertama dan utama. Karena kuburan ialah pintu baru untuk menembus ruang dan waktu (leluhur dan sejarah mereka), salah satu tempat kehormatan orang Sasak itu ialah kuburan.

Oleh: DR Salman Faris

Itulah sebabnya, orang Sasak mempunyai kepandaian luar biasa dalam memilih tempat dan jenis tanah yang dipergunakan sebagai kuburan. Bukan sembarang tempat dan tanah. Kuburan sekurang-nya harus berada di tempat yang lebih tinggi dari tempat tinggal atau tempat beraktivitas lainnya. Jika di Jawa, bahkan dalam kebudayaan lama Korea, kuburan raja selalu di tempat paling tinggi sedangkan kaum yang lain di tempat yang lebih rendah, berbeda dengan orang Sasak. Amat samar perbedaan orang terpandang dengan sebaliknya. Semua golongan berada dalam level yang sama di kuburan. Jadi, segala golongan orang Sasak berada di tempat yang tinggi. Meskipun ada pengaturan posisi atau penempatan masing-masing kubur, itu tidak mempengaruhi konsep dasar orang Sasak tentang kuburan, yakni tempat yang lebih tinggi.

BACA JUGA:  Sasak Dalam Amuk Deras Neoliberalisme

Tentang pilihan tanah pula, ialah tanah terbaik. Bercirikan tanah liat kering. Seperti kebudayaan Korea, orang Sasak juga mengenali, mengilmui, mempercayai yang tanah kering liat ini ditakuti oleh binatang tanah pemangsa. Selain itu juga kurang mengandungi air. Dengan begitu, orang Sasak berharap jenazah mayat akan bertahan lebih lama sebelum benar-benar rusak dan menyatu dengan tanah.

Jadi, memutuskan suatu tempat sebagai kuburan, oleh orang Sasak, memerlukan tata cara tertentu dan tidak serta-merta. Diperlukan waktu yang cukup lama karena tidak setiap kepingan tanah memenuhi syarat sebagai kuburan. Dalam hal ini, sumber daya orang Sasak bersatu padu, mereka yang berakal kuat bersama-sama dengan mereka yang mempunyai ilmu gaib tinggi. Bahkan ada syarat yang wajib ada, yakni kuburan tidak boleh terletak di tempat yang tertutupi dari sinar matahari. Syarat wajib inilah yang kemudian menjadi rujukan kualitas sekaligus kekuatan.

BACA JUGA:  Sasak Dalam Amuk Deras Neoliberalisme

Konsep kuburan orang Sasak sedikit menyerupai konsep Karangasem Bali. Semasa berkuasa dahulu di Lombok, hanya satu tempat yang berkaitan dengan orang Sasak yang tidak dibumihanguskan Karangasem Bali, yakni kuburan. Karena mereka juga sangat menghormati kuburan. Ini pula yang menjadi jawab kegelisahan sejarah orang Sasak tentang artefak, tentang peninggalan peradaban mereka yang sangat kontras dengan Karangasem Bali di Mataram dan dengan peradaban lain. Jika Karangasem Bali, Sumbawa dan Bima dapat menunjukkan bukti kehebatan panjang peradaban mereka melalui aristektur istana kerajaan, berbeda halnya dengan orang Sasak yang, memang kosong. Nihil.

Musnah total akibat penjajahan panjang yang dialami orang Sasak. Namun pusat-pusat peradaban Sasak yang disebutkan dalam babad, dalam cerita lisan, dalam dongeng dan legenda, hampir keseluruhannya mempunyai peninggalan kuburan. Yang paling terkenal adalah Selaparang dan Pejanggik. Sebenarnya Sakra, Praya, dan Kuripan juga masih terjejak melalui kuburan yang ada. Sebab Karangasem Bali samasekali tidak menyentuh kuburan tersebut. Seperti yang saya singgung di atas, disebabkan oleh kemiripan konsep tentang kuburan.

Dengan kata lain, ada tiga hal yang dapat dijumpai dalam kuburan Sasak. Pertama sejarah panjang mereka, silsilah mereka, dan yang terutama sekali ialah kehormatan mereka sebagai orang Sasak. Tonggak terakhir harga diri, kehormatan, dan peradaban orang Sasak. Orang Sasak sejati boleh menjual sawah hingga tanah rumah mereka, namun tidak mungkin menjual kuburan mereka.

BACA JUGA:  Sasak Dalam Amuk Deras Neoliberalisme

Jadi, kehebatan Kek Mandalika ialah berhasil mengubah atau melonggarkan keteguhan orang Sasak dalam cara pandang mereka tentang kuburan. Ratusan tahun dalam kekuasaan Karangasem Bali, kuburan orang Sasak tidak disentuh walaupun hanya sedebu tanah kuburan, namun oleh kekuatan dan kekuasaan Kek Mandalika, kuburan dibeli. Dipindahkan ke tanah tanpa melalui syarat keadaban kehormatan orang Sasak.

Apakah Kek Mandalika yang benar-benar kuat dan hebat atau kehormatan orang Sasak yang sudah berubah seharga uang? Saya tidak dapat menemukan larasan yang pasti. Sebab kepastian itu, kini, ialah kuburan di kawasan Kek Mandalika itu sudah dibeli dan dipindahkan ke tanah dan tempat yang entah sesuai dengan konsep orang Sasak mengenai kuburan.

Kalau tidak sesuai. Maka sudah jelas, simbol kehormatan terakhir orang Sasak pun sudah kapitalistik, oportunistik, dan pragmatik.

Lalu, apa lagi yang dapat diharapkan dalam hidup sebagai manusia Sasak yang tiada kehormatan.

Ternyata kita masih lapar setelah ratusan tahun memang selalu dalam kelaparan, semeton jari.

Malaysia, 10 April 2021