Ekonomi Perilaku: “Phishing for Phools”    

 Dalam editorial kali ini kita membahas sebuah buku ekonomi perilaku berjudul “Phishing for Phools”. Buku ini diangkat sebagai editorial karena dipandang mampu menjelaskan berbagai krisis ekonomi termasuk krisis finansial yang dialami Amerika Serikat pada tahun 2008.

Buku itu ditulis pada tahun 2015 oleh dua orang ahli ekonomi Amerika Serikat yaitu George A. Akerlof, Profesor ekonomi dari Georgetown University peraih Nobel Ekonomi tahun 2001 dan Robert J. Shiller, Profesor ekonomi dari Yale University peraih Nobel Ekonomi tahun 2013.

Dalam ekonomi pasar bebas sebagaimana diajarkan Adam Smith dalam karyanya “Wealth of Nations” pada tahun 1776 bahwa dengan adanya “invisible hand” setiap orang bebas bersaing untuk mengejar kepentingannya sendiri.
       Menurut Akerlof dan Shiller bahwa pasar bebas justru melenceng dari ajaran Adam Smith karena adanya “Phishing” yakni orang dipengaruhi bukanlah untuk mengejar kepentingannya sendiri, tetapi untuk kepentingan orang lain. Dan orang-orang yang terpengaruh untuk memenuhi kepentingan orang lain disebut “Phools”. Lebih jauh Akerlof dan Shiller menjelaskan bahwa ada 2 (dua) penyebab kenapa orang bisa dimanipulasi dan ditipu untuk memenuhi kepentingan orang lain, yakni emosi dan informasi.

BACA JUGA:  Potret Nilai Tukar Petani NTB 2019-2020

Setiap orang memiliki kelemahan, ketika emosinya lebih dominan dibandingan akal sehat, ia gampang dimanipulasi dan ditipu. Disisi lain, orang juga mudah dimanipulasi dan ditipu ketika ia memperoleh informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, ekonomi perilaku “Phishing for Phools” itu juga dikenal sebagai “Ekonomi Manipulasi dan Penipuan”.                                       
       Dalam konteks informasi, Akerlof meraih Nobel Ekonomi pada tahun 2001 berkat teori informasi asimetrik dalam karyanya “The Market for Lemons”. Akerlof membahas informasi asimterik dalam kaitannya dengan pemasaran mobil-mobil berkualitas jelek atau mobil kacangan yang di Amerika Serikat dikenal dengan “market for lemons”. Dalam pasar seperti ini, nilai rata-rata barang atau produk cenderung turun bahkan untuk barang atau produk yang tergolong berkualitas bagus. Dalam karyanya Akerlof membagi mobil kedalam empat kelompok yakni mobil baru, mobil bekas, mobil bagus dan mobil jelek. Mobil baru bisa saja berkualitas bagus atau jelek. Demikian pula dengan mobil bekas juga bisa berkualitas bagus ataupun jelek. 

BACA JUGA:  Gempita PON Papua dan Prestasi NTB Gemilang


       Lebih jauh Akerlof menyatakan bahwa di satu pihak pemilik mobil berkeinginan menjual mobil berkualitas jelek dengan harga mobil berkualitas bagus. Di pihak lain, pembeli menginginkan mobil berkualitas bagus tetapi ia memperoleh mobil berkualitas jelek. Artinya barang yakni mobil dengan kualitas yang berbeda dijual dengan harga yang sama karena pembeli tidak mengetahui informasi yang cukup untuk menentukan kualitas yang sebenarnya pada saat membeli. Akibatnya, terlalu banyak barang yakni mobil yang berkualitas jelek dan terlalu sedikit mobil yang berkualitas bagus dijual di pasar atau dengan perkataan lain, barang-barang berkualitas jelek akan menggeser barang-barang berkualitas bagus. Akibatnya penjual yang benar-benar menjual barang berkualitas bagus menjadi tidak laku karena hanya dinilai murah oleh pembeli dan akhirnya pasar akan dipenuhi oleh barang-barang berkualitas jelek.(*)

BACA JUGA:  Gonjang Ganjing Adendum Pengelolaan Aset Pariwisata Gili Trawangan