NU Muhammadiyah Nahdlatain: Sopo Sila Sabua Aren Sak Dulang

Sebelum diteruskan, saya ingin note terlebih dahulu mengenai penggunaan “Nahdlatain” yang merujuk kepada NW dan NWDI. Saya tidak mau menggunakan kedua istilah tersebut sebab takut keliru dan mengelirukan. Saya menulis NW, misalnya, dapat keliru karena dapat ditafsirkan tidak menyertakan NWDI. Hal yang sebaliknya dapat berlaku jika saya menulis NWDI, dapat dimaknakan seolah NW tidak diturutsertakan. Jadi, setiap perbincangan mengenai kedua organisasi kemasyarakatan tersebut, saya akan menggunakan Nahdlatain.

Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Kiyai Haji Ahmad Dahlan, dan Maulanassyekh mempunyai persamaan. Sama-sama belajar di Mekah, beberapa guru yang sama, aktif dalam pencerahan serta kebangkitan ummat, dan terlibat dalam pergerakan kemerdekaan. Jadi jika ada upaya pengikut ketiga ulama (baca:ulamak) tersebut yang hanya pandai membedak-bedakan, maka boleh jadi ada ruang terputus dalam memahami ketiga ulama tersebut. Ruang terputus tersebut berpotensi menimbulkan sesat pikir di kalangan mereka yang suka melain-lainkan.

Dalam pasal politik, pada konteks NTB (bahkan Indonesia), kita tak dapat mengelak, kadang nampak benang pembeda antara NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain. Namun tak dapat disangkal, dalam ruang pendidikan, sosial, dan dakwah, ketiga organisasi kemasyarakatan ini mempunyai derap tuju yang sama. Karena itu, sebaiknya tidak menggunakan cermin politik untuk melihat NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain.

Hari Ahad, 9 Mei 2021 terjadi momentum yang amat mulia dan mencerahkan. NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain berada dalam satu forum (sopo sila sabua aren sak dulang). Membincangkan ummat, bangsa, dan pergolakan sosial terkini yang sedang dihadapi ketiga ormas tersebut. Pentingnya berpihak kepada masa depan masyarakat, mengutamakan kepentingan bangsa, mereka menjalankan penandatanganan nota kesepahaman. Adakah ini sesuatu yang baru?

Seperti yang saya katakan di atas, jalinan NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain sudah terjalin sejak dari Mekah (salah satu literatur yang sahih terkait ini ialah karya ilmiah Prof. Adi Fadli). Ketiga pendiri belajar pada beberapa guru yang sama, mempelajari kitab yang sama, hidup dalam zaman yang sama, di mana Mekah dalam situasi pergolakan politik kekuasaan. Mereka pulang ke Indonesia dengan semangat perubahan dan pengabdian yang sama.

BACA JUGA:  Tragedi KRI Nanggala 402 dan Wasiat Jitu Maulanassyeikh Hamzanwadi

Kesamaan tersebut mengikat mereka hingga turun-temurun. Generasi NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain yang tercerahkan mewarisi semangat ketiga tauladan tersebut.  Meskipun kita tak dapat juga mengelak yang, ada beberapa pengikut yang fanatik buta, terjebak ke dalam menyendirikan ketiga ormas tersebut karena urusan fiqih, misalnya. Namun sangat banyak pewaris yang tercerahkan. Mereka menikmati tanpa merasa mengganggu dan terganggu oleh perbedaan cara pandang terhadap urusan tertentu.

Di NTB, misalnya. Pergesekan yang merugikan tidak pernah terjadi. Banyak generasi mudah NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain membangun kekerabatan yang amat karib. Mengasah pemikiran dari sudat pandang masing-masing tanpa mengecilkan pihak lain.

Sebagai contoh, saya, Fairus Abu Macel, dan Dedy Mujaddid sudah bersahabat dalam dua dekade ini. Meskipun ada perbedaan usia yang tak terlalu jauh, namun dalam pertukaran pemikiran terjadi kesetaraan.

Saya dibesarkan dalam kultur Nahdlatain. Abu Macel tumbuh berkembang di lingkungan NU. Dedy berkembang dalam budaya Muhammadiyah. Selama berpuluh-puluh tahun kebersamaan itu, begitu banyak kegiatan pemikiran dan pengabdian yang sudah dilakukan tanpa sedikit merasa yang, kami lahir dari kultur yang berbeda.

Dedy sangat sering dilibatkan dalam forum NU yang diadakan oleh Abu Macel. Bahkan lebih dari itu, Abu Macel menokohkan Dedy di kalangan anak muda NU. Generasi Muhammadiyah yang memang sangat layak sebagai intelektual yang diterima di semua kalangan. Dedy juga tidak merasa terkekang melibatkan Abu Macel di forum Muhammadiyah. Padu padan yang utuh sebagai bentuk kesadaran kolektif keummatan.

Sebelum saya berburuh ke Malaysia, cukup lama saya mengajar di Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT). Bahkan bisa jadi, saya akan mengabdi lagi di sana sekembali saya dari berburuh. Sepanjang pergaulan saya di lingkungan akademik UMMAT, tak ada setitik pun saya merasa terganggu atau sahabat yang di UMMAT merasakan ketidaknyamanan. Sekali lagi, hal ini terjadi karena ada kesadaran mendalam tentang peranan masing-masing mengenai pembangunan kemasyarakatan.

BACA JUGA:  Pembenci TGB: Haters Studies (Towards The Enlightenment Reborn)

Menjawab pertanyaan adakah pertembungan mulia antara NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain sesuatu yang baru? Saya tidak ingin mengatakan baru, sebab yang paling sesuai ialah momentum tersebut sebagai salah satu titik kulminasi imajinasi tentang tanggung jawab besar yang sama antara ketiga ormas tersebut. Imajinasi yang sudah jelas sudah diletakkan secara dasar oleh ketiga pendiri. Bahwa NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain mempunyai tanggung jawab yang sama dalam urusan kebangsaan dan keummatan.

Mengambil peran penting melalui budaya masing-masing tanpa saling mengecilkan. Apalagi saling meniadakan merupakan keburukan terkeji. Perkara inilah yang wajib ditransmisikan ketika menarik tanggung jawab bersama tersebut ke ruang yang lebih spesifik, yakni NTB.

Transmisi tanggung jawab ke wilayah lokal sebenarnya tak pernah henti. Terus mengalir sejak pertama. Misalnya, Maulanassyekh, Tuan Guru Abhar Muhidin, dan ayahanda Mudjitahid. Meskipun mereka hidup dalam zaman yang sedikit berbeda, namun mereka ialah representasi Sasak yang berkontribusi membangun peradaban keummatan melalui payung yang berbeda. Sebagai tokoh Muhamadiyah NTB, ayahanda Mudjitahid menunjukkan kelas tertinggi dalam pengembangan pemikiran dan kemajuan masyarakat tanpa mengerdilkan ormas yang lain.

Salah satu yang amat menarik pada diri ayahanda Mudjitahid ialah etika kebudayaannya sangat NU dan Nahdlatain meskipun dalam darah beliau mengalir cahaya Muhammadiyah. Beliau ialah model yang sangat agung dalam soal kesetaraan dan kebersamaan ormas ini.

Pernah ayahanda Mudijatahid (ketika beliau masih menjadi Bupati Lombok Barat) dikira menghalangi pengajian Maulanassyekh di Lombok Barat. Dalam banyak kesempatan konfirmasi, beliau menegaskan yang, itu adalah fitnah keji. Beliau menguatkan yang dirinya dan Maulanassyekh ialah bangsa Sasak, mempunyai tanggung jawab yang sama mencerahkan masyarakat dan haram bagi mereka untuk saling menghalangi. Bahkan, beliau menguatkan yang, jika ada ribuan pengajian Maulanassyekh di Lombok Barat, beliau dengan penuh seluruh memberikan dukungan.

Sebagai pendiri Pondok Pesantren Darul Falah Pagutan, Tuan Guru Abhar Muhidin juga tidak kalah komit terhadap tanggung jawab yang sama. Membangun masyarakat dalam payung yang berlainan namun tujuan yang sama. Dasar karakter inilah yang kemudian membentuk budaya kuat Pondok Pesantren Darul Falah hingga kini berkaitan kesamaan dan kebersamaan tanggung jawab antara NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain dalam membangun keummatan. Maka, Pondok Pesantren Darul Falah ialah salah satu contoh modal sahih satu lembaga pendidikan di bawah payung NU yang mengamalkan keterbukaan dan kedamaian (Ponpes Almansyuriah Ta’limussibyan NU Bonder, juga sebagai model terbaik). Siapa saja boleh bersila di sana.

BACA JUGA:  Maulana Mewasiatkan NW Kepada Anaknya Ialah Meragukan

Tentu saja, sebagai salah satu bentuk pewarisan kesadaran tanggung jawab bersama dalam keummatan, momentum penandatangan kesepahaman antara NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain juga baik dilihat sebagai momentum pengukuhan ketercerahan yang, dampak utamanya dirasakan oleh masyarakat. 

Memang tidak dapat menyamakan apa yang berbeda,  namun perbedaan dapat dibersamakan. Saya membayangkan, kesadaran tanggung jawab yang sama ini melahirkan kekuatan kemuliaan yang tidak dapat dikalahkan.

Satu situasi yang sangat berkeadaban jika selepas ini, di mana acara Muhammadiyah dihadiri oleh NU dan Nahdlatain (tanpa diundang sekalipun) sebagai salah satu ekspresi kesejatian komitmen yang, ketiga ormas ini sudah tak dapat dipisahkan lagi dalam membangun keummatan.

Siapa pun inisiator sopo sila sabua aren sak dulang antara NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain, mereka ialah orang yang wajib ditiru. Karena mereka ialah pewaris kemuliaan yang sudah diasaskan oleh pendiri ketiga ormas tersebut. Inisiator merupakan cermin dasar pendirian NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain bertanggung jawab besar dalam pasal kemajuan masyarakat. Mereka yang memandang sebelah mata dengan keruh curiga, patut dilihat sebagai bagian dari cabaran di masa hadapan.

Yang pasti, NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain yang bersatu dalam tanggung jawab ini akan memudahkan langkah masa depan. Segala tujuan yang baik di masa nanti, dapat dengan mudah didekap.

Gunungan permasalahan masyarakat, kini, sudah disahkan berada di atas pundak NU, Muhammadiyah, dan Nahdlatain. Mengayomi, membimbing, mencerahkan, memajukan, membela masyarakat secara berjamaah.

Tinggal menjalankan segala yang sudah digariskan.

Malaysia, 27 Bulan Puasa 1442 H.