Oleh: DR Salman Faris

Sebagai penonton politik, saya perlukan tontonan pertarungan politik yang dramatik: kompleksitas konflik dan rajutan ketegangan yang tak habis-habis. Bukan yang plot linear. Dan jika pertarungan politik beralur monoton, itu tanda yang, aktor politik tak layak di atas pentas.

Mengikuti alur politik di Indonesia yang super longgar, tulisan ini tidak akan menjelaskan dan mengakhiri penjelasan secara penuh kepastian. Pesan dan makna sengaja saya tunda untuk memberikan ruang kepada situasi yang lain dapat berlenggang lenggok. Sebagaimana ketidakpastian di Indonesia, tulisan ini dapat saja berupa kolase-kolase yang tidak berhubungan satu sama lain. Bukan seperti aliran kaum survei yang seolah-olah memberikan kepastian. Dengan kata lain, saking longgarnya Indonesia, kini, kepastian itu hanya ada pada survei. Sedangkan yang lain ialah mengambang.

Tulisan saya yang dimuat koran dan radio online Mataram Radio City pada 5 Oktober 2020 yang berjudul “Kekalahan Makmur Said”: Sudut Pandang Budaya Bukan Politik telah sederhana menguraikan sebab kekalahan Makmur dalam Pilkada di Kota Mararam 2020. Salah satu dasar yang menguatkan kekalahan tersebut ialah karena Makmur sudah kehilangan momentum. Sejarah kebesarannya sudah lewat. Kecendekiawanannya dalam dunia birokrasi sudah dilekang waktu. Selain itu, perebutan pemilih fanatik H. Mohan dengan Tuan Guru Ahyar juga menjadi salah satu pemicu yang signifikan. Tambahan pula, jika Selly cerdas dan berani menggunakan pola kaum Rahmatisme (pola ini saya ambil dari jurus politik Rahmat Hidayat yang, tidak banyak orang tega melakukan itu), maka, guratan kekalahan Makmur nampak jelas. Dan hingga kini, saya masih memegang kandungan pesan dalam tulisan tersebut.

Namun, menarik untuk melihat dan menelaah situasi terkini, terutama setelah melihat dua kali debat yang, Makmur memang secara perkasa menunjukkan kebegawanannya dalam urusan birokrasi. Kesantunan Makmur yang semakin kuat, terlihat jelas dalam debat tersebut. Ditambah pula dengan selewaran-selewaran perang kampanye dalam media sosial dan di daratan. Selain itu, calon lain yang nampak menyiratkan kelemahan dalam berfikir dan bertindak dapat menjadi pemicu bagi pengamat untuk memformulasikan kembali analisis dan sketsa kemenangan calon yang bertarung.

Atas dasar tersebut, saya menyelam kembali ke dalam fenomena politik yang tidak boleh statik, kaku, dan bertiang tunggal dalam pencermatan. Meski banyak yang benci, namun suspensi dan turbulensi yang sangat improvisatorik yang timbul di remah politik menjadi daya tarik tersendiri belantara yang satu ini. Ia menjadi arsiran yang makin eksotis jika mencelupnya dengan amatan budaya. Hal inilah yang melatarbelakangi tulisan ini digoreskan. Dalam ucapan yang lain, di menit-menit akhir, bisa jadi kekalahan Makmur tersebut berubah kemenangan. Lantas apakah pemantik strategis jika Makmur menang?

Pertama, ada sosok Ridwan Hidayat di belakang layar. Pemain birokrasi, dalang aktivis, dan aktor politik yang sudah berkiprah sejak awal 80an dapat dipastikan, tidak ada yang tidak mengenal Ridwan Hidayat. Satu tangkai dengan Tuan Guru Ahyar, namun berbeda falsafah dalam setiap pertandingan. Jangankan hujahan dan tindak tanduk, diri Ridwan Hidayat sendiri ialah sangat “politis”. Segala dirungkai dalam kaca mata strategi. Akan tetapi, setiap kontestasi menjadi menyenangkan karena Ridwan Hidayat sentiasa berlayar dalam kapal kemanusiaan.

Sosok yang sangat pandai menerima tamu, melayani semua jenis dan lapisan orang, sangat bijaksana dalam mendengar keluhan masyarakat. Dalam dunia malam, dia serupa dengan Tuan Guru Ahyar, menghidupi malam dengan bercengkrama bersama beragam orang di rumahnya. Keadaan ini tidak berhenti setiap malam dalam 360 hari bertahun-tahun. Mau ada gawe politik atau pun tidak, rumahnya selalu menjadi tempat ziarah orang ramai. Kopi, gula, rokok, dan makanan ringan tak pernah habis di rumahnya. Dia selalu mengatakan, “jamaah yang datang itu membawa sendiri apa yang diperlukan”. Satu kiasan yang menggambarkan betapa dalam ia meyakini Alloh Yang Maha Pemurah sebagai sumber rizki karena pintu rumahnya tak pernah terkunci.

Sosok inilah yang tak mungkin diam. Dengan keramahan dan kebaikan hatinya, tanpa diminta pun, orang yang datang ke rumahnya, pasti bersedia melakukan yang terbaik untuk kemenangan Makmur. Satu lagi, dalam banyak hal, sosok ini dinaungi keberuntungan. Banyak hal besar yang dia dapatkan tanpa pertarungan yang berdarah-darah. Karena itu, pergumulan Ridwan Hidayat yang panjang dalam kontestasi politik dan biroraksi, pasti banyak memberikan kontribusi mengubah guratan kekalahan Makmur tersebut.

Kedua, pemilih Pagutan. Salah satu tempat pemilih Sakral Tuan Guru Ahyar ialah Pagutan. Sekecil pengalaman saya, amat jarang calon yang dapat masuk ke Pagutan secara leluasa. Bahkan ketika dulu Tuan Guru Ahyar berpasangan dengan H. M. Ruslan dan setelah itu dengan H. Mohan, Pagutan membuka pintu karena ada Tuan Guru Ahyar. Masyarakat Pagutan sangat maju dalam berfikir, secara ekonomi mereka bukan penyumbang kemiskinan yang besar di Mataram, namun dalam soal kefanatikan, mereka tak mudah digoyahkan untuk berpaling dari Tuan Guru Ahyar. Mereka meyakini, Pagutan dan Dasan Agung mempunyai sejarah dan guru yang sama. Dalam konteks ini, misalnya, Tuan Guru Ahyar dengan Tuan Guru Mustiadi Abhar ialah saudara kultural yang amat susah dipisahkan. Persaudaraan yang terus menguat hingga ke anak mereka.

Ketiga, meskipun Mataram ialah tempat paling metropolis di Nusa Tenggara Barat, namun di kalangan tertentu, hubungan budi pekerti masih menjadi dasar utama. Dalam perkara ini, hubungan Tuan Guru Ahyar dengan para orang tua di Mataram dapat menjadi biduk pengubah guratan kekalahan Makmur. Para orang tua, terutama Tuan Guru sepuh yang secara kharismatik mempunyai pengaruh besar dalam keputusan pemilih, masih merasakan hubungan yang sakral dengan Tuan Guru Ahyar. Meskipun Tuan Guru Ahyar tidak secara langsung meminta mereka, namun ikatan batin mereka menjadi penentu. Etika menjadi landasan utama hubungan yang amat susah dijelaskan menggunakan rumusan teori ini. Bahkan seandainya pun di kalangan para sepuh, sosok Makmur bukan pilihan yang tepat, namun Tuan Guru Ahyar secara kuat menjadi pengikat keputusan mereka.

Walau bagaimanapun, peluang kekalahan Makmur juga besar. Seperti yang saya singgung di atas, faktor tersebut juga satu keniscayaan yang tak boleh ditampik oleh Makmur. Lantas apa yang menyebabkan kekalahan Makmur dapat benar-benar terjadi dan kenapa kemenangan juga dapat diraih?

Jika Makmur tidak benar-benar pandai mengelola dan menggunakan ketiga hal yang saya sebutkan di atas dan sumber-sumber lain yang berpotensi memenangkannnya, maka kekuatan tersebut pun berpotensi menjadi senjata makan tuan. Misalnya, dapat saja jamaah setia Ridwan Hidayat berasumsi yang, jika Makmur tak cerdik mengakomodir, kenapa tidak Ridwan Hidayat saja yang didorong maju sebagai calon walikota. Jadi, Makmur sebaiknya mempunyai kesadaran bahwa sekaliber apa pun dirinya, ia tak dapat memenangkan pertarungan. Dengan begitu, mesti tumbuh kesadaran yang Ridwan Hidayat ialah sosok penting. Selain itu, sebaiknya Makmur dapat melakoni etika politik Tuan Guru Ahyar dalam mengelola setiap hubungan dengan tokoh sentral dan sesepuh yang selama ini tidak pernah berpaling dari Tuan Guru Ahyar. Mengenyampingkan ego sebagai Makmur Said berpotensi sebagai juru kunci. Sebab dalam berbagai arena, pertarungan simbolik (melalui sosok Ridwan Hidayat, sesepuh, dan pemilih Pagutan), misalnya, secara kultural berpihak kepada Makmur.

Meskipun begitu, apabila kontestasi Pilkada Mataram 2020 didominasi oleh jurus Rahmatisme yang, tanpa ronde dan ring itu, maka antitesa baru pun berpotensi muncul. Dalam dunia yang amat longgar ini (untuk menggambarkan kelonggaran ini saya ingin mencontohkan yang, tiba-tiba Nikita Mirzani dapat menjadi lawan setanding Habib Riziek. Padahal mereka berada di kelas dan harga pasar yang jauh berbeda. Atau ruang di mana buzzer jauh lebih berkuasa dibandingkan polisi dan tentara). Gaya joget politik yang tanpa ronde dan tiada ring ala Rahmatisme dapat jauh lebih beruntung dibandingkan petarung normatif yang menggunakan jurus secara struktural. Namun amat disayangkan, lawan Makmur, sejauh ini pun masih positivis. Mengelap diri dengan gincu lalu berhias denga rumbaian lampu. Ketika Nikita Mirzani dihadirkan sebagai calon presiden Indonesia 2024 di atas dasar kelonggaran Indonesia yang super duper. Malahan lawan Makmur masih bermain di nada normatif. Nada dering politik yang menjemukan. Belum ada lawan yang habis-habis masuk di ruang pertarungan yang tanpa ronde dan tiada ring ala kaum Rahmatisme. Mereka lupa, jika mereka terus bermain gincu-gincuan itu, Makmur dapat menang dengan mudah. Maka boleh jadi, jika Makmur menang karena lawan yang terlelap itu, yakni lawan Makmur yang masih yakin yang, kata-kata dapat menipudaya. Lawan yang tidak menjalankan bahwa tipu daya jauh hebat dari kata-kata tipuan.

Karena itu, sependek amatan saya, hingga situasi terakhir ini, jurus jitu kemenangan Pilkada Mataram 2020 ialah menggunakan tangan lawan. Menariknya dalam politik, kelebihan dan kekurangan tidak bernama secara jelas. Jadi kelebihan pun dapat menyebabkan kekalahan sebagaimana kekurangan juga dapat menumbangkan.

Dalam dunia Indonesia yang amat longgar ini, petarung yang habis-habisan menggunakan tangannya sendiri untuk menumbangkan lawan ialah jenis petarung yang habis modal hilang laba.

Begitulah rupanya lawan Makmur ini. Berpolitik kok bongoh! Bagaimana Makmur tidak menang.

Malaysia, 16 November 2020