Junaidi Abdillah: Sang Legenda Sepak Bola Nasional Asal Lombok

MATARAMRADIO.COM – Seorang Warganet bernama Imran Aninggali membagikan sebuah artikel di fanpage Kronika citizen journalism tentang sosok seorang pemain sepak bola bernama JUNAIDI ABDILLAH. Ia lahir di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 21 Februari 1948 adalah mantan Pemain Nasional Indonesia.

Pemain yang berposisi sebagai gelandang ini nyaris membukukan sejarah menjadi pemain Indonesia pertama di kasta tertinggi sepakbola Eropa.

Kiprahnya dalam skuad merah putih adalah bagian dari “tinta emas” sejarah sepakbola, beliau pernah merasakan polesan pelatih legendaris Indonesia, Wiel Coerver, juga pernah menjadi bagian dari Tim Nasional Indonesia yang disegani di Asia, termasuk pula bagian dari catatan sepakbola Abdillah adalah menahan keganasan The Red Devils, MANCHESTER UNITED dengan skor imbang
0 – 0.


LOMBOK & NTB tidak ada dalam Peta Persepakbolaan Indonesia. Peta Sepakbola Indonesia hanya berhenti sampai Denpasar, Bali, dimana ada Perseden, Denpasar. Ketika itu, Bali pun sudah memiliki pemain-pemain nasional seperti mantan bek tangguh sekaligus kapten Niac Mitra I Wayan Diana, ada Rae Bawa “gelandang pengangkut air” tim nasional, ada pula I Made Pasek Wijaya penyerang Pelita Jaya yang tajam.

Tetapi ternyata Lombok akhirnya memiliki mutiara terpendam pada diri; Junaedi Abdillah! Ya, Junaedi Abdillah adalah salah seorang gelandang elegan yang pernah dimiliki oleh tim nasional Indonesia, asal Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Junaedi Abdillah menimba ilmu sepakbola sejak masuk Diklat Salatiga awal 1960-an. Teman seangkatannya antara lain Oyong Liza, Sartono Anwar dan penjaga gawang Suharsoyo.

Dari semua peserta Diklat Salatiga seangkatannya, hanya Junaidi Abdillah, Oyong Liza dan Suharsoyo, yang dipanggil PSSI untuk masuk tim nasional Indonesia Yunior ke Piala Asia Yunior 1967.

Di tim Indonesia Yunior ini, Junaedi Abdillah, bergabung bersama pemain yunior lainnya Suaeb Rizal, Abdul Kadir, Waskito dan Bob Permadi. Mereka inilah yang ikut andil mengantar Indonesia masuk final untuk melawan Israel, yang ketika itu, Federasi Sepak Bola Israel masih tergabung di zona Asia, anggota AFC.

Indonesia menjadi juara kedua karena kalah 0-1 dari Israel. Indonesia pernah mengikuti kejuaraan serupa pada Piala Asia Yunior 1961 di Bangkok dan Indonesia keluar sebagai Juara 1.

Keberhasilan menjadi juara kedua Yunior Asia mengantar Junaidi Abdillah dan teman-teman masuk ke tim nasional senior atau PSSI A. Di tim ini, mereka bersaing dengan seniornya seperti Soetjipto Soentoro, Jacob Sihasale, Sinyo Aliandoe.

Dengan tambahan darah segar dari tim Yunior macam Junaidi ini membuat pilihan pemain di tim nasional Indonesia Senior semakin kuat khususnya di lini tengah.

Indonesia yang sejak awal 1960-an telah merajai turnamen-turnamen bergengsi di Asia seperti Merdeka Games, Malaysia; Aga Khan Gold Cup, Dacca, Pakistan Timur (sekarang Bangladesh) semakin optimis untuk meneruskan dominasi sepakbola di benua Asia, dengan kombinasi pemain senior dan darah segar dari alumni PSSI Yunior.

Kejuaraan yang pertama kali diikuti Junaedi Abdillah adalah King’s Cup yang pertama tahun 1968 di Bangkok, Thailand. Indonesia keluar sebagai juara 1, setelah mengalahkan Myanmar 1-0.

Kemudian pada Merdeka Games 1969, Kuala Lumpur, Malaysia, Junaedi Abdillah ikut juga andil mengantarkan Indonesia menjadi juara 1, setelah mengalahkan Malaysia 2-1. Begitu pula Junaedi Abdillah turut mengantarkan Indonesia A menjadi juara Pesta Sukan Singapura 1972, setelah mengalahkan Indonesia B 2-1.

Junaedi Abdillah turut bangga pula ketika Indonesia menjuarai Jakarta Anniversary Cup 1972 dengan mengalahkan tim nasional Korea Selatan 4-2. Karena menurut Junaedi Abdillah ternyata prestasi seperti itu tak bisa diulangi lagi sampai sekarang, maklum sekarang level permainan Korea Selatan sudah masuk level peserta Piala Dunia.

Ada pengalaman yang sangat berkesan sekaligus memilukan pada Junaedi Abdillah. Yakni ketika Indonesia kalah adu penalti melawan Korea Utara pada Pra Olimpiade Montreal, Kanada 1976 di stadion Senayan, Jakarta.

Junaedi Abdillah sendiri, bersama Iswadi Idris, Waskito dan Risdianto berhasil menjebol gawang Korea Utara dan Ronny Paslah berhasil menggagalkan satu tendangan penalti Korea Utara. Tetapi karena dua rekannya yakni Anjas Asmara dan Suaeb Rizal gagal menjebol gawang Korea Utara; Indonesia akhirnya tersisih, kalah 4-5.

Sementara pengalaman yang berkesan baginya adalah selama mengikuti Pelatnas Jangka Panjang, Junaedi Abdillah merasakan ilmu yang diberikan pelatih kelas dunia Wiel Coerver yang menangani timnas Indonesia, begitu bermanfaat dan banyak meningkatkan kemampuan olah bolanya.

Bermain di berbagai kesempatan uji coba selama Pelatnas Jangka Panjang yakni melawan klub kelas dunia Ajax Amsterdam (kalah 1-4) dan melawan Manchester United (draw 0-0) menjadi sebuah pengalaman yang langka.

Dan rupanya, Wiel Coerver pun sangat terkesan dengan kemampuan Junaedi Abdillah bermain membela Timnas. Makanya, Coerver menawarkan kepada Junaedi Abdillah kesempatan bermain di klub profesional Belanda, “Go Ahead Eagles”. Tentu tawaran simpatik ini disambut dengan hangat oleh Junaedi sebagai suatu kesempatan emas akan dapat bermain di Eropa, di klub liga utama Belanda, “Go Ahead Eagles”.

Tetapi sayang seribu sayang, Ketua Umum PSSI, Bardosono, tidak mengijinkan Junaedi Abdillah pergi ke Belanda, dengan alasan yang tidak jelas.

Dan Wiel Coerver pun sangat menyayangkan keputusan Bardosono ini, yang dia anggap tidak masuk akal. Padahal kalau melihat kemampuan Junaedi Abdillah, Coerver yakin karier Junaedi Abdillah akan mendapatkan tempatnya untuk terus berkembang bila bermain di Eropa, di liga utama Belanda.

Yang memang ketika itu kompetisi Eropa dikuasai oleh klub-klub Belanda seperti Ajax Amsterdam dan Feyenoord, klub yang dilatih oleh Wiel Coerver menjuarai Piala UEFA 1974 serta klub PSV Eindhoven. Coerver pun masuk jajaran salah satu pelatih legendaris terbaik Belanda di eranya ketika itu.

Buku yang ditulis Wiel Coerver, Sepakbola Pembinaan Pemain Ideal adalah cikal bakal kurikulum pembinaan sepakbola Indonesia di era 80 dan 90an. Sebelum akhirnya kini PSSI memiliki kurikulum baru sepakbola usia dini Filanesia.(EditorMRC)