Oleh: Buyung Sutan Muhlis

Saya tidak lahir di Pulau Lombok. Tapi, dari ibu saya, wanita Sasak, saya sejak kecil telah mengenal nama tusélak.

“Kami baru tahu perempuan tetangga itu tusélak, ketika dia sakaratul maut. Matanya liar menakutkan. Dia meronta-ronta, berupaya hendak turun dari tempat tidur, tapi orang-orang menahan tubuhnya. Dia nampak kehausan. Tapi ketika diberikan air minum dia menolak. Lalu dia berhasil melepaskan diri. Begitu menginjak tanah dia menjatuhkan diri. Lidahnya panjang terjulur, dan dengan rakus menjilati tanah. Segera setelah itu nyawanya meninggalkan jasadnya. Tusélak belum mati-mati kalau lidahnya belum menyentuh tanah,” tutur ibu.

Tangan kecil saya yang sedang memijat-mijat kaki ibu terhenti. Cerita yang mengesankan. Sosok itu, perempuan seram berambut panjang. Rambutnya menutupi wajah, lalu merangkak dengan lidah terjulur, meneror benak bocah saya, empat puluhan tahun yang lalu.

Ayah saya tak mau kalah. Di daerahnya, di Sumatera Barat, ada makhluk siluman sejenis. “Harimau jadi-jadian, disebut cindaku. Ada juga palasik. Hanya terlihat berupa kepala manusia yang keluyuran, melayang-layang di atas atap,” ucapnya.

Tapi cerita ayah yang paling menarik adalah sebuah tempat paling angker di kampung halamannya. “Di tempat itu, biar siang bolong, kita bisa lihat orang berjalan di depan kita. Lalu tiba-tiba kepalanya menghilang. Tapi tubuh tanpa kepala itu terus berjalan,” katanya.

Di awal 1990an, saya melintasi sebuah perkampungan di Mataram bersama Syam Chandra, seorang wartawan senior. Kami menumpang di sebuah cidomo, kendaraan tradisional yang dihela seekor kuda. Saat itu telah lewat tengah hari.

Pandangan saya berhenti pada sebuah rumah semi permanen tanpa pagar di pinggir jalan. Di teras rumah duduk tiga orang wanita. Seorang yang duduk di tengah menatap saya lekat-lekat. Mata kami bertemu pandang. Masyaallah! Usianya sekitar dua puluhan. Kulitnya putih bersinar. Jika saya saat itu mengidolakan Paramitha Rusady sebagai artis tercantik di negeri ini, perempuan yang duduk di teras itu sepuluh kali lebih jelita. Dia seperti bidadari.

“Cantik, cantik sekali,” saya tak sadar berseru.

Saya terkejut ketika Syam Chandra menepuk paha saya dengan keras.

“Ssssttttt! Buyung!”

Saya tak paham. Lelaki mantan penyiar RRI itu terdengar seperti menghardik saya. Saya terdiam. Pandangan saya beralih ke belakang kendaraan. Debu-debu beterbangan akibat hentakan tapak kuda dan roda cidomo melindas jalan yang belum beraspal.

Ketika cidomo membelok di tikungan, Syam Chandra kembali bicara.

“Kamu tahu, tidak?”

“Kenapa, Pak?”

“Perempuan-perempuan tadi.”

“Iya, kenapa?”

“Salah satunya tuselak.”

Wajah ibu saya di kampung seketika terbayang. Tapi kenapa perempuan yang baru saya lihat itu sama sekali tidak menyeramkan seperti dalam gambaran ibu? Dan saya melihatnya di siang hari.

Saya tak meragukan Syam Chandra. Ia telah lebih dari 40 tahun berdomisili di Lombok. Lagi pula ia pelaku poligami. Tentu banyak mengenal dunia perempuan. Sejak masa muda hingga usia pensiun ia tetap bergairah ingin menambah istri lagi. Walaupun ia sudah memiliki tiga bini.

Mobilitasnya tinggi. Saya percaya, lantaran enerjik dan didukung profesinya, tak ada sejengkal tanah pun di Lombok yang pernah ia lewatkan. Dalam sehari dia bisa berada di belasan tempat. Wajar ia tahu segalanya tentang Lombok.

“Apakah memang ada tusélak yang menampakkan wujud misteriusnya di siang hari?”

Lelaki di depan saya tidak menjawab. Matanya terpejam sambil tangannya memegang erat tiang atap cidomo yang terbuat dari pipa besi. Ia tidur-tidur ayam. Mungkin gula darahnya sedang menanjak melewati batas normal.

Saya tenggelam dalam lamunan. Cidomo terus bergerak. Masih sekitar lima belas menit lagi kami tiba di tujuan.

Jika dia benar tusélak, saya tidak peduli. Dia cantik. Sangat cantik. Jauh lebih cantik dibanding Paramitha Rusady.

Suatu hari seorang kawan bertanya.

“Benarkah kamu berani memacari tusélak?

“Why not?”

“Kamu belum tahu kalau tusélak lagi horny.”

“Sejauh itu saya belum tahu.”

“Dia bisa membabi-buta. Walau sedang menstruasi dia akan paksa kamu melayaninya.”

“Hah!?”

“Dan kamu bakal kerepotan kalau perempuan sélak cemburu. Kamu dibisa dicekiknya.”

“Peduli amat!”

Tapi itu jawaban saya dalam hati. Yang telah saya buktikan, salah satu tusélak lebih mempesona dibanding artis idola. Definisi kecantikan terepresentasi pada sosok dan wajahnya. Itu baru satu tusélak. Dan saya yakin ada banyak lagi yang lebih menawan. Boleh jadi ada yang secantik Jennifer Aniston, Sarah Paulson, Cameron Diaz, dan bintang Hollywood lainnya. Mungkin ada juga yang mirip bintang film Prancis, Mandarin, atau Jepang.

Dan, pada suatu malam, saya pernah mengapeli seorang dara di sebuah dusun. Dara ayu. Sangat ayu. Dan dia… tusélak! Tapi saya akan kisahkan di lain waktu. Saya sudah terlalu banyak menyita episode ini dengan pengalaman saya.

Sekarang, mari kita kembali pada sepasang bule yang sedang penasaran di tepi kali di pinggir belantara sebuah bukit di Lombok.

Musta, salah seorang pemandu Ken Macintyre dan Barbara Dobson, berprofesi sebagai tukang pijat desa. Dari semua pemuda yang turut dalam ritual itu, dia yang paling tua.

Di depan kedua antropolog itu ia mengangkat bajunya. Di pinggangnya terlilit tali tipis dari benang, mengikat sebuah gulungan timah berbentuk tabung. Dia membuka gulungan yang di dalamnya terdapat tulisan menggunakan huruf Arab.

Musta berusaha meyakinkan dua ilmuwan Australia itu bahwa teks itu akan melindunginya dari segala macam roh jahat. Namun jimat itu bisa kehilangan tuah jika tersentuh perempuan.

“Saya bertanya dalam kapasitas sebagai antropolog. Apakah ini bagian dari adat Sasak yang tidak memperbolehkan perempuan untuk melihat jimat keramat?”

Musta menjawab dengan canggung. Ia hanya meyakini penjelasan seorang haji tua yang menjual benda itu padanya. Bahwa itu adalah sabuk khusus yang dipakai hanya untuk pria.

“Meskipun Musta meyakinkan saya tentang keyakinannya pada sabuknya, dia masih tampak cemas dan tetap berada di dekat kami sepanjang malam,” tulis Ken Macintyre.

Keenam anggota pemanggil tusélak duduk dalam kegelapan di sebuah pematang sawah. Ken Macintyre yang tak sabaran menunggu bertanya kepada Bado, mengapa ritual begitu lama dimulai.

Bado melihat arlojinya.

“Masih terlalu pagi! Tusélak baru keluar tengah malam,” jelasnya.

Untuk membunuh waktu, Musta menceritakan sebuah kisah tentang pertemuannya dengan tusélak di suatu malam yang gelap gulita tanpa rembulan. Saat itu ia baru pulang setelah memijat seorang pelanggannya di Ampenan.

Ketika dia hendak melintasi sebuah jembatan kecil, ia melihat seorang lelaki tua berpakaian compang-camping yang muncul entah dari mana. “Saya berpikir, pengemis biasanya sudah tidur pada malam hari selarut ini. Saya gugup. Saya berjalan lebih cepat menyeberangi jembatan. Saat itulah saya mendengarnya berbicara dengan suara gemetar yang melengking. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat wajahnya. Wajah jahat. Matanya merah berlinang air mata. Saya tidak akan pernah melupakan mata merah itu selama saya hidup,” tutur Musta.

Lelaki itu merasakan kakinya gemetar dan darahnya menjadi dingin. Ia kumpulkan tenaga dan mulai berlari. Hidungnya mencium aroma lembab dari tumbuhan yang membusuk. Ia memastikan sosok tua itu adalah tusélak. “Saya berlari semakin cepat, khawatir kaki saya menjadi lumpuh oleh kekuatan makhluk jahat itu. Saya sempat menoleh, tusélak itu mengikuti dari belakang. Paru-paru saya rasanya hampir meledak mencari udara,” lanjutnya.

Sambil berlari Musta tak putus-putus memanjatkan doa. Akhirnya ia sampai juga di rumahnya. Ia segera mengunci pintu, namun tubuhnya masih gemetar ketakutan. “Saya akhirnya selamat. Dan saya harus mengakui jika bukan karena jimat di sabuk saya ini, saya akan mati,” ucapnya, kembali memuji-muji benda keramat yang terikat di pinggangnya yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Kisah Musta dibalas Bado yang tak mau kalah. Ceritanya tentang keluarga yang kehilangan bayi akibat kejahatan tusélak. “Saat semua sudah terlelap, makhluk itu masuk ke dalam rumah. Lalu ia membuat ibu yang sedang tidur dengan bayinya mengalami kededepan,” katanya.

Kededepan yang dimaksudkan Bado, sebuah kata dalam bahasa Sasak. Artinya ketindihan atau sleep paralysis. Suatu kondisi transisi ketika seseorang mengalami kelumpuhan sementara untuk bereaksi, bergerak, atau berbicara, ketika tertidur.

Tusélak itu lalu menguras dengan rakus darah bayi di sebelah ibunya yang tak berdaya, hingga tidak menyisakan barang setetes pun. Ketika sang suami terbangun keesokan paginya, dia menemukan istrinya tidak dapat bergerak dan berbicara, terbaring di samping anak mereka yang sudah tidak bernyawa. “Ada jejak darah menuju ambang pintu,” ujarnya.

Ken Macintyre yang menyimak cerita yang dituturkan Bado merasakan bulu-bulu di belakang lehernya berdiri. “Saya teringat masa muda saya ketika kami biasa bertukar cerita hantu dengan teman-teman di sekitar api unggun di malam hari,” ucapnya.

Saat itulah orang-orang yang berada di perbatasan persawahan itu menyaksikan tubuh besar bule lelaki itu tiba-tiba terjungkal! Ia terjatuh di tanggul terjal tepi sawah.

“Tuan Ken, Tuan Ken, kamu baik-baik saja?”

Rombongan itu seketika panik. Malam semakin merambat. Udara semakin dingin mencekam.

Saya hentikan dulu di bagian ini, di saat sebagian peserta pemburu tusélak berdebat, makhluk apa kiranya yang menyebabkan Ken Macintyre terbanting. Apakah ulah jin, bakeq, atau tusélak licik? Nantikan kelanjutannya di episode mendatang.

Sebelumnya saya ucapkan selamat tahun baru 2021. Semoga tidak ada yang bertemu tusélak, dalam penampakan apa pun. Tapi, bagi yang terus penasaran, mari bersama saya menjelajah malam, menelisik misteri dan ruang-ruang sepi. (Bersambung)