Berdoa Tapi Tak Mengubah Watak dan Perilaku

Oleh: DR Salman Faris

Doa yang kita panjatkan dari kegelapan hati hanya sederajat dengan kumpulan kata. Doa yang kita laungkan dari kesesatan akal hanya setingkat dengan barisan huruf.

Doa ialah senjata utama orang beriman. Jadi dosa besar bagi saya dan orang lain jika melarang doa dipanjatkan. Namun persoalannya ialah adakah doa sudah cukup untuk mengubah keadaan atau untuk menjadikan situasi lebih baik?

Setiap ada musibah, sepanjang ada bencana, selalu saja kita berlomba-lomba berdoa. Sekurang-kurangnya memanjatkan agar Tuhan segera menghilangkan musibah tersebut. Tuhan pasti mendengar doa itu. Hanya saja, boleh jadi doa itu tidak cukup menjadi alasan Tuhan mengabulkan permohonan. Itu bermakna, ada masalah paling substansial yang berlaku. Apakah itu?

Watak kita yang tak jujur mengakui bahwa setiap musibah tidak hanya cobaan tanpa sebab. Watak kita yang dungu menolak mengakui yang setiap bencana pasti berhubungan dengan sesuatu. Meskipun Tuhan mempunyai kuasa mutlak atas sesuatu, namun Ia pasti mempunyai tujuan mengkunfayakunkan sesuatu tersebut. Itulah sebenarnya tugas kita. Menemukan tujuan Tuhan mengirimkan bencana.

Pemimpin yang tidak peka terhadap sakit pahit jerit tindih rakyat yang tiada habis-habisnya mesti diakui secara jujur sebagai salah satu sebab kenapa Tuhan mengirim bencana. Dalam hal ini, kecongkakan kita dengan membelah diri pada faham yang terbagi akan semakin menyulitkan kita menemukan tujuan Tuhan. Semakin tajam membedakan faham yang tidak mau menghubungkan musibah dengan kesalahan kita dengan faham yang secara yakin menghubungkan musibah dengan kesalahan sebagai kesatuan, maka kita semakin jauh langkah menemukan tujuan Tuhan menurunkan bencana.

BACA JUGA:  Tukah Penjuluk Mentaram. Titik!

Pemimpin yang berpesta pora di tengah penderitaan rakyat, pemimpin yang mendapatkan kekuasaan secara haram ialah satu realitas yang marak. Lantas kenapa kita mesti congkak tidak mengakui yang itu ialah sebab Tuhan memusibahkan kita.

Rakyat yang semakin terbelah hanya karena membela pemimpin secara fanatik buta. Meskipun nyata-nyata salah, masih saja dibela sebagai kebenaran. Rakyat yang semakin terjebak ke dalam saling berbantahan. Rakyat yang sudah tahu pemimpinnya tidak amanah dan tak mampu memimpin namun masih juga memberikan kepercayaan. Bahkkan hanya untuk memilih pemimpin tak layak, rakyat menggunakan uang negara. Apakah itu tidak mau dihubungkan dengan musibah. Sungguh congkak kita ini.

Ketika masyarakat terbelah. Terjebak ke dalam jurang saling fitnah yang keji. Hukum dihargakan sampah karena terlalu menggampangkan hukum. Kesalahfahaman sederhana yang boleh diselesaikan secara musyawarah, pun dibawa ke meja hukum. Akibatnya masyarakat saling mendendam. Orang berak di tepi jalan dilaporkan ke penegak hukum hanya karena dendam. Adakah Tuhan menutup mata terhadap realitas tersebut. Sebagai zat yang tak pernah tidur, tak mungkin Tuhan melewatkan setiap kezaliman yang kita buat dalam berbangsa dan bernegara.

BACA JUGA:  Peringatan Untuk Indonesia: Covid 19 Menggila Pada Gelombang Kedua di Malaysia

Tokoh agama terpecah hanya karena kepentingan. Menggunakan hukum Tuhan untuk saling menjastifikasi pikiran dan tindakan. Semua itu pasti tidak dapat dilepaskan dari setiap bencana yang terjadi. Tak mungkin setiap kejadian berdiri sendiri. Semuanya pasti berhubungan dengan watak dan perilaku kita.

Penguasa makan uang rakyat. Rakyat tak punya kekuasaan mengubah keadaan. Padahal, negara bangsa yang paling bar-bar pun menggunakan asas yang sama dengan negara bangsa yang paling maju, yakni rakyat sebagai kekuasaan tertinggi. Namun itu tidak berlaku. Kekuasaan selalu dilihat dari kekuatan yang tergenggam bukan dari ketinggian etika moral. Kekuasaan tidak disematkan secara penuh ke dalam aqidah dan akhlaq. Akhirnya tumpang tindih. Rakyat yang hakikatnya mempunyai kekuasaan tertinggi menjadi kumpulan paling lacur di hadapan pemimpin yang mereka pilih karena pemimpin hanya bertumpu kepada kuasa penindas.

Orang berilmu. Mereka yang berpendidikan tinggi berlom-lomba di perahu kedunguan tanpa berani terjun ke dasar samudera untuk menemukan sejati kebenaran lalu berdiri sebagai kelompok perekat bangsa yang retak. Orang berilmu macam inilah yang paling mendekatkan kita dengan musibah bencana itu. Dan kita tahu, barisan manusia berilmu jenis ini amat berlimpah ruah. Di satu sisi, dijumpai orang berilmu yang hidup dalam kemelaratan akibat ketidakadilan aturan.

BACA JUGA:  SASAK TANPA NENEK MOYANG (Catatan Akhir Tahun Tentang Bangsa yang Terjerumus)

Artis berwatak jahat bertaburan seumpama bintang di muka bumi bangsa yang rapuh secara moral. Mereka bersolek dengan kemegahan sambil memijak wajah pengagum mereka yang tidur di atas comberan. Para idola yang sudah lama kehilangan kemanusiaan.

Media sosial. WhatsApp. Twitter. Facebook. Instagram. Telegram. Tik Tok. Signal. You tube. Dan media sosial lainnya penuh dengan caci maki. Mencaci sesama. Mendengki siapa saja semau perut kita. Telanjangi diri membugili sesama.

Itulah watak kita sebagai individu. Itulah watak kita sebagai masyarakat. Itulah watak kita sebagai bangsa. Itulah watak kita sebagai negara. Dan watak kita yang paling rendah biadab memalukan ialah di tengah watak-watak tersebut, kita tidak mempunyai rasa malu berdoa kepada Tuhan agar bencana musibah dihilangkan padahal kitalah sumber musibah bencana itu. Tanpa malu berdoa tanpa mengubah watak dan perilaku kita.

Sungguh salah kita memahami Tuhan.

Malaysia, 15 Januari 2021