MATARAMRADIO.COM, Mataram – Kabar duka datang dari jagat hiburan daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sang Maestro dan musisi Legendaris Sasak  Al Mahsyar dikabarkan menghembuskan napas terakhir  pada Minggu, 20 September 2020. Kabar meninggalnya sang maestro disampaikan langsung oleh putra almarhum Didik Hariadi Mahsyar.”Innalillahi Wa Innailaihi Raojiun, Telah meningal dunia ayahanda kami bpk. Abdullah Mahsyar pada hari Ahad tgl 20/09/2020, akan dimakamkan pada Hari Senin 21/09/2020 ba’da Zuhur di Pemakaman Umum Selagalas,”tulis Didik dalam status  di akun facebooknya.

Sontak kabar duka itu menuai reaksi netizen yang terkejut dan menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian musisi kawakan lagu daerah Sasak modern tersebut.

Sejumlah pejabat dan kerabat melayat ke rumah duka di Selagalas I Foto: M Huzaini Areka

Ucapan belasungkawa pun mengalir dari berbagai kalangan. Mulai pejabat daerah, seniman, musisi, pemerhati budaya dan masyarakat Lombok yang mengaku kehilangan atas sosok seniman tuna netra yang sangat berjasa mengembangkan budaya dan kesenian daerah  khususnya musik dan lagu Sasak modern.

Al Mahsyar yang punya nama lengkap Abdullah Mahsyar adalah lambang dan legenda perkembangan Lagu Sasak modern. Melalui tangan dinginnnya, tercipta tidak kurang dari 25 album lagu Sasak modern dalam berbagai versi yang di lempar ke pasaran lewat label perusahaan rekaman SRI RECORD. 

Al Mahsyar menerima Anugerah Pengabdian Seumur Hidup dalam ajang Anugerah Musik Lombok 2017 yang diberikan oleh Gubernur NTB kepada putra almarhum I Foto: Istimewa

Melalui grup musik yang didirikannya bernama PELITA HARAPAN. Semakin membuat musik daerah Sasak kian dicintai dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Lagu-lagu yang diciptakan Al Mahsyar hadir dalam berbagai versi mulai  Lagu Dangdut Sasak, Cilokaq, Cironcong (cilokak keroncong) Cibane (cilokal rebane) dan lain-lain. Bahkan karya ciptanya tidak saja dikenal di Pulau Lombok tetapi juga merambah negeri Jiran Malaysia dan sekitarnya.  Karya musiknya menjadi pengobat kangen diaspora Sasak di seluruh dunia. Beberapa karya musik dan lagunya yang sangat terkenal diantaranya Lalo Ngaro, Pelih Petitis, Tandak Ngujak, Selemor Ate, Nasib Pengerakat, Begolohan dan masih banyak lagi yang lainnya.

Al Mahsyar lahir di Lepak, Sakra Timur, Lombok Timur Nusa Tenggara Barat pada tahun 1953. Almarhum merupakan putra ketiga dari empat bersaudara. Di usia tiga tahun, Al Mahsyar kecil tertular cacar dari ibunya hingga menyebabkan dirinya tuna netra dan ibunya meninggal dunia.

Almarhum Al Mahsyar bersama sang isteri yang setia menemani hingga akhir hayat.

Al Mahsyar yang merupakan adik kandung politisi senior NTB Mesir Suryadi, diketahui mulai memainkan alat musik dari umur lima tahun dan pada waktu itu tampil di salah satu desa di Lombok Tengah yang dihadiri Gubernur. Al Mahsyar kemudian dikirim pemerintah untuk sekolah ke Denpasar karena pada waktu itu di NTB belum ada sekolah untuk tuna netra. Sepulang dari sana, Al Mahsyar langsung mendirikan sekolah tuna netra pertama di NTB dan merekrut siswa-siswanya untuk bergabung di Orkes Musik Pelita Harapan.

Atas dedikasi dan karyanya mengangkat musik daerah Sasak, Al Mahsyar menerima Anugerah Pengabdian Seumur  hidup pada ajang Anugerah Musik Lombok pada 2017.

Jenazah almarhum Al Mahsyar menurut rencana akan dimakamkan pada Senin, 21 September 2020 setelah Shalat Zuhur di Pemakaman Umum Selagalas, Mataram.

Selamat jalan Sang Maestro.Karyamu akan selalu melegenda sepanjang masa. (Editor MRC)