Politik Pengetahuan dan Modal Pengetahuan (Sasak yang Selalu Hilang)

Satu dua tahun terakhir ini, cukup deras semangat beberapa kalangan orang Sasak untuk mendapatkan sumber rujukan atau bacaan mengenai sejarah mereka. Kelompok ini terdiri dari golongan berpendidikan, meskipun mereka bukan semuanya berlatar belakang filologi, sejarah, arkeologi, antropologi dan ilmu sosial laninnya. Namun mereka mempunyai kemampuan yang baik untuk mendapatkan data yang diperlukan.

Dari data yang diperoleh kemudian mereka membangun diskusi yang juga cukup menarik. Berdasarkan latar belakang masing-masing, mereka menganalisis data tersebut dan membuat kesimpulan yang meskipun belum final, namun sekurang-kurangnya dapat memberikan titik terang dari perspektif mereka. Sampai di sini, sebenarnya tidak tampak ada masalah yang berarti. Karena sejauh ini, pertama, mereka mendapatkan data yang cukup baik. Kedua, mereka membuat diskusi yang berterusan. Ketiga, mereka juga melahirkan tulisan yang diolah dari data yang diperoleh. Keempat, mereka berani membuat kesimpulan.

Lantas di mana masalahnya? Politik pengetahuan banyak difahami sebagai dominasi pengetahuan Barat terhadap negara lain. Dengan penguasaan pengetahuan tersebut, Barat menjadi lebih dominan meskipun dalam semua bidang, pada dasarnya, semua manusia di belahan dunia manapun dapat bersaing setara. Tidak hirau Barat atau pun Timur. Penguasaan pengetahuan menjadi kunci karena pengatahuan tidak hanya diproduksi, namun juga dikuasai dan dibuat sebagai alat kekuasaan itu sendiri. Dengan kedua hal ini, maka terciptalah dominasi dalam segala hal.

Sedangkan modal pengetahuan merupakan segala hal yang bernilai. Modal pengetahuan dikonstruksi berdasarkan pengalaman mendalam dan luas, kemahiran dan pengetahuan lain yang terus berproses tanpa henti. Modal pengetahuan berkelindan dalam kesatuan pada diri seseorang, masyarakat atau kelompok. Satu sama lain tidak dapat dipisahkan karena sama-sama berposes dalam kurun waktu tiada penghabisan. Karena itu, modal pengetahuan tidak dapat dikuitansikan. Tidak dapat juga dikalkulatorisasi karena ia adalah nilai. Modal pengetahuan ialah sifat yang memberikan keuntungan kepada manusia atau masyarakat yang mengontruksi segala pengalaman tersebut.

Jika benar pengetahuan ialah kekuasaan, pengetahuan sebagai politik, maka sudah seharusnya kalangan orang Sasak yang menenggelamkan diri dalam dunia literatur tersebut menguasai lautan wacana, sekurang-kuranganya di kalangan orang Sasak itu sendiri. Dengan pengetahuan yang mereka dapatkan dari usaha-usaha yang keras memeroleh data, sewajibnyalah mereka menguasai wacana orang Sasak. Mereka dapat membentuk Sasak menjadi apa saja yang mereka inginkan.

BACA JUGA:  Adakah Ahyar Abduh Masih Terlalu Kuat di Mataram?

Tentu saja hal paling penting ialah dengan pengetahuan sejarah yang mereka miliki, mereka dapat memartabatkan Sasak di dunia luar. Mereka seharusnya berhasil menentang penulisan-penulisan sejarah Sasak yang banyak keliru dengan membangun narasi baru, narasi yang lebih objektif, narasi yang lebih jujur tentang Sasak itu sendiri. Narasi yang diperjuangkan di atas kepentingan orang Sasak yang merdeka. Bukan narasi Sasak sebagai budak hamba sahaya. Seharusnya, dengan pengetahuan yang berlimpah itu, mereka berhasil membuat forum-forum pengetahuan politik berskala nasional dan internasional demi kemartabatan Sasak. Karena, sepatutnya seperti itulah politik pengetahuan tersebut.

Akan tetapi, baunya jauh panggang dari api. Rupanya pengetahuan yang mereka miliki, saya curigai hanya sebagai pelipur lapah tian yang kemudian berujung kepada kebanggaan terhadap pengetahuan itu sendiri. Patut dicurigai, perburuan pengetahuan literatur tersebut masih sebatas pernak-pernik pengibing yang hanya doyan mengibing namun lemah pengetahuan terhadap kesadaran untuk apa sebenarnya mengibing. Mengibing bukan hanya sekadar menari namun ia adalah medan kontestasi sekaligus pengetahuan. Dengan begitu, pengetahuan yang mereka miliki tidak hanya menjadi penghias bibir agar dicap sebagai intelektual, namun pengetahuan tersebut ialah medan pertarungan sejarah: mana yang betul mana yang dikelirukan. Mana sejarah Sasak yang seharusnya dan mana yang tidak seharusnya. Mana sejarah Sasak yang ditulis di atas kepentingan Sasak dan mana Sejarah yang menistakan Sasak.

Kalau kecurigaan saya betul, yakni pengetahuan mereka hanya perhiasan, ialah sekadar gincu, maka mereka tak lebih dari sekadar intelektual pesolek iaitu mempercantik diri dengan pengetahuan yang dimiliki namun tidak bermakna apa-apa untuk perubahan Sasak yang lebih besar. Sampai di sini, pengetahuan mereka hanya menumpuk di kepala, belum turun ke dada, lalu membuncah seperti magma yang akhirnya meledak sebagai intelektual yang tercerahkan sekaligus mencerahkan. Bisa jadi, pengetahuan mereka yang segudang itu belum ada hubungannya samasekali dengan gerakan perubahan Sasak yang semestinya dibuat. Karena itulah, saya ingin mengatakan, mereka ada masalah dengan pengetahuan tersebut. Bukan pengetahuan yang mereka miliki yang bermasalah, sekali lagi, itu sangat bagus. Namun masalah mereka ialah pengetahuan tersebut belum terkonversi, belum termanipulasi, belum terhubung dengan realitas Sasak yang sangat memerlukan perubahan berskala besar.

Sampai di sini, saya ingin memperjelas bahwa kelompok Sasak yang sedang bersemangat menjelalah literatur ini kebanyakannya masih pada level memburu pengetahuan. Belum sampai pada line politik pengetahuan dan juga belum menginjak di garis menjadikan pengetahuan tersebut sebagai modal pengetahuan. Jika diukur dari mereka sendiri atau kelompok mereka sendiri, tentu saja pengetahuan tersebut sangat mantap. Tidak banyak orang Sasak yang sampai pada level ini: mendapatkan literatur, membacanya sekaligus mendiskusikannya. Dalam konteks ini, mereka ini patut dihormati. Wajib dihargai.

BACA JUGA:  Ngelamang Kosong Zulkarnaen:Mental Illness Dalam Kemegahan Aparatur Negara

Akan tetapi, jika pengetahuan masih pada bilik perhiasan, maka sejatinya ia tidak berguna apa-apa selain akan memberikan cap jempol sebagai intelektual pada siapa yang memilki pengetahuan tersebut. Saya tidak keberatan jika mereka disebut sebagai intelektual. Bahkan saya akan membela mereka jika ada orang lain tidak menghargai upaya keras mereka. Hanya saja, sekali lagi, pengetahuan itu bukan perhiasan. Pengetahuan bukan solekan. Pengetahuan seharusnya menjadi senjata mematikan untuk menghanguskan keterjajahan.

Pengetahuan semestinya menjadi nuklir bagi meniadakan ketimpangan sosial, kemiskinan, pembodohan. Sungguh lacur malahan jika pemilik pengetahuan masih msikin, masih terjajah, masih “bodoh”, masih di kancah kekalahan yang berabad-abad lamanya. Pengetahuan mereka seharusnya membebaskan Sasak dari segala hal yang menistakan Sasak hingga kini. Atau sekurang-kurangnya, pengetahuan mereka itu dapat menjadi lentera pencerah atas buta tuli Sasak terhadap kenyataan nasib mereka dari dulu hingga kini. Meskipun belum menimbulkan gerakan perubahan Sasak yang dikehendaki, itu lebih baik dibandingkan pengetahuan pesolek.

Ada sebab kenapa kelompok pemburu literatur ini nampak masih berada di situasi yang disebut di atas. Pertama, bisa jadi mereka belum dapat keluar dari ikatan sejarah mereka sendiri sebagai kaum terjajah. Sebenarnya ini penyakit kaum terpelajar Sasak secara umum. Mereka berpendidikan, namun mentalitas mereka ialah budak. Jadi, ketika berbenturan dengan kenyataan, pengetahuan yang mereka miliki tersebut mengolah kenyataan dari perspektif kaum terjajah yang harus terus-menerus mengalah. Dengan begitu, pengetahuan yang mereka milik hanya mencetuskan kepuasan, atau bisa jadi kebanggaan karena dapat selangkah lebih maju dari yang lain. Setelah itu tertidur untuk besok pagi masih menemukan diri dalam kenyataan yang sama: Pengetahuan mereka tidak mengubah apa-apa. Orang Sasak dan diri mereka masih terjajah.

Hal lainnya ialah karena mereka masih berwatak kaum terjajah, jadi begitu menemukan data-data yang dicari, mereka riang gembira. Menari-nari di forum diskusi pada kalangan mereka sendiri. Mereka tidak terpikir untuk menyelam ke dalam. Menyelam ke samping. Menyelam ke seluruh ruang-ruang yang tersembunyi di balik data. Bahwa ada berjuta-juta peristiwa di balik satu kata data yang mereka peroleh. Dalam hal ini, hakikatnya mereka dibutakan oleh data yang diperoleh, sebab mereka tidak melihat apa yang tersembunyi di balik kata dan data.

BACA JUGA:  Sasak Sudah Musnah Tanpa Seniman

Merujuk kepada metode pengkajian sejarah atau arkeologi Friedrich Nietzsche, taruhlah nihilisme. Di mana seharusnya mereka tidak serta-merta percaya sepenuhnya kepada data yang diperoleh. Bahwa tidak ada kebenaran yang betul-betul benar. Bahwa tidak ada sejarah yang wajib dipercaya sepenuhnya. Bahwa tidak ada kebenaran sejarah. Dengan seperti ini, mereka akan dapat menjaga jarak dengan data. Tidak malah tenggelam ke dalam data lalu bangkit menjadi penghamba data. Bagi penghamba data ini, sesungguhnya sangat bahaya karena berpotensi lahir sebagai penyihir dan penyesat baru di tengah Orang Sasak. Sungguh bahaya jika ini terjadi.

Penghamba data tersebut akan menulis ulang data yang masih belum dibongkar secara radikal. Penyihir baru tersebut mendiskusikan data yang mereka peroleh tanpa membuat sintesis dengan kepelbagaian relasi waktu dan ruang sejarah Sasak itu sendiri. Maka diskusi dan tulisan mereka tak lebih dari sekadar reproduksi keterjajahan. Mendaur ulang pembodohan demi pembodohan.

Penghamba data tersebut, yang paling menakutkan ialah akhirnya menjadi penghamba subjek sejarah. Menuhankan pelaku sejarah berarti membenarkan semua peristiwa sejarah yang sudah terjadi. Sungguh malang jika intelektual Sasak sudah sampai pada tahap ini. Namun malangnya, tanda-tanda itu semakin nyata. Bahkan sudah beberapa dari mereka sudah pun mewujudkannya. Intelektual penghamba subjek sejarah.

Lantas, apa dampaknya bagi perubahan besar yang diperlukan Sasak, jika intelektual Sasak menghabiskan seluruh waktu mereka untuk mengumpulkan data, membicangkannya hanya untuk menyirami pohon peristiwa yang sudah ada? Bagi saya, tidak ada. Selain hanya sebagai pengetahuan. Selebihnya tidak ada.

Maka, bagi saya, amat tidak penting intelektual Sasak berada di ruang nostalgia sampai akhirnya mereka lupa berbuat dan menulis untuk sejarah mereka sendiri. Sebab yang penting ialah sejarah yang kita buat sendiri.

Malaysia, 19 Juli 2023.

>