Oleh: DR Salman Faris

Ujian yang paling adil menurut saya ialah pengujian yang disesuaikan dengan kemampuan seseorang. Jadi ujian nasional itu sangat tidak adil. Ujian yang distandarisasi secara umum ialah bentuk ketidakadilan yang ngeri.

Pembelajaran disamaratakan namun realitas kualitas anak didik tidak sama. Namun ujian disamaratakan hanya karena merujuk kepada proses pembelajaran yang sama bukan berpijak kepada kenyataan yang, anak didik memang tidak memiliki kemampuan yang setingkat.

Nah, lalu bagaimana menguji sang gubernur? Tentu tetap merujuk kepada pandangan ringkas di atas. Pertama sekali, jangan melihat pada apa yang sudah dilakukan gubernur. Boleh jadi mulut berbusa-busa barisan pengagum tak kering-keringnya menyanjung jika hanya terfokus kepada apa yang sudah dibuat oleh sang gubernur. Karena itu, tak ada salahnya memulai dari membandingkan antara citra diri yang dibangun oleh sang gubernur dengan apa saja yang sudah dibuat.

Jauh sebelum sang gubernur benar-benar menjadi gubernur, apa yang tercitra tentang dirinya di kalangan sebagian masyarakat NTB? Yang pertama ialah seorang yang kaya raya (meski tidak termasuk paling kaya dalam versi laporan harta kekayaan. Kok bisa, ya?) Masih muda sudah amat kaya. Generasi yang tergolong pintar. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan yang ditempuhinya memang cemerlang. Dalam dan luar negeri sama-sama berada di lingkaran universitas yang ternama. Sebagai politisi, usia masih amat muda sudah berada di lingkaran elite kuasa. Pernah hampir menjadi penakluk di Banten. Dan bagi sebagian pengamat, untuk seorang anak muda pendatang, nyaris berkuasa di Banten merupakan prestasi ulung, terutama Banten masih tergolong simbit feodal dan primordial.

Santer tersiar kabar yang, sang gubernur sudah setingkat empu dalam lobi melobi. Retorika kebahasaan dan tingkah laku gerak gerik yang ditunjukkan di depan publik sudah bertaraf tinggi. Tidak mengherankan jika dalam banyak hal, sang gubernur sering nampak sebagai penakluk yang ulung (bisa jadi kesederhanaan yang diperlihatkan itu juga bagian dari senjata andalan. Senjata dan pemegang senjata ialah hal berbeda: not the gun but the gunner ialah menujukkan yang kedua hal ini ialah amat berbeda. Dengan kata lain, sang gubernur yang tampil sederhana sebagai senjata ialah berbeda dengan pribadi yang murni sederhana. Maka kesederhanaan itu sebenarnya lebih dekat dengan senjata bukan sebagai pribadi).

Pergaulan sang gubernur yang melampaui Indonesia. Di mana-mana, di dunia ini, ada bekas tapak kakinya. Jadi NTB itu sebenarnya hanya selubang kencing. Bukan apa-apa jika dibandingkan dengan keluarbiasaan citra sang gubernur. Kasarannya beginilah, menjadi gubernur itu hanya pelepas penat. Hanya setingkat permainan kelereng. Hanya seujung kuku. Hanya debu yang menempl di tebing kapal Titanik. Dengan kata lain, sang gubernur ialah citra dewa.

Dengan citra sang gubernur yang setinggi itu, adakah ia sesuai dengan apa yang dibuat selama menjabat sebagai gubernur. Sekali lagi, kalau hanya melihat secara sepihak apa yang sudah dibuat, mungkin wow berlipat ganda. Hebat. Akan tetapi, jika saya bandingkan dengan citra sang gubernur yang sudah tertanam tajam dalam benak masyarakat NTB, sungguh apa yang sudah dibuat sang gubernur itu tidak ada apa-apanya. Jauh panggang dari api. Bagai seorang yang mampu melukis langit, adakah ia dapat dikatakan istimewa jika hanya melakukan tarian di atas bukit? Sungguh tidak istimewa, bahkan berpotensi mengecewakan. Bagi seorang yang membangun citra diri mampu membawa bulan ke pangkuan bunda, lalu hanya membawa setangkai mawar, nampak amat romantis, namun ternyata itu sungguh mengecewakan jika dibandingkan dengan bulan yang mampu ia bawa. Bagi seorang yang mencitrakan diri pergi kencing ke batas dunia menggunakan jet pribadi, lalu ia hanya menaiki dokar dan cidomo ke kampung-kampung, itu bukan kesederhanaan dan kehebatan. Itu ialah kenaifan. Amat mengecewakan, sebab masyarakat yang sudah amat bosan menggunakan dokar dan cidomo, ingin sekali, meski hanya menyentuh dari jauh jet pribadi.

Dengan begitu, apa yang sudah dilakukan oleh sang gubernur, sebenarnya amat tidak sebanding dengan citra diri dan kembang harapan yang melekat pada dirinya. Tak ubahnya seperti melihat Ronaldo dalam final piala dunia sepak bola pada tahun 1998 di Perancis. Orang datang ke situ hanya untuk melihat gocekan kaki sang fenonemal. Namun malah yang bersinar ialah Zidane. Nasib baik ada Zidane yang sedikit memberikan hiburan atas kekecewaan besar melihat sang fenomenal memberikan permainan yang tidak selevel dengan dirinya sebagai yang terbaik di dunia. Hal yang sama ketika Mike Tyson mengalami kekalahan pertamanya di tangan James Buster Douglas. Sungguh membuat dunia terguncang. Manusia yang tak terkalahkan sepanjang empat tahun berturut-turut akhirnya dikanvaskan oleh orang yang tak terlalu diperhitungkan. Dunia hiburan kecewa, bandar kecewa, penonton kecewa meskipun ada pemenang dan juara baru.

Begitulah adil itu, jika mau menguji kualitas sang gubernur. Seorang yang di bahunya nampak mudah NTB dapat melangkaui dunia, membuat dunia menjadi tanpa garis dengan NTB, menjadi amat mengecewakan jika hanya melakukan apa yang sudah dibuat selama dua tahun menjabat. Masyarakat dulu memilihnya bukan untuk ia mencapai apa yang sudah dibuatnya selama ini, namun beribu-ribu kali lebih dari apa yang nampak hari ini. Kalau hanya sekadar yang saat ini, buat apa memilih sang penakluk berpembawaan elegan menjadi gubernur.

Nah, agenda pembangunan jembatan yang menghubungkan Lombok-Sumbawa ini ialah momentum. Ialah kunci. Ialah kesempatan yang tak tergantikan untuk menguji sang gubernur. Ini ialah agenda besar yang sesuai dengan citra kualitas sang gubernur. Percayalah, kalau sang gubernur meninggalkan jejak sejauh yang sudah dibuat kini, itu samasekali bukan sejarah. Itu hanya percikan ludah seorang yang dicitrakan superhero. Sekali lagi, pembangunan jembatan Lombok-Sumbawa ialah setara dengan citra diri yang dibangun sang gubernur.

Jika ia benar-benar seorang penakluk elegan, seorang superhero, seorang petarung yang tersiar hebat di rantau lalu pulang kampung untuk menjadi hero, maka pasti mudah mewujudkan jembatan penghubung Lombok-Sumbawa tersebut. Ia pasti bersumpah untuk membuat sejarah yang patut dicatat setara dengan kualitas citra dirinya. Seorang pertarung sejati selalu mendongak untuk menembus batas langit, bukan malah tertunduk berpuas diri. Pesan dari Wiro Sableng 212 ini, pasti sudah dikhatam oleh sang gubernur. Atau pesan dari Tan Malaka boleh juga dirujuk sang gubernur: seorang pejuang sejati yang menikmati lena kekuasaan, sama derajatnya dengan penghianat.

Namun jika sebaliknya, ia tak berhasil mewujudkan jembatan penghubung Lombok-Sumbawa tersebut, itu bermakna ia hanyalah dongeng siang bolong. Kehadiranya di kampung halamannya hanya sekadar hiburan senggang masyarakat di tengah penat menanti mimpi berujung kenyataan. Tak lebih tak kurang. Sebab apa yang sudah dibuatnya selama ini, sangat boleh dibuat orang lain yang kualitasnya jauh di bawah sang gubernur. Capaian sang gubernur sejauh ini, boleh dicapai oleh orang lokal yang tak pernah mengenal dunia luar sebab, sebenarnya tak perlu menjadi pemimpi ulung hanya untuk menghasilkan sesuatau yang setara dengan capaian sang gubernur saat ini. Sejak Karl Marx mengkritis kapitalis, tidur sepanjang tahun pun orang bisa mengenali industrialisasi. Sebab industri ialah darah abad kin. Jadi jualan industrialisasi itu sebenarnya ketinggalan zaman. Tidak level dengan sang superhero. (the production of too many useful things results in too many useless people: Karl Marx)

Lebih jauh dari itu, jika sang gubernur gagal merealisasikan jembatan penghubung Lombok-Sumbawa, ke depan, gubernur NTB tak perlu produk luar yang tersiar sebagai superhero. Cukup orang lokal berijazah lokal berkualitas lokal yang berfikir lokal dengan bahasa dan tingkah laku lokal: cukup berisi perut selesai perkara. Toh mau pintar atau tak pintar, NTB ya begitu-begitu saja.

Jadi, jembatan penghubung Lombok-Sumbawa ialah ujian setara untuk sang gubernur. Lulus atau tidak lulus, segala berada di tangannya.

Selamat ujian, sang gubernur. Ingat, jangan abaikan integritas tertinggi sepanjang ujian sedang berlangsung.

Saya dan masyarakat sudah siap sedia untuk menilai.

Malaysia, 24 Desember 2020