Oleh: Buyung Sutan Muhlis

Koran-koran Belanda di Bulan Agustus 1897 ramai memberitakan amoek atau kerusuhan di Sesela, Lombok. Sebuah peristiwa yang tak kalah heroik dengan pelbagai kisah perjuangan melawan penjajahan di daerah lain di Hindia Belanda.

Sayangnya, perlawanan pribumi Suku Sasak yang gagah berani itu tidak banyak ditulis dalam sejarah. Mestinya, di Sesela, didirikan monumen pahlawan, untuk mengenang 25 pejuang rakyat yang gugur saat itu.

Hari itu, Senin (16/08/1897), van der Hout dan de Roo de la Faille, dua inspektur Belanda, bersama beberapa prajurit dan seorang juru tulis, berkunjung ke Sesela dengan menunggang kuda. Kedatangan mereka terkait penagihan pajak kepada warga di sana.

Beberapa hari sebelumnya, sebagaimana ditulis surat kabar The Preanger Usher pada 30 Agustus 1897, mata-mata Cina Ampenan telah memperingatkan bahwa pada 16 Agustus ada ancaman perlawanan di wilayah yang terletak sekitar satu setengah jam perjalanan di barat laut Mataram itu. “Bahwa sesuatu sedang terjadi di wilayah dekat perbatasan Mataram. Akankah pejabat kita (Belanda) yang tidak tanggap?” tulis The Preanger Usher.

Akses menuju Desa Sesela, seperti kebanyakan kampung di Lombok di masa itu, dilintasi melalui beberapa jalan setapak yang sempit dan berkelok-kelok, di kiri-kanannya terdapat pintu masuk dari bambu.

Tiba di perkampungan itu, seorang pria tua yang membawa senjata kelewang menanti kedatangan mereka. Saat mereka meminta lelaki itu membuang kelewangnya, tiba-tiba sekelompok warga muncul. Mereka menolak membayar pajak dan melakukan penyerangan. “Van der Hout terbunuh dan pengawas P de Roo de la Faille terluka parah oleh orang-orang Sasak pelaku amoek di Desa Sesela,” demikian Nieuwe Tilburgsche Courant, menurunkan berita pada 19 Agustus 1897.

Dengan kekuatan yang tersisa P de Roo de la Faille bangkit melarikan diri, sambil menembakkan revolvernya ke arah warga yang mengamuk. Di sebuah dusun yang cukup jauh dari lokasi kejadian, ia terjatuh. Warga menolongnya dan membawanya ke rumah sakit di Ampenan.

Jenazah Van der Hout juga dibawa ke rumah sakit yang sama. Keadaannya sangat mengenaskan. “Di kepalanya ada delapan luka bekas peluru atau tombak tajam. Ditemukan juga lima bekas keris di sekitar jantung, dua di antaranya pasti berakibat fatal. Tangan kiri kecuali ibu jari telah dipotong seluruhnya, siku kanannya hancur karena pukulan. Wajahnya benar-benar dimutilasi dan ditutupi bunga sehingga hampir tidak bisa dikenali. Secara keseluruhan, 44 luka telah ditemukan,” The Preanger Usher secara detail menulis kondisi sang inspektur.

Hari itu juga, satu peleton prajurit yang direkrut dari warga pribumi dan satu peleton serdadu kulit putih yang dikomandoi Kapten Hartmann, ditambah 20 orang prajurit dari pasukan kavaleri di bawah pimpinan Mayor van Heurn, mengepung Sesela sekitar pukul delapan malam. Pasukan bersenjata lengkap itu masuk melalui Desa Rembiga. Mereka meminta para pemberontak menyerahkan diri. Tidak ada jawaban. “Tapi tiba-tiba seorang haji melompat ke depan dan menembus ke dalam barisan di mana dia langsung dibunuh. Ini adalah tanda bagi yang lain untuk muncul juga. Banyak dari mereka telah berkomitmen sampai mati. Pertempuran berlangsung sengit,” tulis Nieuwe Tilburgsche Courant.

Kemarahan warga Sesela tidak hanya lantaran menentang pajak, tapi juga memprotes peredaran opium yang dilegalkan Pemerintah Hindia Belanda.

Sekitar 25 warga membayar perlawanan dengan nyawa mereka. 25 nyawa melayang untuk menebus kematian seorang inspektur. Kampung itu kemudian dibakar.

Sayang tidak disebutkan nama-nama mereka yang tewas itu. Beberapa koran hanya menyebut sebuah nama: Amaq Noerisah. Seorang lelaki tua yang dianggap memprovokasi penduduk. Di awal 2000an, saya pernah ke Sesela mencari keluarga pejuang ini, saat berencana menulis kisah tentang para pejuang Sasak.

Beberapa surat kabar Belanda menulis tentang sosok itu. Salah satu koran mengungkapkan, “Amaq Noerisah pasti orang tua yang keras kepala. Dia terlibat dalam banyak masalah agama, dan hanya peduli pada nabi.” (Buyung Sutan Muhlis)