Oleh : DR Salman Faris

Mentaram kini seumpama kita dapatkan nama pengguna wifi namun kita tidak mengetahui kata kuncinya. Akhirnya kita sekadar dapat melihat sinyal akan tetapi tidak dapat menggunakan wifi tersebut.

Misnal Munir dalam bukunya yang berjudul Filsafat Sejarah (2018) menguraikan kemajuan pembangunan di Indonesia yang seharusnya diletakkan pada dua aspek. Peradaban yang menyangkut pembangunan fisik material satu sisi dan pembangunan kebudayaan yang bersifat mental spiritual, moral, ketaatan beragama, seni dan lainnya pada sisi kedua. Dengan kata lain, pembangunan di Indonesia yang berdasarkan Pancasila semestinya menciptakan pertumbuhan dan kemajuan seluruh bangsa. Pembangunan dalam Pancasila mengharamkan ketidakadilan. Karena itu, sangat aneh jika ada kalangan yang menilai Mentaram maju.

Apabila ukurannya bangunan, penilaian tersebut sedikit dapat diterima karena memang banyak dijumpai bangunan yang menggambarkan kemajuan. Itu pun jika dibandingkan dengan Mentaram jauh sebelum ini. Pusat perbelanjaan makin banyak, tempat nongkrong, gapura dan monumen pun makin bertambah. Termasuk hotel berbintang dan tempat olah raga berbayar dan jalan raya. Akan tetapi, sebagai orang miskin, ukuran Maju tersebut sangat sederhana, yakni tingkat kemampuan akses masyarakat miskin terhadap berjubinnya bangunan tersebut. Apa gunanya Lombok Epicentrum Mall (LEM) bagi masyarakat Punie jika mereka hanya dapat menonton pucuk bangunan megah itu tanpa dapat mengakses tempat tersebut untuk berbelanja dan menikmati kenikmatan hidup yang disediakan? Dengan kata lain, LEM ialah watak kaum konglomerasii yang merendahkan masyarakat Timbrah. Bermakna kemanfaatan pembangunan bagi orang miskin Mentaran ialah apabila mereka tidak hanya dapat menelan ludah namun juga dapat mencicipi remah pembangunan sebagaimana orang yang dikatakan tidak miskin. Meskipun mereka sadar yang cicipan tersebut tentu berbeda level dengan orang kaya. Namun kenyataannya, mereka hanya menjadi pelukis berimajinasi tinggi tentang kemegahan dan kemewahan LEM. Bukan sebagai penikmat. Jadi kemajuan Mentaram sangat tidak pancasilais.

Religi yang pada akhirnya menuntut sikap dan mental religiusitas merupakan pengalaman total yang melingkupi keyakinan kepada sumber nilai, devosi sebagai sikap penyerahan diri dan ekspresi (Edgar Sheffield Brightman, 1956). Dengan demikian dapat dijumpai yang visi religus Mentaram pun banyak nampak pada mereka yang miskin dengan keikhlasan menerima keadaan. Namun manusia Mentaram yang menerima takdir secara begitu saja tak bermakna mereka tidak memiliki kemauan untuk mencicipi remah. Dalam konteks inilah pemaknaan religius di Mentaram mengalami sunami anomali karena penjuluk Mentaram yang ada tidak memiliki sensitivitas menyelami kemauan terdalam orang miskin. Memamerkan pembangunan Mentaram yang tidak dapat dinikmati oleh mereka yang miskin merupakan kontra religius. Maka nampak jelas yang religius tidak secara utuh dimaknakan sebagai keadilan untuk semua orang Mentaram sebab ketimpangan hidup senang dengan hidup susah semakin mencolok ketika pembangunan terus digenjot. Dalam situasi ini, penjuluk Mentaram yang ada secara sadar mengkapitalisasi secara politis religiusitas untuk memoles wajah Mentaram agar laku dijual di pasar perdagangan kekuasaan. Sungguh kontra religius alias kontra Pancasila (penggunaan Pancasila terkait erat dengan situasi di Indonesia saat ini yang sedikit-sedikit menyinggung Pancasila hanya untuk membedakan kalangan yang mengklaim diri Pancasila dan menuduh kelompok lain sebaliknya. Jadi saya gunakan Pancasila secara ironik satiristik).

Dalam salah satu asas kebudaayaan orang Sasak dijumpai ra’i dirik, yakni menyelami diri sendiri untuk menemukan kepatutan atau sebaliknya dengan realitas. Sebagai misal, jika kita tidak patut menjadi pemimpin, jangan membayar partai hanya untuk sokongan ketidakpatutan tersebut. Secara tegasnya, apabila berani mengakui kegagalan menjadi penjuluk Mentaram ketika ketidakadilan dan ketimpangan orang miskin dengan orang kaya semakin kentara, di situlah letak ra’i dirik tertinggi. Maka sebaiknya jangan terlalu berambisi jadi penjuluk di Mentaram. Keberanian dan kelapangan dada memberikan peluang kepada yang patut merupakan kegemilangan ra’i dirik.

Jika merujuk kepada ra’i dirik, sejatinya berbudaya di Mentaram pun mengalami kontra budaya karena kebanyakan mereka yang pandai ra’i dirik dijumpai pada lapisan yang miskin. Mereka menyelami diri secara mendalam dengan tidak membawa golok ke LEM di saat orang kaya memamerkan kenikmatan yang ditawarkan LEM. Mereka juga tidak membawa minyak tanah, bensin, dan api untuk membakar kampus-kampus negeri yang tidak mampu mereka bayar yang, pada akhirnya mereka harus dengan devosif menerima anak-anak muda dari luar Mentaram untuk hidup selayaknya mahasiswa. Bahkan yang paling miris ialah mereka dengan terpaksa harus memilih penjuluk hanya karena dialah calon yang mampu membayar partai meskipun calon tersebut tidak dikehendaki karena ketidaklayakannya menjadi penjuluk Mentaram. Atau hanya karena dia berketurunan penjuluk kemudian dicitrakan hebat padahal sebaliknya. Dalam konteks ini dapatlah dikatakan, buah jatuh tak jauh dari pohon namun tidak semua buah berkualitas yang sama. Akan tetapi, orang Mentaram dicekoki oleh imaji palsu yang satu pohon menghasilkan kualitas buah yang sama. Sungguh ironis sistem peralihan kekuasaan di Mentaram yang harus ditanggung oleh orang miskin yang lebih pandai ra’i dirik dibanding penjuluk yang mereka harus pilih.

Situasi ketindihan ra’i dirik dalam suasana kebatinan yang pahit tersebut dijalani oleh orang Mentaram hanya karena mereka terjebak ke dalam lubang ketidakberdayaan yang tidak mau difahami oleh penjuluk, yakni kalangan yang memaksakan kehendak dan hasrat kuasa. Hanya berkuasa sebab kalangan ini dilahirkan dari penguasa sebelumnya. Atau secara sengaja dikonstruksi sebagai bentuk hegemoni penjuluk Mentaram kepada mereka yang lemah akses. Hegemoni tersebut dijumpai dalam simbol yang diperdagangkan seperti keturunan, keagamaan, karir birokrasi. Dengan kata lain, selama ini jualan politik di Mentaram hanya berkisar pada isu murahan bukan pada kepentingan yang berkeadilan. Misalnya, standar penjuluk Mentaram yang bersifat warisan, kesalehan, dan bongoh palsu. Situasi inilah yang mempertegas bahwa Mentaram sejatinya tidak berbudaya apabila kebudayaan dilihat sebagai spiritualitas, moral, etika, mental, ekspresi dan apresasi seni sebab saya tidak menemukan alasan yang kuat untuk mengatakan penjuluk yang tidak berhasil memimpin Mentaram namun berambisi terus menjadi pemimpin sebagai manusia yang berbudaya. Terutama sekali apabila mereka mendeklarasi diri sebagai orang Sasak karena asas berbudaya orang Sasak tidak memaksakan diri memimpin kalau tidak merasa layak menjadi pemimpin di Mentaram. Akan tetapi malah sebaliknya, kalangan ini sentiasa merasa layak. Lantas bagaimana saya dapat menyatakan mereka berhasil memimpin Mentaram yang berbudaya.

Saya sengaja sedikit membincangkan Mentaram dalam konteks Maju, Religius, dan Berbudaya karena itu ialah visi Mentaram selama ini. Dengan seperti itu, kita jadi dapat melihat dan mengukur adakah visi tersebut berhasil atau tidak terutama sekali dari sudut pandang orang yang kalah, mereka yang dari kalangan miskin Mentaram. Jika pembaca menilai pendapat saya ini sebagai arus deras seruan menukar penjuluk Mentaram atau kritik terhadap Mentaram yang dinilai maju namun tak berkemajuan, penilaian itu sangat sah karena penjuluk Mentaram, memang harus ditukah. Salah satu landas pacunya dapat kita lihat dari dagangan Mentaram untuk Semua. Selama ini, dagangan ini telah difahami dan dijalankan secara keliru. Jika memaknai Mentaram untuk Semua yang semua mempunyai kewajiban yang sama di Mentara ialah tidak arif dan bijaksana, meskipun itu ada benarnya. Karena Mentaram untuk Semua jadi siapa pun anda dan dari mana pun anda berasal, jika mempunyai kelengkapan sarat, anda dapat berposisi sebagai sekda, misalnya. Ini ada benarnya namun kurang arif dan bijaksana sebab pada sektor yang lain, masih ada ketimpangan dan ketidakadilan yang luar biasa menganga.

Dalam pandangan orang miskin, saya sadar anda mampu membeli apa saja di Mentaram jika anda mempunyai uang. Namun menjadi tidak adil jika hanya karena anda mempunyai uang kemudian anda membeli rumah di setiap komplek perumahan sementara orang miskin hanya untuk memperbaiki pintu rumahnya yang reot, tidak mampu. Anda mempunyai kuasa untuk menentukan harga properti sesuai standar hidup anda, namun menjadi tidak adil jika standar itu semakin menjauhkan orang Mentaram miskin dari tanah kelahiran mereka sendiri. Dengan anda seperti itu, rumah reot dan kampung kumuh mereka semakin menjadi sumber penderitaan karena anda tidak adil dalam membangun. Bahkan teman saya yang orang Jakarta, amat terkejut dan tidak habis pikir kenapa harga tanah di mentaram begitu mahal. Dengan harga yang tinggi itu, maka hanya terbatas orang yang dapat membelinya dan untuk hal ini, orang miskin Mentaram semakin jauh dari realitas hidup mereka. Ditindih oleh fatamorgana keangkuhan daya beli orang kaya menempatkan mereka sebagai saluran muntahan isi perut orang kaya. Mereka terjepit. Mereka terkucilkan di tengah rimba bangunan megah dan gaya hidup orang kaya Mentaram yang hedon tipsi iman dan nihil kemanusiaan. Dan sekali lagi, ini bukan kemajuan yang diamanatkan Pancasila dan bertentangan dengan nilai agama.
Lalu bagaimana Mentaram untuk Semua dapat dipercaya sebagai kebenaran jika jurang antara orang yang dapat menikmati kebahagiaan dengan mereka yang diharuskan menerima penderitaan semakin lebar. Karena itulah, saya nyatakan, Mataram untuk Semua ialah kepalsuan yang diundang-undangkan dalam regulasi bernama rencana pembangunan. Sebab Mentaram bukan untuk orang miskin melainkan Mentaram hanya untuk orang kaya. Miris bukan? Jika berKTP Mentaram namun hanya memiliki napas sedangkan mereka yang berKTP luar Mentaram bisa menikmati apa saja. Dan sekali lagi, ini bukan Mentaram untuk Semua. Dalam konteks inilah dapat dilihat yang penjuluk Mentaram kontra Pancasila, kontra berbudaya, kontra Religius. Maka menukar pemimpin menjadi pilihan rasional bagi orang miskin.

Hanya saja tukah penjuluk Mentaram ini akan selalu berhadapan dengan apa yang dikatakan oleh Kurt Lewin (1975) sebagai keadaan yang dibenturkan antara kelompok yang mati-matian mempertahankan status quo penjuluk yang tidak berhasil itu dengan kalangan yang menghendaki perubahan. Satu sisi, kalangan yang mempertahankan status quo akan melakukan apa saja sedangkan mereka yang menginginkan perubahan memiliki kecendrungan moderat. Hal ini disebabkan oleh status quo mempunyai uang yang banyak, jaringan kuasa yang sudah kukuh, peta peperangan yang dikuasai. Kelebihan-kelebihan ini digunakan secara membabi buta karena status quo ialah iman mereka.

Namun sekali lagi, sekuat apa pun pertahanan kalangan status quo, tukah penjuluk Mentaram mesti dilakukan. Meski begitu, saya tetap tidak setuju jika hanya berprinsip menukar pemimpin di Mentaram namun jenis pemimpin yang dihasilkan berwatak yang sama.

Dengan begitu, penukaran tersebut sebaiknya bersifat total. Putuskan status quo. Lahirkan pemimpin baru yang tidak ada hubungannya dengan kegagalan pemimpin sebelumnya dengan tetap berpegang kepada asas melahirkan pemimpin yang jauh lebih layak dibandingkan status quoisme. Tentu saja, ukuran saya tetap berdasarkan sisi keberpihakan kepada orang miskin Mentaram. Bukan pemimpin yang lagilagi dihasilkan oleh tangan para cukong, tekong, dan taipan berwatak jahat.

Malaysia, 26/06/2020

Penulis:
DR Salman Faris 
Adalah Akademisi, Pekerja Seni Budaya, Pemerhati Sosial Politik dan Media. Kini tinggal di Kuala Lumpur Malaysia.