Ketika wabah pandemi Korona melanda negeri. Lapas Selong termasuk salah satu lapas di Indonesia yang kelebihan penghuni yang diprediksi rentan menularkan virus mematikan itu.
Adalah Herdianto AMd.IP, SH, MSi, Kepala Lapas Kelas II B Selong yang mendata dan mengusulkan 59 narapidana yang layak menerima kebijakan asimilasi rumah. “Mereka menjalani asimilasi di rumah masing-masing hingga keluarnya SK integrasi,”katanya.


Kebijakan asimilasi rumah bagi tahanan sempat menuai pro kontra di lini massa. Namun Herdianto menilai kebijakan pemerintah itu pastilah dengan kajian mendalam; mempertimbangkan baik buruknya sebagai bagian dari antisipasi pemerintah mencegah penularan wabah Korona di rumah tahanan yang kelebihan penghuni seperti di Lapas yang dipimpinnya.

BACA JUGA:  NTB Memamerkan 500 Unit Mesin Buatan Lokal di HUT Kemerdekaan

Tapi selidik punya selidik, ternyata menjadi petugas Lembaga Pemasyarakatan bukanlah cita-citanya sejak kecil lho.
Herdianto sebenarnya ingin menjadi seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Secara fisik, Herdianto memang layak menjadi tentara, namun suatu hari ia diajak sang ayah main-main ke sebuah penjara di kota kelahirannya Lampung. “Saya kok tiba-tiba tertarik ingin jadi petugas Lapas,”kenangnya.
Semenjak itu, Herdianto mengambil pendidikan khusus tahun 1998. Selang dua tahun, Herdianto lulus memulai ikatan dinas tepatnya tahun 2002. Ia ditugaskan di Lapas Narkotika Jakarta.
Lebih dari 10 tahun, dilakoni tugasnya sebagai staf biasa dengan segala suka dan duka.
Baru pada tahun 2014, Herdianto menerima promosi jabatan. Ia dipindahkan untuk jabatan baru sebagai Kepala Rumah Tahanan Kelas I Pangkal Pinang Kepulauan Riau.
Godaanpun datang. Herdianto harus rela jauh dari anak semata wayang dan isterinya demi tugas negara.
Hari-hari dijalaninya sebagai Kepala Rutan dengan penuh tanggungjawab hingga akhirnya dipindahkan lagi ke Nusa Tenggara Barat, tepatnya menjadi Kalapas Kelas II B Selong.
Atas segala pencapaian karir cemerlangnya, suami dari Hesty Listriana ini mengaku bersyukur kepada Tuhan Yang Mahaesa. Ia juga mengaku semuanya tidak akan pernah terwujud tanpa dukungan keluarga, orang tua, isteri dan anak serta sahabatnya.
Kepada MATARAMRADIO.COM, Herdianto mengaku tantangan dan godaan terberat selama bertugas adalah kesulitan menemui anak dan isteri.”Itu berat berpisah dengan mereka,”akunya.
Nah, kenangan yang tak terlupakan selama berkarir di Lapas adalah menghadapi kerusuhan antara Kelompok Penghuni Lapas Cipinang Jakarta.”Tak bisa saya lupakan kejadian rusuh antar Geng Napi waktu itu,”kata pria 42 tahun yang punya hobby pecinta alam, offroad dan berolahraga ini.
Herdianto menyebutkan sejauh ini belum ada kesulitan selama memimpin kalapas Selong dan berharap Lapas yang dipimpinnya meraih predikat Lapas terbaik. “Kita harapkan seluruh lapas dan rutan di indonesia harus menjadi yang terbaik. Untuk petugasnya harus mempunyai integritas. Hilangkan budaya pungli (pungutan liar,red) dan diskriminasi terhadap warga binaan,”ungkapnya. Semoga. (MRC-05)

BACA JUGA:  Latihan Jelang Konser Jhumma Chumma 1990