Sampah Rumah Tangga,Ibu-Ibu MT Baitus Salam Pasar Minggu Belajar Membuat Eco Enzim

Untuk itu Majelis Taklim Baitus Salam Pasar Minggu, Jakarta Selatan mengadakan kajian bulanan dengan tema “Mengenal Eco Enzim dan Manfaatnya untuk Kehidupan sehari-hari” pada Rabu 17 Januari 2024. “Kita secara langsung memang tidak mungkin mengatasi sampah yang hampir 70 ton setahun itu, tetapi kita bisa mengurangi sampah setidaknya dari rumah kita. Yaitu dengan membuat eco enzyme dari kulit buah dan sayur yang sebelumnya langsung kita buang sebagai sampah,“ujar Azimah Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga DKM Masjid Raya Palapa Baitus Salam (MRPBS) saat memberikan pengantar dihadapan sekitar 100 peserta.
Lebih lanjut Azimah menyampaikan, di tahun 2024 ini komunitas ibu-ibu MT Baitus Salam akan lebih peduli terhadap masalah lingkungan. Mengingat dampak yang ditimbulkan jika tidak memelihara lingkungan, akan menjadi boomerang untuk diri kita sendiri, seperti: banjir, sulit mendapat air bersih karena banyak air yang tercemar, menjangkitnya penyakit, dsb. “Untuk itu, mengawali kajian bulanan tahun 2024 ini, kita akan belajar mengolah sampah rumah tangga terutama kulit buah dan sayur menjadi eco enzyme. Pada kajian bulanan selanjutnya, kita juga akan belajar untuk mengolah jelantah, sampah plastik.kemasan, kertas, dsb agar bisa dimanfaatkan kembali dan mengurangi sampah,” ungkap Azimah melalui siaran pers yang diterima MATARAMRADIO.COM.

BACA JUGA:  Semarak Gala Dinner MXGP Selaparang 2023, Kru dan Rider Nikmati Hiburan dan Kuliner Khas Lombok


Dalam pelatihan membuat eco enzim di MT Baitus Salam ini hadir 2 (dua ) orang narasumber yang merupakan aktivis dari Eco Enzim Nusantara. Mereka adalah Rizal Zainuddin Sjarif dan Tri Astutik (Ibu Rowi). Mereka secara bergantian membahas tentang sejarah eco enzyme, manfaatnya, serta cara membuatnya. “Eco Enzyme adalah cairan alami serbaguna yang dihasilkan dari fermentasi gula merah, sisa buah/sayuran, dan air. Eco enzyme bisa menjadi salah satu solusi mengurangi sampah, khususnya sampah rumah tangga di tempat pembuangan akhir (TPA). Apalagi sampah rumah tangga merupakan penyuplai terbanyak sampah nasional yaitu sekitar 60%,” ujar Rizal.
Selain mengurangi sampah, Rizal juga menambahkan manfaat eco enzyme lainnya. “Eco Enzyme bisa menjadi cairan pembersih alami di rumah kita, seperti untuk mengepel lantai, mencuci piring, membersihkan kamar mandi/WC, mencuci baju, hingga untuk mencuci buah dan sayur,” ujar Rizal.

Rizal juga menambahkan bahwa Eco Enzyme juga dapat mengurangi polusi udara dan juga polusi di air. Beberapa waktu lalu, saat Jakarta dinyatakan dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia, kami para relawan Eco Enzyme kemudian berinisiatif secara bersama-sama menembakkan ke udara cairan Eco Enzyme dari 20 atap gedung di Jakarta. Alhamdulillah, tak lama kemudian kadar polusi udara di sekitarnya berkurang drastic, “Ujar Rizal.

BACA JUGA:  Warkop La Pituk: Ngopi Rasa Ngangenin itu Disini, Boskuh!

Eco Enzyme juga terbuktui dapat mengurangi kadar radiasi dari perangkat elektroik yang ada di rumah kita. Cukup dengan mendekatkan cairan ecoenzyme ke perangkat elektronik seperti TV, Laptop, kipas angina, dan lain sebagainya, maka radiasi yang dikeluarkan oleh perangkat tersebut akan truun drastic diserap oleh eco enzyme,

Meski baik Rizal maupun Rowi tidak menyatakan Eco Enzym sebagai obat, namun cairan ini dapat membantu mengurangi gejala yang ditimbulkan beberapa penyakit, seperti gatal-gatal pada kulit, mengatasi luka (luka gores/sayat, luka bakar, luka sobek, luka akibat diabetes), digigit serangga, bisul, jerawat, dsb. Bahkan juga dapat mengurangi kerentanan yang ditimbulkan oleh penyakit asam urat, stroke, dan kanker.“Saudara saya kebetulan ada yang mengidap kanker otak, kondisi ini mengakibatkan beberapa bagian di kepala, wajah, dan tubuhnya luka karena rasa gatal yang amat sangat bahkan hingga berdarah. Saya kemudian memberinya terapi cairan Eco Enzym untuk mengobati lukanya dan juga ampas Eco Enzyme saya taruh di kepalanya. Alhamdulillah lukanya langsung mengering, tidak gatal lagi, dan kondisi luka di kepalanya membaik,”ujar Rowi yang mulai tertarik dengan Eco Enzyme sejak tahun 2019.
Tak hanya menjelaskan tentang manfaat Eco Enzyme, Rizal dan Rowi juga mengajarkan peserta cara membuat Eco Enzym. Mereka menyarankan kepada peserta untuk menyiapkan wadah bertutup tetapi dengan mulut lebar seperti toples, ember, baskom, dsb. Penggunaan wadah dengan mulut besar ini untuk mengantisipasi adanya kemungkinan meledak akibat gas metana yang dihasilkan dari fermentasi. Selanjutnya Rowi meminta untuk peserta menyiapkan gula merah/gula aren dengan perbandingan 1 banding 3 dengan kulit buah atau sisa sayuran, serta berbading 10 dengan air.
“Jadi bila wadahnya berkapasitas 2 liter air, kita isikan air cukup 1,5 liter saja, kemudian bahan organiknya (kulit buah/sisa sayurannya ) sebanyak 450 gram dari 5 jenis kulit buah/sisa sayuran, dan gula merah sebanyak 150 gram. Ketiga bahan ini kita campur rata dengan menggunakan tangan, selanjutnya ditutup rapat hingga hampa udara. Kita bisa menambahkan lem isolasi di sekitar mulut tutup. Dan terakhir simpan selama minimal 3 bulan di tempat yang sejuk dan tidak terkena sinar matahari langsung,” ujar Rowi. Setelah 3 bulan, para peserta dapat memanen eco enzyme yang mereka buat tersebut dan memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari. Ibu=Ibu MT Baitus Salam mengikuti kegiatan ini dengan sangat antusias, apalagi kemudian setiap orang mendapatkan eco enzyme gratis dari Rizal dan Rowi untuk dibawa pulang dan dicoba di rumah masing-masing. (EditorMRC)

BACA JUGA:  Diduga Gara-gara Limbah Fukushima, 1.200 Ton Ikan Mati di Laut Jepang?
>