Opik Semakin Romantis (2)

                 

Bagian Kedua buku SEMAKIN ROMANTIS dengan judul  Mama Mia mengisahkan bagaimana kedekatan seorang Sekda Lombok Timur HM Juaini Taufik dengan kedua orang tuanya terutama dengan ibunda yang selalu memberikan motivasi terbaik. Dikisahkan pula bagaimana Opik muda menjalani studinya di kampus yang mencetak para pamong yakni Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) yang diselesaikan dengan meraih peringkat terbaik kedua dari 1000 lulusan. Dia juga terlibat sebagai bagian dari Tim Penyusun UU No 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah mendampingi Prof Dr Ryas Rasyid dan Andi Malarangeng selaku Ketua dan Asisten Tim Perumus.  Sebuah pencapaian yang tentu luar biasa dari seorang Opik muda. Inilah resensi kedua buku SEMAKIN ROMANTIS oleh Ir Lalu Muh. Kabul, MAP selaku Ketua Koalisi Kependudukan Lombok Timur yang juga Dewan Pakar MATARAMRADIO.COM.

Bagian dua: Mama Mia

Paman-paman Opik sudah banyak yang sukses. Mereka menjadi pejabat antara lain Camat. Sang Ibu selalu berdoa supaya Opik sukses seperti paman-pamannya menjadi Camat. Sang ibu, Fitriah kelahiran tahun 1955. Alhamdulillah doa ibu terkabul. Opik bahkan tidak hanya sekedar menjadi Camat, tetapi menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur melampaui paman-pamannya. Namun Sang Bapak ternyata belum puas dengan capaian Opik. Sang Bapak, meminta Opik lanjut ke S3. Bagi ayahandanya, jabatan itu bisa datang, bisa pergi.”Saya mau kamu S3”, tuturnya. Opik bertekad mewujudkannya.” Makanya saya mau kuliah”, kata Opik.             

      Ibundanya cukup bersahaja nasihat-nasihatnya. Dia sangat bersyukur dengan apa adanya. Ibunya kerap berpesan agar Opik tetap seperti dulu, tidak sombong, ramah. “Ingat kita dari orangh miskin”,pesannya. Opik mengaku sangat dekat dengan ibu. Sang Ibu jua yang selalu memberi uang waktu sekolah. “Saya nggak pernah minta ke bapak”, kata Opik membuka rahasia masa kecilnya. Yang paling berkesan bagi Opik, dirinya di mata Sang Ibu tidak pernah salah. “Itu yang saya hargai”, kata Opik. Satu hal lagi, ibu selalu menggantungkan cita-cita Opik sangat tinggi. Ibu ini bermisan 38 orang dan hanya ibu yang tidak menjadi pegawai. Makanya dia selalu  bilang, “kalau kamu rajin sekolah Nak, kamu bisa melebihi paman-pamanmu”. Sang paman tidak ada yang menjadi Sekda. Hanya kepala dinas.                 

BACA JUGA:  Meneropong Tiga Tahun Sukma Membangun Lombok Timur (Bagian Ketiga)

      Bagi Opik yang sangat disyukurinya, semua saudaranya PNS. Sukses itu dicapai karena orang tuanya punya perencanaan yang baik dan punya disiplin tinggi. Meski hanya seorang guru SD tapi Opik dan tiga saudaranya pegawai semua. Betapa luar biasanya H. Muhammad Gufran, Sang Bapak. Untuk merebut posisi PNS, dalam keluarga menggunakan sistem giliran. Misalnya ketika Opik ngebet mau kawin, Sang Bapak mengingatkan Opik agar terlebih dahulu menjadikan adiknya yang nomor dua jadi polisi. Waktu itu tahun 1996. Opik beruntung punya sahabat orang Bali, Letkol Sudita, seorang pejabat di Polda NTB. Opik membawa adiknya ke Sudita, kebetulan saat itu ia menjadi panitia. Sang adik berotak encer didukung oleh fisik prima. “Ternyata lulus adik saya”, kata Opik. Sekarang Sang Adik, Ahmadun Hadi, sudah berpangkat Mayor, jabatannya Kabag Ops di Brimob Polda NTB. 

      Setelah menyelesaikan STPDN, Opik ditugaskan pertama kali di provinsi pada Direktorat PMD tahun 1994. Opik tinggal di Mataram dan setiap hari ke kantor naik bemo. Karena memang tidak punya sepeda motor. Opik mulai menjalin persahabatan dengan Sudita ketika suatu hari, saat hujan, Opik membantu Sudita mendorong mobil jimny kodoknya yang mogok di Pasar Cemara. Tanpa disuruh, Opik mendorong mobil tersebut. Alhamdulillah, hidup. Opik disuruh naik oleh pemilik mobil yang ternyata berseragam polisi, pejabat di Polda NTB. Opik memberitahukan Sudita kalau hari itu terakhir mereka bisa bersamaan karena dirinya pindah tugas ke Lombok Timur.                    

      Opik masuk STPDN terobsesi pesan ibunya agar menjadi Camat seperti paman-pamannya.   Dulu namanya IPDN sebelum berubah menjadi STPDN. Dulu dalam anggapan umum kalau sekolah Camat itu tempatnya di IPDN. “ Dan betul”, kata Opik, dirinya jadi Camat akhirnya. Opik angkatan pertama di STPDN dari Lombok Timur. Setelah perkuliahan di STPDN berlangsung dari pihak kampus mengumumkan dari 1000 orang se-Indonesia, Opik dapat ranking dua. Mendagrinya Rudini waktu itu, yang memberikan medali. Opik dinaungi keberuntungan berteman dengan Andi Malarangeng di IIP. Opik masuk IIP tahun 1998. Lulus tahun 2000. Waktu itu reformasi dimulai. UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah disusun oleh tim, ketuanya Prof. Dr. Ryaas Rasyid dan asistennya, Andi Malarangeng dan Opik tukang ketiknya di kampus IIP. Karena diangggap memahami undang-undang ini, Opik diajak Andi Malarangeng tampil di TVRI sebagai nara sumber tahun 1999.

HM Juaini Taufik dan keluarga /foto:istimewa

         Sebelum menjadi Sekda; Opik punya riwayat jabatan panjang, Kepala Seksi di kecamatan, menjadi Lurah, Sekcam, camat, Kabag, Sekdis, Asisten dan Kadis. Waktu Opik dites jadi Sekda, kalau dilantik awal tahun, kata ibu, “Jadi Sekda kamu, Nak”. Perhitungan Sang Ibu, ditesnya akhir tahun. Nanti dilantiknya awal tahun. “Kamu jadi sekda”, ujar Sang Ibu meyakinkan. Ibu rupanya sangat teliti. Menyusul pelantikan, Ibu sangat bersyukur. Keluarga besar pun demikian. Sesibuk apapun, Opik selalu menyempatkan diri menyambangi orang tua di Rumbuk. Minimal sekali seminggu. Tiap Jumat. Kalau tidak di luar daerah, Opik pasti Jumat di kampung dan makan disana. “”Dimasakin sama Ibu”, papar Opik. Opik melanjutkan “Ibu semangat sekali masakin kita. Harus dimasakin Ibu, bukan orang lain”.                                           

BACA JUGA:  Jadi Kadis Peraih Anugerah Green Leadership dari Kementerian LHK, Ini Kata Julmansyah !

       Opik mengaku kagum dengan mertuanya. Mertuanya Opik dengan berbekal profesi sebagai guru berhasil mendidik anak-anaknya. Dari sebelas anaknya, jadi semua. Sebagai contoh, Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, kakak dari Nurhidayati. Kepala Samsat Lombok Timur juga kakak ipar Opik. Begitupun Kabid Haji, kini Kabid Madrasah di Kanwil Agama Provinsi NTB adik ipar Opik. Di kampung keluarga Opik dan  mertua menjadi contoh bagi banyak orang dan keluarga lain. Pasalnya, semua anaknya jadi orang. Bukan hal mudah, dengan gaji guru di masa lalu, yang pas-pasan bisa menyekolahkan anak dengan baik. Itu butuh perjuangan ekstra keras. Namun Sang Mertua mampu melakoninya. “Itu hebat”, kata Opik.                

BACA JUGA:  Mengenal Menteri Arab Saudi Keturunan Indonesia: Muhammad Saleh Benten

      Penggalan cerita diatas merupakan sinopsis bagian dua dari buku “Semakin Romantis”. Menurut penulis; bagian dua buku ini diberi judul “Mama Mia” dari bahasa Italia artinya “Ibuku”. Opik memang sangat dekat dengan Ibunya. Sang ibu yang banyak mempengaruhi pendidikan dan perjalanan karir Opik hingga menjadi Sekda. Seperti pada bagian pertama, pada bagian kedua inipun penulis buku ini begitu piawai merangkai gaya bahasa, bahasanya mengalir, renyah, enak dibaca dan sangat mengasyikkan.

Keberhasilan keluarga Opik dan mertuanya dalam menyekolahkan anak-anaknya dapat dijadikan contoh untuk diaplikasikan dalam percepatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Timur. IPM inilah yang kini menjadi pekerjaan rumah Bupati Lombok Timur, Sukiman Azmy.

Dulu ketika Sukiman Azmy menjabat Bupati Lombok Timur pertama kali dalam periode 2008-2013, IPM Lombok Timur berada ranking atau peringkat 7. IPM Lombok Timur kemudian anjlok menjadi peringkat 9 pada tahun 2018. Pada masa jabatan kedua kali sebagai Bupati Lombok Timur dalam periode 2018-2023, Sukiman Azmy fokus pada akselerasi peningkatan IPM. Dua tahun kemudian yakni tahun 2020 IPM Lombok Timur naik menjadi peringkat 8 (BPS Lombok Timur, 2020).             

Penyusun Resensi Buku SEMAKIN ROMANTIS

       Seperti kata pepatah “tiada gading yang tak retak”. Begitu pula bagian dua buku ini. Ada istilah pada bagian dua buku ini seperti STPDN, IPDN, IIP. Boleh jadi  istilah tersebut  tidak dipahami artinya oleh sebagian pembaca. Karena dalam buku ini istilah tersebut tidak diberikan penjelasan berupa daftar istilah ataupun cacatan kaki. Keasyikan kita membaca buku ini terganggu oleh kata salah ketik seperti tertekad pada halaman 56 seharusnya bertekad. (*)

       Buku ini dapat diperoleh dengan menghubungi Penerbit Segi 8 di Jl. Bung Karno No.3 Mataram NTB email:penerbitsegi8@gmail.com.