Satu Lahan Tiga Bidang

Dedi Suhadi, Editor Jurnalis Mataramradio.com

Pemanfaatan kotoran sapi sebagai bahan baku biogas tak diragukan lagi. Persoalannya, kotoran sapi yang keluar dari tabung reaktor dan  sudah tidak memiliki gas metan, mau dikemanakan? Inilah tulisan kedua dari 4 tulisan

Dosen pengajar di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, DR Lolita Endang Susilowati, memberi solusi agar dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Persoalan yang mengemuka, masyarakat selama ini terlanjur memanfaatkan pupuk urea sehingga mengalami kesulitan jika para petani ‘dipaksa’ menggunakan pupuk organik. Jalan terbaik adalah memberi contoh.

Dengan bermodal lahan sekitar 1500 meter persegi yang ada di Dusun Temas, Ummi bereksperimen menggunakan pupuk organik untuk seluruh tanaman yang ada dilahan tersebut. Hasilnya, sungguh menggembirakan, pertumbuhan tanaman normal karena tanah kembali  subur. “Ada dua jenis pupuk yang keluar dari tabung reaktor biogas, padat dan cair. Kedua pupuk ini sama bermanfaatnya bagi tanaman,” jelas Ummi.

BACA JUGA:  Dipanggil DPR Soal Dugaan Pelanggaran HAM, Perusahaan Tambang AMNT Minta Ditunda. Alasannya?

Ternyata berdasarkan hasil penelitian, bio slury yang keluar dari tabung reaktor biogas juga sangat baik bila dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Provincial Coordinator Yayasan Rumah Energi, Ir Umar menjelaskan bio slury yang cair dimanfatkan ketika melakukan pembenihan hingga ikan berumur satu bulan atau sebesar jari kelingking. Caranya, cukup siramkan ke kolam dan dibiarkan. Itu akan memancing datangnya plankton yang sangat baik bagi pertumbuhan benih ikan.

BACA JUGA:  Pembiayaan Inovatif Percepat Transisi Energi

Tapi, jika ikan itu sudah besar, maka bio slury padat dicampur dedak dan tepung kanji kemudian dicetak menyerupai butiran.  “Tinggal dikasih makan ke ikan,” katanya.

Umi mengaplikasikanya dengan membuat kolam ikan dan pemberian pakan murni dari pemanfaatan bio slury. Hasilnya tak mengecewakan. Apalagi, bila di kolam terdapat azola atau lemna. “Kalau bisa memanfaatkan bio slury dan lemna, ikan akan tumbuh normal tanpa perlu memberi tambahan pakan dari sejak benih ditabur hingga panen,” terang Ummi.

BACA JUGA:  Kemenag: Hari Raya Lebaran Digelar 1 Mei

Keberhasilan panen ikan menambah keyakinan ummi, pemanfaatan kotoran sapi atau bio slury untuk pakan ikan meyempurnakan pola peternakan terintegrasi.

Dikatakan, konsep daur ulang memberikan hasil terbaik bagi keberlangsungan dan kelestarian alam. “Konsepnya sederhana, sapi makan rumput keluar kotoran dimanfaatkan untuk gas dan pupuk serta pakan ikan. Hasilnya, kembali di makan manusia. Lengkap, integrated farms,’ katanya mengingat pelajaran dari professor Aji.

Dikatakan Ummi, integrated farms atau peternakan terintegrasi tidak harus dengan lahan luas. Di lahan sempit pun bisa dilakukan dengan  memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai bahan baku mini biru (Miru). “Kalau integrated farms bisa diterapkan, uang belanja dapur bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya,” papar ummi yang juga menerapkan integrated farms dirumahnya dengan lahan yang lebih kecil.  (Bersambung)