Oleh: DR Salman Faris

Dalam dunia keagamaan Islam di Sasak, banyak diketahui tokoh penting yang mempunyai pengaruh besar. Sebut saja, Tuan Guru Bengkel, Tuan Guru Faisal, Tuan Guru Umar Kelayu, Tuan Guru Pancor, dan yang terbaru ialah TGB. Mereka tercatat sepanjang masa dalam gerakan keislaman di Sasak hingga TGB yang berdiri tegak dalam garis Islam Moderat pada masa kini. Dalam konteks ini, Sasak mempunyai rentetan tokoh penting yang juga diakui dunia. Sangat menarik karena mereka senantiasa istikomah dalam tiap tarikan nafas mewarnai perjuangan dengan payung kesasakan. Ketika saya melakukan penelitian tentang Tuan Guru Umar Kelayu, di Thailand, saya menjumpai informasi dan konsep penting dalam perjuangan para Tuan Guru ini dengan Sasak sebagai asas. Alanfanani rupanya disadari secara bersama sebagai representasi kesasakan. Dengan begitu, semua Tuan Guru Sasak yang cemerlang dicatat dan dikenali sebagai Alanfanani oleh teman dan guru mereka.

Hal serupa dalam dunia politik, Sasak melahirkan tokoh sekelas Lalu Serinate, Mesir Suryadi, Lalu Mudjitahid, Lalu Azhar, Mamiq Ripaah dan lainnya. Di antara mereka terdaftar sebagai pencetus sumpah bertanda tangan darah di Yogyakarta untuk meletakkan Sasak sebagai aras utama perjuangan politik dan birokrasi. Dan mereka dicatat secara apik dalam benak komunitas Sasak. Luar biasa, orang Sasak mempunyai ingatan genius dalam dua dunia ini. Tokoh agama dan tokoh politik Sasak selalu mewarnai lapisan perjalanan sejarah sosial mereka. Namun aspek sejarah dan kebudayaan, berlaku sebaliknya. Tanpa pahlawan yang dikenang. Padahal, hampir semua utasan benang keagamaan, sejarah, dan politik Sasak ini, ada di kepala Ahmad JD.

Amat banyak yang istimewa pada diri Ahmad JD yang, kesemuanya itu mencerminkan hakikat dan deskripsi utuh tentang orang Sasak. Mudah-mudahan di kali lain, ada inisiasi untuk membincangkannya. Dalam kesempatan ini saya hanya ingin haiglaigkan tentang salah satu hal mendasar dalam sistem kepercayaan Sasak ialah pilihan. Pada dasarnya orang Sasak bukan jenis kaum stoikisme (salah satu aliran filsafat Yunani Kuno yang dicetuskan oleh Zeno pada abad ke-3 SM) yang mempunyai etika apatheia, yakni hanya menerima keadaan secara utuh, menyeluruh sebagai wujud penyerahan diri kepada maunya dunia. Jika merujuk mitos Doyan Nede, orang Sasak ialah mereka yang mengubah, menginisiasi, memproklamasi, mencipta ketiadaan mewujud peristiwa. Dengan kata lain, orang Sasak ialah manusia yang sentiasa sadar dengan adanya diri sehingga dasar falsafah mereka ialah keberadaan.

Ahmad JD lahir dari keluarga berkuasa, terpandang, berilmu, berada dan mempunyai hubungan luas dengan pusat kuasa. Namun hingga akhir hayat, Ahmad JD mengaktualisasikan diri dalam wujud yang sebaliknya. Ahamd JD yang tanpa kuasa, tak terpandang, tak berilmu dan miskin jaringan dengan pusat kuasa. Berjalan kaki dan naik motor ialah kesehariannya. Jika tak memahami latar belakangnya, sudah jelas persepsi yang timbul ialah Ahamd JD bukan siapa-siapa. Akan tetapi, pada diri Ahmad JD yang seperti itu, kita dapat melihat bahwa Sasak diwariskan oleh manusia yang berani membuat pilihan, berkemampuan mengambil keputusan, dan bersiapsedia menerima risiko. Dengan begitu, Ahmad JD tidak merasa runtuh kehormatannya hanya karena tidak naik mobil yang mewah dan tinggal di rumah yang megah. Laku hidupnya ialah pilihan. Karena lampanannya ialah pilihan, dunia Ahmad JD tidak menjadi sempit. Beliau masih dapat mengunjungi semua tempat di Indonesia bahkan di Asia hanya untuk menemukan jawaban dan persoalan yang sedang difikirkan. Beliau berinteraksi tanpa sekatan dengan lapisan manusa jenis apa pun. Hal ini dapat terjadi karena setiap lampanan yang dilakoninya ialah pilihan.

Ahmad JD mengingatkan bahwa orang yang mempunyai pilihan ialah mereka yang berilmu. Dengan kata lain, dasar utama pilihan ialah pengetahuan. Hal inilah yang kemudian meletakkan Ahmad JD sebagai salah satu orang Sasak yang mempunyai pengetahuan luas dalam bidang tertentu dan bisa dihubungkan dengan bidang lain. Berbicara mengenai sejarah dan sistem kebudayaan Sasak, Ahmad JD nyaris tanpa cacat, hampir nihil kesalahan, layaknya Tuan Guru Sasak yang amat terpandang yang hampir bersih dari kekeliruan ketika menghujahkan agama Islam. Ahmad JD dapat menjelaskan secara detail perkara-perkara yang rumit dan rahasia dalam sejarah dan sistem kebudayaan Sasak. Sekali lagi, dalam hal ini, Ahmad JD ialah pusat pengetahuan.

Ketika pusat pengetahuan Sasak itu pergi, dapat bermakna Tuhan mencabut peradaban dan pengetahuan kesasakan. Dengan begitu, mudah-mudahan orang Sasak mulai berfikir dan bertindak untuk tak hanya mempunyai tokoh penting yang dikenang sepanjang masa dalam keagamaan dan politik namun juga dalam sejarah dan kebudaayan mereka. Bukankah siapa pun yang berkontribusi untuk kebesaran Sasak berposisi setara?

Malaysia, 12 Juni 2020

Penulis:
DR Salman Faris adalah akademisi, Praktisi Seni Budaya dan Pemerhati Media. Kini tinggal di Kuala Lumpur Malaysia.