Bapak Enal Rensing Bat (Model Utama Bagi Orang Kalah)

Oleh: DR Salman Faris

Apakah kedudukan penting manusia seperti Bapak Enal untuk menanamkan nilai juang, nilai diri pada orang-orang kalah di kampung terpencil? Amat sedikit manusia di dunia ini yang berilmu tinggi, berpendidikan tinggi, menempuh pendidikan di pergurun tinggi prestisius di Mesir yang memilih menjadi petani di desa nan jauh sebagai jalan dakwah.

Saya membayangkan, jika di setiap kampung ada orang hebat seperti itu, maka di masa depan, Sasak pasti menjadi raja di kampung halaman mereka sendiri.

Saya menulis dari perspektif sebagai orang paling miskin di Rensing Bat Lombok Timur yang selalu melihat diri dengan bercermin kepada mereka yang bernasib lebih baik. Perspektif ini penting saya tegaskan, terutama untuk menunjukkan bahwa diperlukan sosok yang utuh dan kuat sebagai model bagi orang miskin seperti saya agar dapat melihat dunia secara lebih baik dibandingkan realitas nasib yang sedang memayungi pada masa pertumbuhan saya di tahun 1970-an hingga 1990an di Rensing Bat.

Setelah itu, saya pun menguatkan perspektif tersebut dari sisi saya yang lahir dan tumbuh di Rensing Bat. Satu Dusun pada masa itu yang selalu dibanding-bandingkan dengan Rensing Timuk. Rensing Bat sebagai jamaah petani yang terbelakang sedangkan Rensing Timuk sebaliknya. Rensing Bat sebagai yang inferior dan Rensing Timuk superior.

Kondisi saya sebagai orang miskin dicampur dengan cara pandang sosial orang lain terhadap Rensing Bat menjadi peniup darah diri yang serba di bawah. Serba kalah. Serba rendah. Serba lain yang bermuara kepada menempelnya ketakutan berlebih terhadap realitas pergulatan ala kampung yang kadang kejam. Meski kuat secara fisik, namun tak boleh menjadi pemenang jika berhadapan dengan sahabat-sahabat saya dari Rensing Timuk, apatalah lagi Peteluan. Karena saya miskin dan datang dari dusun Rensing Bat, saya mesti menerima diri sebagai yang dikalahkan. Begitulah yang berlaku hampir selama dua dekade masa pertumbuhan saya di Rensing Bat.

Dus, pada masa itulah saya perlukan model. Sebab jika tak ada model, bisa jadi kemiskinan dan kekalahan tersebut akan menggantung masa depan hingga membuat saya terjerembab ke jurang kekalahan, kemiskinan, bahkan kehinaan yang panjang hingga hari tua. Pandangan saya ialah orang atau kelompok di suatu kampung tertentu yang masih mengalami keterbelakangan dan kekalahan karena tidak memiliki mode utama yang hebat.

Saya memulai dari pemilihan kepala Desa Rensing, saya lupa tahun berapa pastinya. Yang pasti pada masa itu, ada dua calon yang mewakili kekuatan dan ketokohan masing-masing. Kedua calon terserbut ialah Bapak Enal dan Bapak Alil (Montong Galeng). Kalau membayangkan sejarah kolonialisasi Sasak dan konflik agraria di Lombok, maka boleh dianalogikan pemilihan kepala Desa Rensing pada waktu itu ialah kontestasi antara perwakilan kaum termarjinalkan dengan kelompok yang superior. Montong Galeng diuntungkan dekat dengan Peteluan sebagai pusat desa Rensing. Jadi kasta mereka lebih beruntung jika dibandingkan dengan Rensing Bat pada masa itu.

BACA JUGA:  Selamat Jalan Ida Zubaeda!

Pemilihan di Aula MTs. NW Rensing itu tentu saja berlangsung sangat ketat. Pendukung Bapak Enal dengan idoelogi perlawanan kelas dan pendukung Bapak Alil dengan ideologi superior bertarung habis-habisan. Sengit. Penuh ketegangan. Pendukung Bapak Enal berani mengangkat muka pada saat itu karena salah satu tim suksesnya ialah kanda Haji Sekum (kepala Desa Rensing, almarhum). Satu keuntungan yang tak terduga sebab beliau tinggal di Peteluan yang, diprediksi mendukung Bapak Alil. Saya pernah ada kesempatan menanyakan kepada beliau, kenapa memilih menjadi tim sukses Bapak Enal, beliau menjawab, “Haji Saleh itu (nama lain atau bajang Bapak Enal) orang berilmu. Alumni Mesir. Namun hidup layaknya orang biasa. Beruntung Rensing kalau punya kepala desa seperti dia.” Alasan mendukung yang sangat mengesankan.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, meski pendukung Bapak Enal berharap menang, namun pasti kekhawatiran kalah jauh lebih besar. Karena dibandingkan Bapak Enal, siapa yang tidak mengenal Bapak Alil pada masa itu. Namun Allah sudah menggariskan satu kepastian. Alhamdulillah Bapak Enal menang besar. Seluruh pendukung takbir sepanjang jalan pulang ke rumah masing-masing. Saya tak tahu pasti, berapa ekor sapi yang disembelih sebagai tanda kemenangan dan syukur. Tidak hanya di Rensing Bat, namun di basis-basis lain, termasuk yang dikomandoi kanda Haji Sekum. Satu ekspresi yang seolah menggambarkan arus balik kaum marjinal menuju jalan panjang kemenangan.

Apa yang paling berarti bagi diri saya atas kemenangan Bapak Enal sebagai kepala desa Rensing? Saya mempunyai model. Mulai tumbuh definsi baru tentang peluang dan harapan. Tumbuh secara perlahan pada diri saya satu pemaknaan tentang kesetaraan kelas. Berkelindan secara mendalam pada diri saya tentang satu keberanian, tentang akar keyakinan. Bahwa mimpi tak boleh hanya digantung menjadi pajangan langit-langit kamar atau penghias dinding pagar rumah saya yang buruk rupa. Sebagai anak yang baru tumbuh pada masa itu, saya secara perlahan berani mengangkat muka. Wajah yang dulu saya benamkan di bawah ketiak baju saya yang buruk, sedikit demi sedikit mulai berani menyembul keluar.

Susah terlukiskan betapa sakit menjadi orang kalah pada masa itu. Ejekan yang dilontarkan kepada saya sebagai anak Rensing Bat telah melunturkan segala diri saya. Namun kemenangan Bapak Enal sebagai kepala Desa Rensing secara perlahan menyulam kembali koyak moyak hati hancur sebagai orang kalah. Saya mulai melihat, ada masa depan Rensing Bat.

BACA JUGA:  Ridwan Kamil Memasukkan Tanah Pertama ke Makam Eril di Cimaung

Saya berbisik kepada diri sendiri, “Jangan lagi menunduk, tegakkan langkah. Berhenti kubur pandangan matamu!”

Maka mulailah saya mendidik diri saya setara dengan kelompok superior. Rensing Bat tak boleh lagi dipandang remeh. Kepala Desa Rensing ialah orang Rensing Bat. Titik! Pada fase ini, saya mulai berani mengajak wanita dari Rensing Timuk yang terkenal cantik pada masa itu untuk berpacaran. Meski saya tahu dia sudah punya pacar cukup lama, namun itu tak menghalangi niat saya. Walau hingga kini wanita itu tidak mengatakan ya atau pun tidak, setidak-tidaknya, itu menjadi titik balik kepercayaan diri saya sebagai anak miskin dari Rensing Bat. Tidak berhenti di situ, wanita dari Peteluan, Montong Tebolak, Montong Galeng, Baren Mayung, Bungtuang, Pengkelak Mas tak lepas dari bidikan saya. Dengan cara seperti itu, saya mulai menemukan satu harga diri. Satu kepercayaan diri. Satu momentum di mana saya berpikir yang, meski saya anak miskin dari Rensing Bat harus punya bidikan masa depan.

Rupanya, sebelum terpilih jadi kepala desa, Bapak Enal belum dapat mengendarai motor. Maka mau tidak mau, beliau belajar naik motor karena motor dinas bermerek Honda Win sudah ada di rumah beliau. Jadi setiap pagi beliau memasihkan diri naik motor. Guratan wajah dan senyumnya selalu menjadi salam hangat bagai siapa saja. Motor dinas itu menjadi salah satu motor pertama di Rensing Bat setelah motor Honda Astrea Prima milik Bapak Pian. Maka saya sudah hapal betul suara mesin motor Bapak Enal. Selepas itu, berlari ke luar ke jalan untuk melihat beliau yang tenang di atas motor. Begitulah berlangsung selama bertahun-tahun.

Apakah menjadi kepala desa mengubah keseharian Bapak Enal? Tidak. Jangankan menjadi kepala desa, kedudukannya sebagai alumni Mesir pun tidak mengubah peribadinya yang amat sederhana. Selalu memandang orang dengan kebaikan. Senyum dan suara khasnya tidak pernah membuat anak-anak miskin seperti saya merasa takut. Tak banyak bicara namun gestur tubuh dan mimik muka memperlihatkan yang, ada rasa aman di situ. Keamanan diri itulah salah satu yang amat diperlukan orang miskin.

Sebagai keseharian petani ialah jalan tunggal Bapak Enal. Tidak ada status dan kedudukan baru yang dapat mengubah beliau. Seolah-olah itulah jalan iman dan jalan dakwah beliau. Maka, tak jarang menandatangani surat desa pun dilakukan di pematang sawah. Bahkan saya tidak tahu beliau pernah menimba ilmu di Mesir sebab tampilannya sama dengan orang lain di Rensing Bat. Lantas apa yang berarti bagi saya dengan kepribadian Bapak Enal yang kampung itu?

Di awal saya katakan, betapa terpuruknya diri sebagai orang paling miskin. Meskipun sejak Sekolah Dasar sampai MTs. NW Rensing bahkan hingga saya nyantri di Pancor, saya tak pernah tidak juara. Namun kepintaran tak cukup untuk membuat diri merasa setara di depan orang yang lebih kuat. Kadang prestasi selalu terbenam di samudera kemiskinan. Sakit yang terasa dalam sebagai orang miskin yang selalu duduk di tepi masjid dengan mendapatkan dulang paling rendah saat lebaran, sungguh tidak terkira rasanya. Melihat kawan-kawan yang bernasib lebih baik, duduk andang dulang bersama orang tua mereka yang juga bernasib lebih baik, sungguh membuat diri rasa terpukul berkeping-keping.

BACA JUGA:  Maulana Mewasiatkan NW Kepada Anaknya Ialah Meragukan

Inilah salah satu fase paling pahit dalam sejarah manusia. Dan saya yakin, sebagian besar kawan-kawan sebaya saya yang msikin yang, hingga kini kurang beruntung, disebabkan oleh kegagalan mereka keluar dari masa-masa pahit itu. Saya tidak mau berada lama dalam situasi penderitaan itu, maka sekali lagi, saya perlukan model.

Bapak Enal, tergolong dari keluarga berada di Rensing Bat. Namun cara beliau memandang saya setiap berpapasan di pematang telabah tidak membuat saya terhukum sebagai orang miskin. Pernah beliau mengajak saya duduk di tepi sawah dalam rimbun daun tembakau di sawahnya. Beliau menanyakan sekolah saya. Dan memberikan sanjungan yang amat berharga. Sanjungan dari orang terhormat kepada anak miskin papa seperti saya: “Kepenterm kamu. Ndak betelah sekolah.” Meskipun sanjungan pada masa itu saya tak dapat pahami, namun itu lebih dari cukup untuk membuat diri saya tidak merasa hina. Atau harus melawan rasa kehinaan yang tinggi.

Setelah saya meninggalkan Rensing Bat untuk berkelana dalam pengalaman yang panjang dan pahit, satu persatu saya mulai memkanai kehadiran penting tokoh seperti Bapak Enal di tengah kampung yang masyarakatnya selalu dikalahkan, selalu dinomorduakan. Betapa anak-anak yang hebat harus bernasib sangat buruk hanya karena mereka tidak mempunyai orang seperti Bapak Enal yang, memberikan teladan, menembakkan inspirasi, melonjakkan motivasi untuk menggenggam mimpi.

Bagi saya, orang seperti Bapak Enal jauh lebuh hebat dari seorang presiden sekalipun karena tokoh seperti ini menyelamatkan begitu banyak anak hebat di kampung miskin dan terpencil dengan cara sederhana namun berkesan sepanjang masa sebab tumbuh pada masa anak tersebut sedang memerlukan model panutan yang tepat.

Jadi, jika saya ditanya, siapa pahlawan awal dalam diri saya pada masa pertumbuhan saya yang amat pahit dalam kemiskinan dan kekalahan ialah Bapak Enal.

Semoga di Rensing Bat dan di desa yang lain, terus tumbuh panutan hebat tampil sederhana berhati mulia seperti Bapak Enal.

Selamat jalan pahlawan. Insya Alloh surga menunggumu. Aamiin

Malaysia, 15 Februari 2021

>