Oleh: DR Salman Faris

Apakah cara menyinta kita selama ini salah? Tentu saja tidak salah. Hanya saja perlu dirumuskan kembali karena sebaik-baik cara menyinta ialah yang berhasil membuat kita menjangkau masa depan yang lebih. Cara menyinta yang berhasil meneribitkan matahari kembali ialah seulung-ulung cinta itu.

Kalau cara menyinta itu hanya membuat kaki semakin kukuh, kuat, tangguh namun tidak berhasil membuat kita melangkah lebih tangkas, lebih trengginas, lebih bernas, dan lebih berdaya guna luas seluas-luasnya, itu pertanda yang, cara menyinta itu perlu dirumuskan kembali.

Apakah cara menyinta yang sudah membuat kita kukuh namun berjalan di tempat itu keliru, tentu saja tidak keliru sebab masih mengandung magma cinta di dalamnya. Namun jika diukur dari keperluan kekinian dan kehendak menyongsong masa depan yang unggul, ya, mau tidak mau, merumuskan kembali cara menyinta ialah kemestian.

Cinta jangan diubah namun rumusan cara menyinta sebaiknya selalu berkembang. Sebab cinta tidak pernah keliru namun cara menyinta amat sering mengelirukan. Bagian apa yang perlu diubah pada kasus cinta buta? Ya, butanya itu. Sebab buta merupakan epistemologi sedangkan ontologinya ialah cinta. Sebagai sebuah ontologi, cinta dapat dipandang bernilai kekal. Untuk mendapatkan keagungan dari kekekalan cinta tersebut, cara menyinta mesti diubah. Tidak lagi buta, misalnya, melainkan rasional. Cinta dalam kritis. Cinta dalam akal sehat. Cinta dalam nalar yang selamat lagi menyelamatkan.

Nah, dalam konteks hal tersebut di ataslah makna merumuskan kembali cara menyinta ini, makna restore of love ini dapat dilengketkan dengan kesesuaian dan keperluan. Saya tidak hendak menggugat cinta, sebab tak ada etika yang menyokong saya untuk mempersoalkan perasaan cinta. Namun sebagai abituren, saya juga berkewajiban mempersoalkan cara menyinta kepada Maulana dengan tujuan agar cinta yang menggebu-gebu mengharu biru tersebut melahirkan daya guna, daya manfaat, daya turbulensi yang kuat yang, goalnya ialah lahirnya satu kesadaran dan gerakan konstruktif serta etik untuk merumuskan cara menyinta kepada maulana.

Meski demikian, saya tidak hendak menawarkan sesuatu yang pasti, sesuatu yang bersifat baku dan tetap dalam tulisan ini. Saya hanya sederhana berimajinasi tentang Maulana sebagaimana tokoh yang lain. Gus Dur, misalnya.
Tentu saja, amat tidak etis saya membandingkan kedua guru saya ini, selain karena Maulana sebagai guru utama dan kepada Gus Dur saya belajar tidak langsung dan hanya sesekali secara langsung di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Jogja. Namun melihat bagaimana jamaah NU memandang dan menerima Gus Dur, imajinasi saya tidak dapat disangkal untuk mencoba melihat Maulana sebagaimana Gus Dur. Dan mungkin juga Gus Dur bukan satu-satunya model untuk dapat menggambarkan imajinasi saya tentang cara menyinta kepada Maulana. Namun karena Gus Dur memang amat popular dan plural, saya beranikan diri untuk mengetepikan rasa etik tersebut guna mendapatkan kelonggaran dalam menjelaskan apa yang saya maksud merumuskan kembali cara menyinta Maulana.

Sebagai seorang tokoh, Gus Dur cukup lengkap. Menariknya, dalam setiap segmen, Gus Dur mempunyai cerita yang amat melekat, sangat kultural. Sebagai ulama, banyak episode pandangan jamaah kepada Gus Dur. Sebagai Intelektual pun demikian. Hal yang sama berlaku dari sudut Gus Dur sebagai politisi, negarawan, aktivis LSM, pencerita, penulis, bahkan sebagai keturunan langsung pendiri NU dan banyak lagi yang lainnya. Sekali lagi, amat menarik ialah semua ruang dan waktu yang di situ ada Gus Dur berkecimpung, pasti mempunyai kisah, cerita, dongeng, hingga sejarah yang orang lain menerima dengan sangat baik. Orang mengenang dan memberikan pandangan yang amat mengagumkan. Hal tersebut membuat Gus Dur menjadi model manusia yang berdimensi luas. Ketika bebicara Gus Dur dari segi dagelan, orang tertawa terpingkal-pingkal. Hal yang sama ketika Gus Dur sebagai ulamak, orang berinteraksi secara takzim. Membincangkan keilmuan Gus Dur sama serunya dengan membicarakan “kedagelanan” Gus Dur. Bahkan dalam politik pun, lawan menjadi cecair yang luwes. Dengan begitu, dimensi kewalian, keulamaan, kemanusiaan, serta dimensi sakralitas dan profanitas menjadi longgar yang, akhirnya semakin mencerminkan sosok Gus Dur yang multi dimensi, multi ruang, multi sosial. Dengan kata lain, setiap orang, setiap lapisan masyarakat mempunyai cerita keintiman yang mengagumkan tentang Gus Dur pada setiap ruang dan waktu. Dan begitulah impian yang saya imajinasikan berlaku pada maulana.

Untuk menuju keinginan dan imajinasi tersebut, saya berpandangan sebelum menentukan rumusan, strategi, pola, metode, hal paling mendasar yang sebaiknya dikonstruksi kembali ialah cara pandang kita terhadap maulana dalam konteksnya dengan masyarakat pada ruang dan waktu. Hal ini dapat saja berarti bahwa boleh jadi ada kelemahan yang perlu diperbaiki selama ini dalam cara kita memandang Maulana. Misalnya, cara pandang yang bersifat mono perspektif, cara memandang sebagai kebenaran tunggal, cara pandang yang mengandungi watak anti kritik. Jika betul ada kelemahan ini, kita mesti bersedia mengoreksi diri. Apabila tidak ada kesalahan cara pandang, ya, Alhamdulillah. Namun pertanyaannya, kenapa fenomona Gus Dur dan Gus Durian yang multi itu tidak begitu kentara berlaku pada Maulana? Padahal dari sisi syarat, kedua tokoh ini sudah sama-sama memenuhi. Atau pertanyaan saya ini yang keliru? Waduh, repot kalau cara berdiskusi kita semacam ulang alik fenomena dan mempersoalkan fenomena semacam ini. Jadi, saya tegaskan kembali posisi saya dalam tulisan ini yang, memang ada masalah dalam cara pandang kita kepada Maulana. Boleh jadi kelemahan cara memandang tersebut cukup banyak dalam berbagai hal, namun dalam tulisan ini saya ingin mengulas sebagian saja. Mudah-mudahan rekan sarjana yang lain dapat menemukan dan mengulasnya nanti.

Pertama, Maulana sebagai manusia dan manusia yang istimewa. Sudah banyak sekali kajian-kajian ilmiah tentang keistimewaan Maulana. Bahkan ijazah yang ditulis tangan dengan kumulatif nilai sepuluh bintang tersebut sudah kesahihan yang tak dapat dibantah tentang keistimewaan Maulana. Jadi biar itu menjadi ranah pakar cendekia yang lain. Yang ingin saya tekankan di sini ialah Maulana sebagai manusia. Tentu saja kita mesti menerima kenyataan ini yang Maulana juga ialah manusia biasa. Sebagai manusia biasa, pasti Maulana mempunyai kelemahan. Dan sebagai manusia biasa, kelemahan tersebut tidak perlu ditutupi. Sebab apa? Bahkan tentang kegagalan, kekalahan, atau kelemahan paling dasar pun dari seorang manusia yang ditokohkan, dapat menjadi pelajaran penting dan berharga bagi orang lain. Itu akan menjadi sejarah yang bernilai pembelajaran bagi manusia berikutnya. Untuk memahami apa yang saya maksudkan dalam konteks ini adalah seperti ini. Apa jadinya jika sejarah kekalahan perang Pangeran Diponegoro, kekalahan Cut Nja’ Dhien, Kekalahan Sultan Hasanuddian ditutupi. Sudah tentu, Indonesia tidak akan mendapatkan pelajaran berharga dari kekalahan tersebut jika sejarah menutupinya rapat-rapat. Namun yang paling penting dari semua itu adalah sejarah kekalahan tersebut tidak memudarkan nilai kepahlawanan ketiga tokoh besar tersebut. Serta, anak keturunan mereka tidak merasa direndahkan.

Sebagai manusia biasa, Maulana sudah pasti pernah melakoni sejarah hidup yang menggambarkan beliau sebagai manusia biasa. Sebagai contoh sederhana, beliau pernah tegaskan yang Bahasa Inggris ialah bahasa yang paling tidak bisa beliau pelajari. Atau polemik keorganisasian NW selama beliau hidup, hubungan beliau dengan beberapa tokoh di Lombok dan hal-hal lain. Tentu saja, menelaah sisi kelemahan tersebut dengan satu tujuan yakni mengambil pelajaran berharga guna dapat merungkai kembali kelemahan tersebut menjadi kejayaan di masa kini serta masa depan. Saya mengira ruang ini amat terbuka, sebab sejauh pengalaman saya berguru langsung pada beliau, tidak jarang beliau terbuka dalam hal-hal yang boleh jadi sensitif. Ini menunjukkan, secara personal beliau telah juga mengaktualisasikan diri sebagai manusia, namun kita sebagai murid, sebagai abituren, sebagai keturunan mungkin masih ada kekuatiran jika memandang Maulana sebagai manusia ini akan mengurangi penghormatan kita kepada beliau. Saya kira, ini cara berfikir dan menyinta yang agak atau bahkan mengelirukan. Bagi mereka yang benar-benar mengikuti lampanan maulana, pasti lebih banyak mengetahui sisi maulana sebagai manusia biasa ini. Amat disayangkan jika ia tak dikonstruksi sebagai pelajaran berharga untuk generasi kini dan mendatang.

Kedua, kita mesti sadar sesadar-sadarnya bahwa Maulana ialah milik publik. Sebagaimana NW yang dilahirkannya pun ialah milik publik. Dengan begitu, Maulana tidak boleh diprivatisasi sebab dengan begitu, akan mengurangi peluang generasi mendatang untuk belajar dari tokoh yang hebat. Dengan menyadari serta menerima yang, Maulana ialah milik publik, maka kita sekaligus menerima jika masyarakat mempunyai definisi, penilaian, pandangan masing-masing tentang Maulana. Seperti halnya Gus Dur yang dari semua jenis orang yang mengenalinya mempunyai pandangan tentang Gus Dur. Dari manusia yang paling jahat sampai manusia yang wali. Dari manusia yang paling berkuasa sampai manusia yang paling tak berkuasa. Dari manusia yang paling kaya sampai manusia yang paling miskin. Dari manusia yang paling Islami sampai manusia yang paling kafir. Semuanya mengonstruksi penilaian dan pandangan tentang Gus Dur yang, kesemuanya itu merupakan ekspresi kecintaan, penghormatan, dan kekaguman kepada Gus Dur. Kenapa hal ini berlaku? Karena keluarga Gus Dur dan NU tidak memprivatisasi Gus Dur sebagai sosok yang yang semata-mata suci ekslusivis.

Karena Maulana ialah sahih sebagai milik publik, tidak boleh ada orang atau institusi atau lembaga yang mempunyai kuasa yang otoritatif. Dia yang paling segalanya pada ketokohan Maulana. Yang paling strategis menjadi payung ialah etika moral. Bukan personal atau institusi. Maskud saya ialah apa pun penilaian dan pandangan siapa pun tentang Maulana, tidak boleh ada otoritas di situ sepanjang etika moral dijalankan. Sejauh ini, banyak orang terpingkal-pingkal dengan kelakar dan kelawakan Gus Dur, namun mereka tidak menghina dan merendahkan Gus Dur. Dengan begitu, payung etika moral ini saya maksudkan ialah segala ekspresi kemaulanaan itu ialah bentuk cinta, hormat, takzim mendalam kepada Maulana sebagaimana yang terjadi pada sosok Gus Dur.

Ketiga, membumikan pemikiran dan karya Maulana bukan membumikan Maulana. Kenapa Gus Dur terus masyhur bahkan semakin membubung? Sebab pikiran Gus Dur terus dibumikan. Meskipun Gus Durian meyakini yang Gus Dur ialah wali Allah, namun keyakinan tersebut tidak menjadi sekat bagi mereka untuk membincangkan Gus Dur dengan cara mereka dalam segala jenis perspektif. Sebab mereka sadar yang dilakukan ialah membumikan pemikiran Gus Dur.

Kenyataan bahwa sosok Maulana dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Beliau tidak dapat menyentuh masa depan generasi manusia. Namun pemikiran dan hasil karyanya tidak mempunyai batas dimensi. Karena itu, oleh pengikut Maulana semestinya meramu pemikiran tersebut agar berterima, agar bersesuaian dengan segala zaman segenap generasi manusia. Orang tidak bisa dipaksa untuk menerima maulana sebagaimana kita yang sudah bertatap muka secara langsung dengan Maulana. Namun semua orang dapat dikonstruksi untuk memahami dan menerima pemikiran dan karya nyata maulana. Dan tidak kalah pentingnya ialah tidak semua orang dapat diplot untuk menjadi NW, namun semua orang dapat dikondisikan untuk menerima pemikiran Maulana yang tertuang dalam NW. Semua generasi dapat dikonstruksi untuk akrab, bersaudara, bersahabat dengan gagasan-gagasan keNWan.
Saya berpandangan, gagasan KeNUan, gagasan keMuhammadiyahan jauh lebih besar dari pendirinya. Itulah sebabnya NU dan Muhammadiyah mempunyai dimensi ruang dan waktu yang luas. Orang di belahan dunia ini boleh tidak tahu siapa pendiri NU dan Muhammadiyah, namun mereka mengakrabi secara mendalam gagasan keNUan dan keMuhammadiyahan yang, ujungnya akan dipertemukan dengan sosok di balik lahirnya dua oraganisasi kemasyarakatan. Maksud saya, jangan kita paksakan orang menerima Maulana dengan cara yang tidak tepat yang, akhirnya juga berujung menolak NW. Sebagai murid Maulana, tentu saya merindukan seperti itu. Kita mesti berani berfikir yang gagasan keNWan jauh lebih besar dari maulana. Dengan begitu, maulana akan sentiasa hidup dalam segala ruang dan waktu.

Adalah durhaka bagi kita jika malah menyempitkan NW dan maulana dengan keliru merumuskan hubungan NW dan maulana.

Akhirnya, hanya Alloh Yang Maha Tahu yang menjadi pusat kebenaran. Saya hanya berikhtiar melalui tulisan.

Jangan marah jika berbeda pandangan dengan saya, sebab itu bukan ajaran maulana. Itu juga bukan gagasan keNWan.

Malaysia, 10 November 2020