Sampah Jadi Berkah

Pemanfaatan energi fosil untuk berbagai keperluan hidup manusia meninggalkan bekas polusi dan permasalahan lingkungan lainnya. Namun, dengan energi terbarukan persoalan lingkungan bisa dihindari dan polusi pun tak perlu dtakuti.  Yang menarik, dengan memanfaatkan kotoran sapi dan sampah organik rumah tangga, warga Desa Narmada utamanya Dusun Batukantar, Muhajirin dan Dusun Temas menuai gas dan bio slury yang bisa dimanfaatkan untuk pupuk pertanian dan pakan ikan. 

Berikut catatan Editor jurnalis Mataramradio.com, Dedi Suhadi mengenai pemanfaatan sampah menjadi berkah.

Kotoran Sapi Untuk Kompor Gas

Energi tebarukan  menjadi isu sensitif di ranah perkembangan pemanfaatan energi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dengan pola daur ulang, energi terbarukan akan mampu mengambil peran energi masa depan.

Bagi Hj Umminingsih, warga Desa Narmada kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat persoalan energi terbarukan merupakan proses mendaur ulang sesuatu yang tadinya dianggap tidak bermanfaat menjadi bermanfaat.

Hj Ummingsih, Peternak yang mengembangkan energi terbarukan I Foto:Dedi Suhadi

Pada 2012,  Fakultas Peternak Universitas Mataram memberikan dua ekor sapi kepada Hj Umminingsih saat melakukan kegiatan pengabdian masyarakat. Dengan pendampingan, Prof Drh Adji S Drajat  sebagai Dosen pembimbing mahasiswa KKN, Umminingsih mulai menggeluti peternakan sapi.

Untuk pakan sapinya, Umminingsih memanfaatkan kulit singkong yang dibuang oleh pemilik usaha keripik. Dalam sehari, sebanyak 80 kg  kulit  singkong bisa dimanfaatkan untuk pakan sapi.

Pakan sapi terselesaikan, namun kotoran sapi  menjadi masalah selanjutnya. Apalagi di musim hujan, kotoran sapi yang berada di sudut pekarangan semakin merajalela. Profesor Aji memberi solusi memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku biogas. Ketika konsep itu ditawarkan, siapa ahli yang bisa mengerjakan? 

Pemanfaatan Kotoran sapi untuk Biogas di Desa Narmada I Foto: Dedi Suhadi

Gayung bersambut, Yayasan Rumah Energi  yang merupakan kelanjutan Hivos, salah satu NGO luar negeri yang konsen dalam masalah lingkungan utamanya pemanfaatan energi terbarukan dengan Ir Umar sebagai provincial coordinator menawarkan kerjasama “Alhamdulilllah, waktu itu ada program dari Hivos yang menawarkan pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas,” terang Ummi

BACA JUGA:  Kinder Joy Dilarang Beredar, Ini Penjelasan BB POM Mataram!

Pada 2013, kesepakatan rumah tangga ditandatangani antara Yayasan Rumah Energi dengan Hj Umminingsih. Pembuatan tabung reaktor biogas dimulai. Satu pekan setelah pembuatan tabung reaktor, biogas sudah bisa dimanfaatkan untuk keperluan dapur dan penerangan. Terselesaikanlah persoalan kotoran sapi dan dapur secara bersamaan. ‘Bau kotoran sapi sudah tidak menyengat lagi, mana dapat gas gratis,” ungkap Ummi.

Kulit singkong yang selama ini dimanfaatkan untuk pakan sapi, tiba-tiba tidak dipekenankan lagi untuk diambil oleh pemiliknya. Karena, pemilik usaha keripik memanfaatkan kulit singkong untuk pakan sapi yang baru dibelinya.

Disaat tak terduga, terlintas di benak Ummi untuk memanfaatkan sampah organik penjual makanan seperti penjual pelecing kangkung dan makanan lainnnya. Namun karena jumlahnya sedikit, tidak bisa mencukupi kebutuhan pakan sapi. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya sapi di jual.

Lantas bagaimana nasib biogas? Profesor Aji memberi solusi untuk memanfaatan limbah organik rumah tangga sebagai pemasok biogas.  “Sejak itu, limbah rumah tangga menggantikan kotoran sapi,” terang ummi

Keberhasilan ummi membuat iri ibu rumah tangga lainnya. Beberapa ibu rumah tangga meminta, bila ada program biogas lagi agar dilibatkan. Gayung bersambut.

Saat itu, Dinas Lingkungan Hidup Lombok Barat memiliki program kampung Iklim (Prokklim). Menurut Kasi Pencemaran  Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lombok Barat, Nursita,  Prokklim yang dimulai sejak 2012 sebagai salah satu upaya mengurangi dampak pemanasan global sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan. Dengan melihat kondisi yang ada, maka Dinas Lingkungan Hidup Lombok Barat memutuskan untuk membuat biogas.

Secara kebetulan, Desa Narmada mencanangkan program Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi salah satu program kerjanya. Turunan dari program ini, bagaimana menata lingkungan agar memenuhi standar kebersihan dan kesehatan. Pemanfaatan kotoran sapi untuk biogas menjadi alternatif pemecahan masalah bagi warga Desa Narmada yang sebagian besar memelihara sapi di pekarangan rumah.

BACA JUGA:  Desa Jadi Titik Awal Distribusi JPS Gemilang

Berkat komunikasi yang baik dan intensif antara kepala Desa, Ir Jhoni Suryanto dengan  Dinas Lngkungan Hidup Lombok Barat maka pembuatan biogas sebagai penunjang program  pola hidup bersih dan Sehat (PHBS) bisa dilaksanakan di Desa Narmada.

Secara berturut sejak 2015 hingga 2018 ,Warga Desa Narmada mendapatkan bantuan pembangunan biogas sebanyak 15 buah yang ditempatkan di Dusun Batu Kantar sebanyak 14 buah  dan Dusun Temas satu buah. Hingga kini, biogas yang berada di Dusun Batu Kantar maupun Temas masih berfungsi dengan baik.

Doni,  warga Dusun Batu Kantar Desa Narmada mengaku tertarik menggunakan biogas setelah melihat keberhasilan Ummi dalam memanfaatkan kotoran sapi. Setelah melihat cara memanfaatkan biogas yang begitu mudah, Doni meminta kepada Ummi jika dirinya siap menerima bila ada bantuan biogas. “Begitu dapat informasi ada bantuan biogas, saya langsung bersedia,” ungkap Doni yang mendapatkan bantuan biogas pada 2015.

Sejak memanfaatkan biogas, Doni begitu merasakan manfaatnya. Bila sebelumnya,  dalam satu bulan ia harus mengeluarkan biaya minimal Rp 40 ribu  untuk membeli gas, dengan memanfaatkan biogas uang Rp 40 ribu bisa digunakan untuk keperluan lain. Bahkan, yang ikut merasakan bukan hanya dirinya tapi juga kakek dan bibinya. “Dari tiga sapi yang ada, bisa memenuhi kebutuhan gas di tiga rumah,” jelasnya.

Kata Doni memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku biogas tidak terlalu sulit. Apalagi, dirinya dan warga tinggal memanfaatkannya. Semua keperluan untuk pembuatan tabung biogas hingga pelatihan sudah ada yang menanggung. Hanya diperlukan tekad yang kuat dan mau belajar, sudah bisa memanfaatkan biogas. “Harus ada tekad dan kemauan yang kuat karena untuk memanfaatkan kotoran sapi harus siap dengan bau dan kotor,” katanya.

Untuk bisa memanfaatkan biogas secara terus menerus, jelas Doni dirinya dan keluarganya setiap pagi memasukkan kotoran sapi ke tabung reaktor. Dari tabung reaktor, gas metan disalurkan melalui pipa yang terhubung dengan kompor.

BACA JUGA:  Kolaborasi, Wujudkan Transisi Energi Fosil ke Energi Terbarukan

Menurut Doni, keuntungan menggunakan biogas selain mendapatkan gas secara gratis juga hasil olahan biogas bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman. “Dalam sebulan bisa menjual pupuk hingga Rp 200 ribu. Itupun sebagian pupuk dimanfaatkan untuk pupuk tanaman sendiri,” jelasnya.

Senada dengan Doni, Sriyanti. Srikandi, warga Batu Kantar ini pun tak menampik jika biogas sangat membantu dirinya mengurangi uang belanja untuk pembelian gas. Apalagi, selain untuk keperluan dapur, biogas dari 4 ekor sapi di rumanya juga dimanfaatkan untuk memasak usaha kuliner. “Saya jualan ikan (jual lauk pauk),” katanya.

Sriyanti mengaku walau bukan dirinya yang langsung turun mengolah kotoran sapi menjadi biogas, berkat bantuan, Latika sang suami kini dirinya tidak dipusingkan lag untuk pembelian gas. “Dulu, satu tabung gas paling bisa bertahan tiga hari. Kini, dengan memanfaatkan biogas, satu tabung bisa dipakai satu minggu lebih,” paparnya.

Menurut Latika, memanfaatkan kotoran sapi untuk dijadikan biogas, tidak sulit. Tinggal mengambil kotoran sapi dari kandang, campur dengan air sambil diaduk. Kalau sudah tidak terlalu kental, tinggal buka penutup, kotoran sapi akan masuk ke tabung reaktor. Selesai. “Tinggal pakai,” jelasnya.

Pemanfaaatan kotoran sapi menjadi biogas, jelas kepala seksi pengembangan Energi Baru Terbarukan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral propinsi NTB, Niken Arumdati memang menjadi proritas yang diusung pemerintah NTB. Namun keterbatasan anggaran menjadi sebab, program ini tidak berjalan secepat yang diinginkan.

Di tahun 2018, dengan dana sharing dari pemerintah pusat, pemerintah propinsi NTB berhasil membangun biogas sebanyak 389 buah. Namun di tahun 2019, ketiadaan dana alokasi khusus dari pemerintah pusat mengakibatkan pemerintah NTB hanya bisa membangun dua buah biogas.

Walau begitu, di tahun 2020 ini, pemerintah NTB akan membangun sebanyak 44 biogas dengan anggaran satu biogas sebesar Rp13 juta.  “Ini murni dari APBD NTB,” jelasnya.

Bila dilihat dari target yang ditetapkan pemerintah propinsi NTB, pada 2025 dimana pemanfaatan energi terbarukan harus mencapai 23 persen dari pemakaian energi saat ini, maka berbanding terbalik antara keinginan dengan fakta lapangan. “Anggaran saat ini tidak lebih dari satu persen,” katanya.

Niken mengakui, untuk mewujudkan keinginan pemakaian energi terbarukan mencapai 23 persen tidak mudah tapi bukan tidak mungkin. Pemerintah propinsi NTB  bisa melakukan kerjasama dengan perusahaan atau BUMN, sehingga ada sharing dana. “Ini harus dilakukan bila ingin mewujudkan pemakaian energi terbarukan mencapai 23 persen,” paparnya. (Bersambung)