MATARAMRADIO.COM – Mengulik ragam makanan dan minuman khas Lombok memang selalu menarik. Salah satunya adalah Tuak yang disebut-sebut sebagai minuman tradisional peninggalan Kerajaan Karangasem Bali.

Tuak adalah minuman tradisional di Lombok (dan juga berbagai tempat lainnya) yang dibawa dari Karangasem. Tuak dibuat dari sadapan air bunga pohon jake (enau), nyuh (kelapa), dan ental (lontar/siwalan). Dari sana muncul istilah tuak jake, tuak nyuh dan tuak ental. Tuak jake lebih terasa enak, bersifat netral, proses dalam tubuh cepat dan sering kencing.  Tuak Nyuh kadar alkoholnya lebih keras dari tuak jake, peminum umumnya cepat merasa pusing. Sedangkan tuak ental lebih berat kadar alkoholnya dibanding tuak nyuh, rasanya lebih gurih, cepat membuat mabuk.

Foto : Lombok Heritage Society

Tuak yang baru turun dari pohonnya akan terasa manis. Maka untuk membuat rasanya lebih gurih, tuak dicampur dengan ramuan khusus yang disebut lau. Secara umum lau berpengaruh pada rasa dan kadar alkohol tuak. Lau yang paling bagus diolah dari babakan (serbuk) kayu pohon kutat dicampur dengan serbuk kulit pohon cabe tabia bun. Kalau cara mengolah lau kurang pas, maka tuak akan terasa kecing atau masam. Tuak paling enak diminum ketika baru diturunkan dari pohonnya. Tuak wayah adalah tuak yang telah tersimpan satu sampai dua hari. Kalau tuak telah tersimpan dua sampai tiga hari disebut tuak bayu. Dan tuak yang tersimpan lebih dari tiga hari akan menjadi cuka.

Alat untuk menampung atau minum tuak bermacam-macam jenisnya. Untuk menampung tuak dari pohonnya dipakai brengkong dan kele (bumbung bambu ukuran besar dan panjang). Untuk tempat minum tuak dipakai bumbung (gelas bambu ukuran sedang, setara dengan gelas jus), dasar (cawan dari kau atau batok kelapa), dan beruk (cawan ukuran sedang dari kau atau batok kelapa).

Hampir setiap saat dengan mudah kita temukan orang minum tuak di kampung-kampung Bali di Lombok. Biasanya mereka duduk melingkar beralaskan tikar. Di tengah-tengahnya terhidang berbotol-botol tuak, pelecing, kacang, komak  dan camilan lainnya yang pedas.  Selain di rumah, ada juga yang setiap hari datang ke warung tuak langganannya. Mereka tak datang semata-mata hanya untuk tuak, namun juga kebutuhan untuk bersosialisasi, bertemu dengan rekan-rekan dan ngobrol ngalor-ngidul. Kebiasaan berkumpul ini akhirnya tanpa disadari membentuk kelompok minum tuak atau ‘sekehe metuakan’.

Di jaman Kerajaan, acara metuakan atau mesajengan (sajeng artinya tuak) telah menjadi semacam forum informal untuk menampung berbagai aspirasi yang tidak tersalurkan pada lembaga-lembaga resmi. Berbagai macam unek-unek, keluh kesah, kritik, gosip bisa ditumpahkan disini dan menguap bersama aroma alkohol.

Foto : LOmbok Heritage Society

Acara metuakan selalu menggunakan moderator (seperti istilah diskusi saja ya) yang disebut sebagai blandang (bandar). Bandar bertugas menuangkan tuak ke dalam gelas dan membagikan secara bergiliran kepada anggota sekehe. Kadangkala kalau terjadi diskusi atau perdebatan, bandar juga bertugas menjadi moderator. Anggota sekehe minum secara bergiliran dengan menggunakan satu gelas. Penggunaan gelas secara sendiri-sendiri tidak diperkenankan, ini untuk menunjukkan rasa kebersamaan.

Menurut Orti Bali (edisi Agustus 2016), tradisi minum tuak ini berasal dari masa serangan Kerajaan Karangasem ke wilayah Lombok. Pandangan ini tidak keliru, walaupun Orti Bali tidak menyebutkan sumbernya. Tuak memang sangat dekat dengan tradisi Kerajaan. Tak mengherankan jika tradisi minum Tuak ini juga dibawa pasukan Karangasem ketika hadir di Lombok.

Jika kita membaca kita Pararaton, gubahan tahun 1478 dan 1486 serta disalin pada 1613, disitu digambarkan akhir hidup Kretanagara (Raja Kediri) yang diserang Jayakatwang. Baru setelah mengalahkan Kretanegara, dia menduduki ibukota Daha dan memerintah Singhasari sebagai negara bawahan. Kitab Pararaton menyebut, Jayakatwang menyerang Kretanegara (pada 1291) saat “Sira Bathara Siwa Budhha pijer anadhah sajeng atau Batara Siwabuda (Kretanagara masih meminum minuman keras).” Pada bagian selanjutnya disebutkan bahwa kematian Kretanagara di tempat minum Tuak (Sambi atutur kamoktanira bhathara sang lumah ring panadhahan sajeng).

Peristiwa kematian Kretanagara dalam kondisi mabuk Tuak  bersama para brahmana sebagaimana tersua dalam Pararaton dan prasasti Gajah Mada, sebenarnya adalah gambaran praktik ritus Budha Tantrayana yang dianut oleh Kretanagara. Jadi bukan  karena kegemaran Kretanagara terhadap minuman keras khususnya Tuak (sajeng). Budha Tantrayana yang dianut oleh Kretanagara tujuan akhirnya adalah sunyaparamananda, yaitu tingkatan hidup sebagai Adibuddha yang abadi, yang mengecap kebahagian tertinggi (paramananda), yang hakikatnya ialah kasunyatan (sunya). Untuk mencapai kasunyatan itulah  salah satunya dengan meminum minuman Tuak atau sajeng. (MRC-01)

Sumber : Lombok Heritage Society