Pengaruh Pergaulan Bebas dan Media Sosial, Ratusan Pelajar di Ponorogo Hamil di Luar Nikah

MATARAMRADIO.COM –  Mengerikan! Itulah ungkapan yang tepat menggambarkan tingginya angka kasus hamil di luar nikah di Kabupaten Ponorogo Jawa Timur. Apalagi kasus tersebut dipicu akibat pergaulan bebas dan pengaruh media sosial.

Data Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Ponorogo menyebutkan, anak-anak melakukan hubungan suami istri karena pengaruh pergaulan dan media sosial. Dari awalnya tertarik, kemudian mencoba melakukan hubungan badan. “Mereka banyak dipengaruhi banyak fasilitas yang dipakai untuk nongkrong, anak-anak juga menjadi dewasa sebelum waktunya karena media sosial,” kata Kepala Dinas Sosial dan P3A Ponorogo, Supriyadi, baru-baru ini.

Disebutkan, ratusan pelajar SMP dan SMA di Ponorogo kini ramai-ramei mengajukan permohonan dispensasi nikah ke Pengadilan Agama Ponorogo.

BACA JUGA:  Geger, Warga Temukan Mayat Bayi di saluran Irigasi Bendungan Batujai

Tercatat, sebanyak 191 pemohon mengajukan dispensasi kepada Pengadilan Agama Ponorogo pada tahun 2022. Sementara setahun sebelumnya, pada 2021, jumlahnya mencapai 266 pemohon.

Tak pelak lagi,  Majelis Ulama Indonesia ikut angkat bicara menyikapi kasus amoral tersebut.

Bahkan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas menyatakan jika pihaknya gagal dalam mengedukasi anak-anak.”Dari hal tersebut, kita tahu bahwa kita telah gagal dalam mendidik anak-anak kita dengan akhlak dan budi pekerti yang baik,” ujarnya dikutip MATARAMRADIO.COM dari wahananews, Minggu (15/1).

Meski demikian, kata Anwar masalah tersebut tidak bisa diberatkan kepada pihak sekolah dan orangtua saja. Namun, ini menjadi tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. “Karena selama ini kita lihat semua kita hanya sibuk memikirkan masalah ekonomi dan politik saja dan abai terhadap masalah agama dan budaya yang harus kita tanamkan dengan baik kepada anak-anak kita,” tegasnya.

BACA JUGA:  1,4 Juta Vaksin PMK untuk Hewan Ternak NTB

Dia menuturkan, masyarakat ini dikenal taat beragama dan punya budaya luhur. Tentu, semestinya dapat menjunjung tinggi nilai-nilai dari ajaran agama dan budaya.

Namun, Anwar menilai kini ajaran agama dan budaya luhur masyarakat Indonesia diabaikan dan dilecehkan. Sehingga akhirnya budaya asing berupa pergaulan bebas masuk dan berkembang sedemikian rupa. “Sehingga terjadilah hal-hal yang tidak kita inginkan tersebut. Untuk itu bagi mengatasi masalah tersebut kerjasama yang baik antara pihak orangtua, sekolah, masyarakat dan pemerintah tentu harus bisa kita wujudkan agar kita bisa melindungi anak-anak kita dari hal-hal yang tidak kita inginkan,” jelasnya.

BACA JUGA:  Sedih, NTB Masih Zona Merah dan Kuning

Kata Anwar, adanya aturan dan ketentuan yang mendukung bagi terciptanya anak-anak dan warga bangsa yang baik harus kita hormati bersama.

Tentu sangat diharapkan agar segala hal yang akan memungkin terjadinya peristiwa seperti di Ponorogo tersebut bisa kita hindari.

“Karena kalau tidak maka yang akan susah dan malu tidak hanya anak-anak didik kita itu saja tapi juga orang tua, masyarakat bahkan bangsa dan negara yang sama-sama kita cintai ini,” pungkasnya. (EditorMRC)