Yaa Orang Sasak, Rujuklah Hamzanwadi (Refleksi Hari Pahlawan dari Sasak)

Dasar tulisan ini ialah pertanyaan kenapa orang Sasak mesti, sekali lagi mesti merujuk Hamzanwadi? Sebelum sedikit menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya diungkapkan latar masalah. Jika membincangkan Hamzanwadi sebagai ulama maupun sebagai pahlawan nasional, masih banyak orang Sasak yang melihat dari sudut pandang Hamzanwadi hanya sebagai pendiri NWDI, NBDI, dan NW saja. Tidak melihat secara lengkap terutama sekali dari sisi Hamzanwadi sebagai orang Sasak.

Sudut pandang yang pertama, tentu saja hampir sama dengan mengecilkan peran besar Hamzanwadi, terutama untuk bangsa Sasak dan Indonesia umumnya. Tidak sedikit yang malahan dengan pandangan Hamzanwadi dilihat hanya sebagai pendiri NWDI, NBDI, dan NW justeru mengignor Hamzanwadi sebagai manusia dan tokoh penting orang Sasak.

Namun tentu saja, mudah dipahami kenapa agak sukar mendorong orang Sasak melihat dari sudut pandang Hamzanwadi sebagai orang Sasak atau sudut pandangan yang lebih luas. Seperti yang sudah dikemukakan dalam tulisan sebelum ini, orang Sasak mempunyai watak pengistimewaan berlebihan kepada kelompok mereka sendiri.

Masalah lain ialah  pembumian Hamzanwadi di kalangan bangsanya sendiri belum terjadi secara baik. Relevansi, aktualisasi, dan kontekstualisasi Hamzanwadi masih tersekat budaya dan watak orang Sasak sendiri (belian luar dicari-cari, belian gubuk di tapak tepi). Pembumian dimaksudkan ialah pemikiran dan perjuangan, terutama tentang Sasak dan bangsa Indonesia umumnya. Pembumian pemikiran dan perjuangan Hamzanwadi dipandang penting karena pemikiran sebaiknya dipisahkan dari pribadi Hamzanwadi, temasuk memisahkan pemikiran tersebut dari Hamzanwadi sebagai pendiri NWDI, NBDI, dan NW. Dengan begitu, maka pemikiran tersebut dapat menembus ruang waktu dan sekatan sosial yang masih kental terjadi pada orang Sasak.

Pembumian Hamzanwadi tentu saja, pada akhirnya akan menghasilkan pandangan jernih dalam melihat dan menerima Hamzanwadi. Maksudnya, dengan memahami pemikiran kesasakan Hamzanwadi, maka meskipun beliau tak dapat dipisahkan dari madrasah dan organisasi yang didirikan, namun bagi orang Sasak yang bukan dari kalangan NWDI, NBDI, dan NW menerima Hamzanwadi dalam konteks sebagai orang Sasak karena pemikiran kesasakan Hamzanwadi sejatinya selalu relevan dengan kesasakan.

Bukankah orang Sasak mempunyai pepatah lama, “Bareng Anyong Saling Sedok?” Jika pepatah ini benar lahir dari rahim Sasak, namun kenapa pula orang Sasak tidak saling sedok terhadap semua bangsa Sasak tanpa melihat latar belakang kampung, keluarga, dan kelompok? Kenapa pula Hamzanwadi masih menjadi lain di kalangan bangsa Sasak di tengah pengakuan nasional dan dunia terhadap kiprah besar yang sudah dibuat.

Pembumian bertujuan untuk menjadikan Hamzanwadi sebagai representasi Sasak itu sendiri. Bukan hanya sebagai representasi NWDI, NBDI, dan NW. Sebagaimana Kiyai Hasyim dan Kiyai Dahlah yang bukan hanya merepresentasikan NU dan Muhammadiyah melainkan bangsa Jawa secara umum. Dengan begitu, Hamzanwadi tidak hanya diakui sebagai pahlawan nasional oleh Pemerintah Indonesia, namun juga berterima secara mendalam menyeluruh di kalangan orang Sasak sendiri.

Karena itu, untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas, kita mulai sedikit perbincangan dari era kelahiran Hamzanwadi. Secara umumnya, para penulis tentang Hamzanwadi menyatakan kelahiran beliau pada tahun 1898 Masehi. Apa yang penting dikemukakan berkaitan tahun kelahiran ini? Pada era tersebut, bangsa Sasak sedang berada dalam masa transisi yang pahit. Setelah Belanda berhasil mengalahkan Hindu Karangasem Bali di Mataram, masa peralihan kekuasaan itu sejatinya mengesankan kekelaman yang mendalam.  Bahkan sampai kapan pun. Bagaimana tidak?

Orang Sasak ditempatkan sebagai penghianat di tanah mereka sendiri oleh Hindu Karangasem Bali. Dan sebaliknya Hindu Karangasem Bali sendiri dipandang sebagai pahlawan utama. Hindu Karangasem Bali diletakkan sebagai patriotik sejati karena pengorbanan mereka melawan Belanda secara habis-habisan.  Dapat dikatakan, tak secuil pun kesatria Sasak diperbincangkan dalam catatan sejarah Perang Lombok melawan Belanda (yang lebih sesuai disebut perang Hindu Karangasem Bali melawan Belanda di Lombok) pada masa tersebut. Karena itulah dalam perang melawan Belanda, orang Sasak dituduh bersekongkol secara jahat. Atas dasar itulah orang Sasak tak lebih baik dari penghianat sejati di mata Hindu Karangasem Bali. 

BACA JUGA:  Wakil Bupati Lotim dan Isteri Dinyatakan Positif Covid-19

Sebelum itu, kemiskinan dan perbudakan telah membuat populasi dan kualitas orang Sasak semakin menurun ke liang terdalam. Bahkan menurut catatan pegawai Belanda yang ditugaskan mengumpulkan data demografi  orang Sasak untuk dikirimkan ke Ratu Belanda, setiap tepi dan sudut jalan, sepanjang jalan di pulau Lombok, bergelimpangan mayat orang Sasak yang mati dalam kelaparan dan penyakit yang benar-benar menghinakan. Data tersebut sebagai salah satu alasan kenapa Belanda berkepentingan merebut pulau Lombok dari tangan penjajah yang mereka sebut penjajah lokal.

Membebaskan orang Sasak dari kehinaan ratusan tahun meski akhirnya jatuh ke liang kehinaan yang sama. Padahal bukan rahasia, kepentingan politik daganglah sebagai pemicu utama. Sampai di sini, nampak dalam rentang era tersebut, orang Sasak selalu berada di arus pemerasan dan perbudakan yang keji. Tenaga sebagai budak dan hasil bumi yang melimpah memberikan keuntungan besar kepada penjajah lokal maupun Belanda.

Pada era 1890an itu pula, kalau merujuk catatan Kraan, orang Sasak kehilangan pemimpin. Catatan tersebut ingin menegaskan bahwa pada masa itu, tak ada seorang pun orang Sasak yang mempunyai pengaruh yang kuat dan luas di tengah orang Sasak sendiri. Orang Sasak seperti kehilangan induk dalam nestapa yang melilit kejam sebagai bangsa. Situasi inilah yang mencetuskan kelahiran Guru Dane yang bagi Kraan, ia merupakan mesias yang menggunakan bawah sadar mitologis orang Sasak untuk mendapatkan legitimasi sosial dan politik. Sejatinya, Guru Dane hampir berhasil membangun satu kesadaran kolektif orang Sasak. Namun menjelang keberhasilan itu, ia pun tumbang dalam ketiadaan nama pada sejarah orang Sasak.

Munculnya Guru Dane juga menandai bagaimana situasi politik internal orang Sasak. Elite Sasak yang sudah mulai kehilangan legitimasi kekuasaan kepada bangsa mereka sendiri, saling curiga, saling halang, saling cungkil, bahkan saling bunuh demi kekuasaan hampa yang sesungguhnya mereka tak dapat kecapi sebab sudah berada di tangan Belanda. Bahkan, jauh sebelum Belanda menapak di Lombok, intrik keji elite Sasak tak habis-habisnya. Intrik yang timbul karena besar kecil keuntungan yang dibagi oleh Hindu Karangasem Bali.

Berbagai situasi yang keseluruhannya menggambarkan keterjajahan Sasak pada era tersebut, telah berdampak secara luas. Orang Sasak tidak hanya kelaparan namun juga musibah penyakit meluas, amoralitas melanda, bahkan spiritualitas Sasak nyaris berada di titik ternadir. Miris benar, situasi ini terus berlanjut dalam beberapa periode. Maka tidak mengherankan jika dalam catatan harian Dr. RM Soedjono yang ditugaskan di Lombok sebagai dokter pribumi dari Jawa sekitar tahun 1910, pun masih terurai dengan rapi dan jelas bagaimana terbelakangnya orang Sasak pada masa itu. Penyakit kolera dan cacar serta  kelaparan mengakar dalam kurun waktu yang sangat panjang.

Desa kelahiran Hamzanwadi, Pancor merupakan bagian dari pusat sisa-sisa peradaban lampau orang Sasak. Itulah kenapa, kecerdikan Belanda semakin nampak ketika memilih Selong sebagai ibu kota Lombok. Selong diapit oleh dua desa sejarah tempat salah satu dari bagian dari peradaban keagamaan orang Sasak dibangun (selain Sekarbela, Bengkel, Kediri): Kelayu dan Pancor. Karena itu, Pancor tak pernah lepas dari bulatan sejarah orang Sasak sejak Selaparang, Hindu Karangasem Bali hingga Belanda dan Jepang.

Sebagai salah satu pusat pemerintahan dan peradaban, maka sudah pasti, Pancor menjadi salah satu cerminan bagaimana situasi kesengsaraan orang Sasak, baik masa penjajahan lokal Hindu Karangasem Bali maupun dari transisi menuju penjajahan baru di era Belanda dan Jepang. Nah, sekali lagi, pada masa itulah Hamzanwadi dilahirkan. Pertanyaannya, apakah masa kelahiran yang dalam situasi kekelaman orang Sasak itu membekas secara mendalam pada diri Hamzanwadi?  Pemaparan ringkas di bawah diharapkan dapat memberikan  sedikit jawaban.

Dalam catatan beberapa penulis, Hamzanwadi berangkat ke Mekah sekitar tahun 1923 Masehi dalam usia yang masih sangat muda. Saking mudanya, ibunda beliau harus turut serta menjaga.  Apa yang penting dirungkai dalam tahun keberangkatan ini? Di tingkat Lombok, orang Sasak yang diterpa badai kematian dan kelaparan beriringan langkah dengan era, di mana gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia berdenyut kencang di kalangan kaum terpelajar Indonesia. Sebut saja, misalnya organisasi Syarikat Islam yang pada masa itu sudah berumur kurang lebih 20 tahun, denyut patriotik Syarikat Islam sudah hampir tersebar luas ke wilayah terpencil termasuk ke Sunda Kecil.

BACA JUGA:  Presiden: Obat Isolasi Mandiri Tidak Diperjualbelikan

Termasuk juga Boedi Oetomo, Trikoro Dharmo, Jong Sumateranen Bond, Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Celebes, Sekar Rukun, Jong Betawi, Jong Bataks Bond. Semua organisasi pemuda yang tumbuh dan berjuang pada era yang sama ini mempunyai tujuan sama, memerdekaan Indonesia dari Belanda yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Tak dapat dielakkan lagi, semua kaum terpelajar Indonesia, baik yang belajar di Indonesia, Eropa (Belanda), dan di Mekah berada dalam pusaran yang sama.  Batin mereka menggeliat untuk dapat keluar dari penjajahan.

Kebatinan patriotik tersebut dibawa Hamzanwadi kecil dicampur hitam pekat orang Sasak yang sudah mendarah daging dalam dirinya. Kebatinan ini semakin membaja ketika situasi politik Mekah sendiri sedang berkecamuk. Perang dunia pertama (1914-1918) mempengaruhi kebangkitan nasionalisme Arab dengan terjadinya Revolusi Agung Arab sekitar tahun 1916 Masehi. Satu revolusi yang sejatinya tiada penghujung hingga kini. Di tanah sendiri, gumi Sasak hitam pekat, di tanah rantau, Mekah, politik tak kalah berkobar secara kesatuan telah membentuk watak patriotisme Kebangsaan Sasak dan Indonesia pada diri Hamzanwadi.

Sepanjang kurang lebih 13 tahun berada di Mekah, salah satu catatan terpenting yang berkaitan dengan era yang sudah dinukil di atas ialah  bangsa Sasak di mata dunia Eropa (Belanda) ialah tanah jajahan. Bangsa tertindas yang dibebaskan oleh Belanda dari penjajah lokal. Bangsa yang amat terbelakang. Namun di Mekah, Hamzanwadi tercatat sebagai orang Sasak yang masuk dalam satu ulama paling pintar. Bahkan di semua tingkatan pada masa belajar di Mekahi, Hamzanwadi disebut tiada tandingannya. Ia disebut sebagai satu-satuany yang paling memahami Wahabi di samping cabang ilmu penting lain dalam agama Islam. Selain itu, Hamzanwadi dicatat sebagai salah satu peletak dasar panggilan yang terkenal di Mekah, yakni al-Ampanani.

Merujuk pada penelitian yang saya dan kawan-kawan sudah lakukan tentang keterkaitan ulama Lombok dengan ulama di Asia Tenggara, sebutan al-Ampanani ditujukan kepada pelajar dari Lombok di Mekah. Namun kecerdasan Hamzanwadi di kalangan guru dan murid yang lain menjadikan al-Ampanani identik kepada Hamzanwadi. Tegasnya, pada era yang sama, di benua yang berbeda, orang Sasak dikenali sebagai bangsa yang berbeda (Hina dan Mulia). Dan pembeda itu ialah Hamzanwadi.

Sekitar tahun 1930an, ketika Hamzanwadi kembali ke Lombok, keadaan pada saat beliau meninggalkan dan kembali ke Lombok, masih tidak jauh berbeda. Orang Sasak dalam kekelaman. “Masih banyak yang belum jelas dan beres.” Begitulah penilaian guru utama Hamzanwadi: Syeikh Hassan Almasysyat. Penilaian itu terang benderang. Hamzanwadi membenarkannya.

Pada tahun 1930an itu, Dr. RM Soedjono sudah sudah hampir 20 tahun berada di Lombok, sudah hampir 40 tahun Belanda berkusa penuh terhadap Lombok, apa yang dijumpai ialah selain kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan kesehatan yang tidak memadai, juga amoralitas merajalela. Beberapa kelompok dari orang Sasak begitu gemar ngubek (berzina-melacur), begocek (judi sabung ayam), dan mabuk tuak serta berem.  Situasi itu benar-benar menggambarkan betapa keagamaan orang Sasak merosot jauh.

Maka Hamzanwadi memilih jalan perjuangan pencerdasan orang Sasak sebagai arus utama. Mengembalikan orang Sasak kepada jalan agama yang sesuai dengan ajaran Islam. Dalam pembukaan Wasiat Renungan Massa, Hamzanwadi menegaskan:

“Setelah melihat situasi dan keadaan di Lembah Rinjani ini, banyak hal-hal yang negatif, yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam sehingga saya menangis dalam hati melihat keadaan masyarakat saya. Masyarakat Lembah Gunung Rinjani. Saya mengingini Lombok ini, biarpun kecil tapi besar artinya.”

BACA JUGA:  Soal Wacana Revisi UU ITE, ini Kata Presiden Jokowi dan Kapolri

Penegasan tersebut di atas menggambarkan dua hal yang berlaku dalam masa yang sama. Hal pertama ialah seperti yang sudah disebutkan di atas dan yang kedua adalah patriotisme kesasakan Hamzanwadi. Jelas bahwa selain agama Islam, segala hal yang menjadi dasar pemikiran dan perjuangan Hamzanwadi ialah bangsanya sendiri, yakni Sasak.

Kemudian sebagai landas pacu perjuangan mencerahkan orang Sasak ialah Madrasah al-Mujahidin yang didirikan sekitar tahun 1943 Masehi.  Tidak perlu waktu yang lama, madarsah tersebut berkembang pesat. Cikal bakal cahaya Sasak itu mulai nampak semakin jelas. Dalam hal ini, Hamzanwadi menukil dalam sebuah lagu yang ia ciptakan dalam bahasa Sasak:

“Bangsaku pacu beguru
Kaumku Sasak bejulu
Bangsaku ndekne bemudi
Pete sango jelo mudi”

Lirik lagu di atas menggambarkan watak orang Sasak yang sejatinya gemar ilmu pengetahuan. Namun karena penjajahan yang kelam, gairah tersebut secara perlahan padam. Maka Hamzanwadi bertekad mengembalikan marwah orang Sasak yang selalu di depan dan tak pernah di belakang dalam soal agama Islam.

Perjuangan kesasakan Hamzanwadi terus bekembang. Melebar ke sayap lebih luas. Setelah secara bertahap dapat mengembalikan marwah orang Sasak, Hamzanwadi merasa terpanggil untuk membuat organsiasi  yang asli lahir dan berkembang dari rahim orang Sasak.  Sekitar Tahun 1937 Masehi, Hamzanwad mendirikan NWDI, organisasi orang Sasak pertama dalam keagamaan dan perjuangan.

Melihat keterpurukan kaum perempuan Sasak dan setelah secara perlahan berhasil mencerahkan kaum lelaki Sasak melalui NWDI, Hamzanwadi terpanggil untuk mewadahi perempuan Sasak. Perempuan Sasak yang terhina sejak HIndu Karangasem Bali, Belanda dan semakin nampak dalam kekelaman moral pada era Jepang sebagai dasar utama pendirian NBDI sekitar tahun 1943. Organisasi Perempuan Sasak pertama yang memberikan peluang bagi perempuan Sasak mengambil kehormatan mereka yang terampas ratusan tahun.  Surat kabar Kompas dan sejarawan lain menyatakan, NWDI dan NBDI merupakan dua madrasah yang pertama kali berdiri di Lombok. Dua madrasah yang dilahirkan oleh orang Sasak bernama Hamzanwadi.

Tidak sampai di situ, melihat orang Sasak yang masih sangat terbatas berperan secara lebih luas di kancah nasional, mendorong Hamzanwadi untuk mendirikan organisasi berbasis Islam dan patriotisme kebangsaan (Sasak dan Indonesia). Sekitar tahun 1953 mendirikan NW. Melalui organisasi inilah Hamzanwadi berjuang menyetarakan orang Sasak dengan bangsa lain di Indonesia. Hamzanwadi menegaskan peran penting orang Sasak dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan Indonesia. Bahkan keputusan terjun ke dunia politik ialah untuk menegaskan peran strategis orang Sasak di level yang lebih. Seperti yang beribu-ribu kali Hamzanwadi katakan:

“Lombok pulau yang kecil namun mempunyai gunung Rinjani yang tinggi. Maka orang Sasak wajib berperan di segala bidang untuk pembangunan Indonesia yang baldatun toyyibatun ghafur.”

Terlepas dari semua itu, sebagai manusia biasa, sudah pasti Hamzanwadi mempunyai kekurangan yang menyebabkan persinggungan dengan tokoh Sasak yang lain, khususnya dalam sikap politik dan keormasan. Akan tetapi semua itu ialah buih kecil di tengah karya besar dari dan untuk orang Sasak dan Indonesia. Jika orang Sasak menampik ketokohan Hamzanwadi hanya karena buih kecil tersebut, hal itu menunjukkan betapa orang Sasal telah menghardik-kerdilkan diri mereka sendiri. 

Karena itu, pemikiran, perjuangan, patriotisme dan karya besar kesasakan apalagi yang mesti ditunjukkan Hamzanwadi agar orang Sasak sudi membumikan Hamzanwadi di kalangan bangsa Sasak. Agar orang Sasak sudi menerima secara terbuka, luas, dan tanpa dinding apa pun terkait kepahlawanan Hamzanwadi?

Jika kita berlapang dada dan berjiwa besar sebagai bangsa Sasak, pasti kita temukan di dada kita sendiri jawaban pertanyaan di awal tulisan ini. Dan pasti kita tidak menjadi bangsa Sasak yang ignoransi.

Hamzanwadi ialah Sasak itu sendiri.

Malaysia, 6 November 2022.

>