Mas Jerry: Selamat Jalan  Sang Panutan!

Mas Jerry, Sosok inspiratif bagi insan penyiaran di Kota Mataram dan NTB itu akhirnya tutup usia. Kami insan penyiaran NTB sangat berduka yang mendalam. Selamat Jalan Kakak, Sahabat, Sang Guru, Mentor dan  Penyiar Legendaris.

Tak cukup kata untuk mengungkapkan betapa banyak cerita dan kisah menarik dan inspiratif seputar kepribadian Mass Jerry yang  saya kenal sangat humble, murah senyum,peramah, tidak jaim, tidak pilih teman bergaul, baik hati dan dermawan.

Mas Jerry juga tidak suka basa basi, lebih suka memberi contoh nyata dan aksi. Setidaknya hampir 28 tahun saya berinteraksi dan mengenal sosok bernama lengkap I Gde Yoga Herawan ini, sebelum akhirnya beliau menghembuskan napas terakhir pada Selasa pagi (30/5) kemarin di RS HM Ruslan Kota Mataram. Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun.

Saya adalah salah seorang murid dan pengagum beliau yang sungguh tak percaya mendengar kabar duka Mas Jerry tutup usia, bos saya ketika mengawali karir sebagai penyiar CNL 95.3 FM, Radio FM pertama di Kota Mataram sejak 1995.

Saya kaget dan sontak menangis saat membaca berita duka dari kawan-kawan insan penyiaran di Komunitas Tenda Siar NTB” Berita Duka, telah meninggal dunia Bapak  Gede Yoga Hermawan (Jerry CNL). Pada hari ini sekitar jam 6.30 wita di RS Kota Mataram. Selamat Jalan Senior,”tulis Gagas Daeng Mangali, Station Manager Radio Komunitas AMMAN Batu Hijau Sumbawa Barat dalam pesan singkatnya.

Seketika pula pesan duka mengalir deras dari kawan insan penyiaran NTB melalui semua jejaring media sosial. Semua merasa sangat kehilangan sosok penyiar idola era 80-an ini.

Beliau mengawali karir sebagai penyiar dan jadi penanggungjawab siaran Radio Rinjani Permai sejak era 80-an. Sebelum mendirikan radio sendiri  CNL FM yang bernaung di bawah bendera PT Radio Citrasuara Nuansa Lombok pada awal 1995 dan mengudara dari Jalan Harimau No 20 Mataram, timur eks RSUP Provinsi NTB.

Dejavu

Sebenarnya berkali-kali kami janjian untuk bertemu, bernostalgia sambil seruput kopi legendaris Cap 555 kesukaannya. Namun belum juga kesampaian. Hanya bisa berbagi cerita lewat dunia maya. Beliau selalu cerita dan berdiskusi banyak hal termasuk bagaimana masa depan radio siaran di era kekinian.  Santai dan mengalir begitu saja walau lewat FB,WA dan Video Call.

Kontak terakhir saya dengan Mas Jerry sekitar dua bulan lalu, ketika beliau menyampaikan keinginannya untuk pulang kampung dan menetap di Denpasar Bali, berkumpul dengan keluarga besar beliau. Adapun, urusan Radio CNL FM sudah dimandatkan kepada putri sulungnya Devi Saraswati Redana yang seorang Sarjana Komunikasi lulusan Universitas Udayana Bali dan juga ASN di Pemprov NTB, tepatnya Tim Humas dan PR pada  DPRD NTB.

Hubungan saya dengan Mas Jerry tak ubahnya adik kakak. Beliau saya anggap seperti  kakak kandung sendiri. Beliau lebih dari sahabat. Beliau adalah guru, mentor dan panutan yang selalu memberikan nilai-nilai baik kepada saya dan saya yakin kepada penyiar lainnya dan banyak orang.

Mas Jerry sosok yang terbuka dan tak pernah membeda-bedakan dengan siapa harus bergaul. Siapapun dan darimanapun. Beliau punya pergaulan yang luas, sehingga punya banyak teman, jaringan dan sahabat dari berbagai latar belakang dan asal usul.”Jaga hubungan baik Ray, sebab Ray tidak tahu besok mau jadi apa,”katanya dalam suatu kesempatan memberi nasehat kepada saya. Nasehat itu selalu saya pegang dan jadikan jimat hingga sekarang.

Kisah Konyol dan Lucu Selama Jadi Penyiar CNL FM

BACA JUGA:  Bollywood Berduka: Aktor Veteran Rishi Kapoor dan Irfan Khan Meninggal Dunia

Selama hampir 5 tahun menjadi keluarga besar Radio CNL 95.3 FM . Tepatnya sejak 1995 hingga 1999, saya punya beberapa kisah unik dan mungkin konyol selama menjadi penyiar, anak buah Mas Jerry yang selalu saya panggil BOS.

Kisah-kisah yang saya alami ini mungkin juga dialami oleh penyiar lain angkatan saya atau setelah saya. Begini ceritanya.

Saya termasuk yang beruntung bisa lulus audisi calon penyiar  CNL FM yang membuka rekrutmen terbuka calon penyiar pada sekitar Oktober 1995.

Yang ikut audisi kala itu lebih dari 300 orang. Ujian tulisnya saja menggunakan satu gedung SD dekat studio di Jalan Pariwisata Mataram.

Saya saat itu mahasiswa semester skripsi di Fakultas Peternakan Unram yang notabene sibuk juga jadi aktivis pers kampus dan tahu ada info lowongan penyiar dari kawan-kawan kampus yang hobby dengerin radio. Wong radio saat itu lagi booming bestie, media paling disukai anak muda, pelajar dan mahasiswa untuk dengerin musik dan lagu favorit mereka dan cuap cuap penyiar idolanya. Termasuk teman kos saya di Gunung Siu 12 Pelita Dasan Agung  Mataram, teman kuliah yang sekarang jadi pejabat ASN di Kalimantan Tengah.

Tahap demi tahap kami lalui dan saya masuk 10 besar. Salah seorang penguji psikotesnya adalah Psikolog Bapak Syamsul Buhari yang belakangan menjadi narasumber saya ketika mengasuh acara konsultasi remaja Problem Kamu dan Heart to Heart CNL FM, selama 2 tahun lamanya.

Nah, yang paling menegangkan justru penentuan siapa yang lulus tahap akhir sebagai penyiar tetap dari  10 besar calon penyiar yang akan uji coba siaran selama 3 bulan.

Disini saya baru tahu sosok bos radio berkharisma Mas Jerry yang sangat demokratis.

Pasalnya kami yang 10 besar diminta saling memberi skor penilaian siapa yang tidak pantas jadi penyiar CNL. “Waduh, berat ini. Dong teman makan teman ini,”kata saya dalam hati.

Hasil penilaian akan diumumkan setiap akhir pekan, setelah kami diberi waktu seminggu mengamati dan mencermati bagaimana kawan-kawan bersiaran, mulai pilihan lagu, intonasi, materi siaran, air personality, ya segala tetek bengeknya lah menurut kami. Intinya kami diminta membuat perangkingan dari  urutan 1 sampai 5. Berat cobe…

Bagi saya, itulah proses seleksi alam yang sesungguhnya. Mas Jerry tanpa beban memberikan kami kebebasan memberikan penilaian atas performa rekan kerja sesuai kriteria dan parameter yang beliau berikan.

Saya termasuk H2C alias harap harap cemas  juga lah sehingga mau nggak mau harus prepare diri untuk siaran pada jam yang beliau tentukan.

Sialnya, saya pernah apes memandu acara yang sisa waktunya tinggal 15 menit karena kepotong siaran berita RRI yang nyaris lebih 30 menit karena  liputan Khusus Presiden Suharto. Masa itu kan masih orde baru, era dimana radio swasta wajib relay siaran berita RRI lebih dari 10 kali sehari, hampir setiap jam. Belum lagi mimbar penerangan dari Deppen NTB.

Maka tibalah saatnya, pengumuman demi pengumuman itu berlalu. Saya termasuk salah satu yang tidak tereliminasi dan masuk 5 besar sebagai penyiar tetap CNL FM.

Maka dalam aktivitas bersiaran, ada banyak hal yang sulit saya lupakan karena betapa pedulinya Mas Jerry dengan penyiar-penyiarnya. Beliau sangat menjaga kualitas siaran baik teknik maupun konten siaran radionya.

Mungkin saya paling sering kena teguran dan diceramahi setiap habis siaran oleh Mas Jerry. Maklum namanya juga pemula, ya wajarlah beliau memberikan catatan dan perbaikan untuk bisa siaran lebih baik lagi.

BACA JUGA:  Wagub : Digitalisasi Suatu Keharusan

Pertama, Mas Jerry meminta saya mengganti nama udara dari Mr Rain jadi Ray Aruman. Awalnya saya bersiaran dengan nama udara Mr Rain, suka suka aja sih, Kebetulan ada lagu judulnya Mr Rain dan selalu saya jadikan lagu pembuka, setiap kali siaran acara Sapa Persada dari jam 09.00 sampai 10.00 pagi.

Mas Jerry ternyata kurang setuju dengan nama udara  Mr Rain. “Suara maco kok namanya Rain,”katanya mengingatkan saya. “Coba gantilah yang lain yang lebih mewakil karakter suaramu yang baritone,”pintanya.”Bagaimana kalau saya kasih kamu nama Ray, selebihnya kamu tambah apa terserah,”cetusnya lagi.

Tanpa pikir panjang, Saya pun mengamini dan siap ganti nama menjadi Ray Aruman, termasuk tidak lagi memutar lagu pembuka Mr Rain.

Kedua, Saya diminta jadi penyiar pembuka dan penutup siaran. Bangun jam 6 pagi mengasuh aksi acara Sapa Persada lalu siaran lagi di acara All Night Song dari Pkl. 10 hingga 12 malam.

Resiko jadi penyiar pembuka siaran, tentulah harus bangun lebih awal. Bahkan terkadang harus berani menghidupkan mesin dan pemancar radio.

Suatu ketika, pemancar radio off air, tidak bisa hidup,Entahlah. Mas Jerry menelepon dan meminta saya masuk ruang pemancar untuk menghidupkan mesin siaran bermerk Harris berkekuatan 1000 Watt. Ini sebenarnya ujian cukup berat bagi seorang Ray yang trauma dengan urusan mesin pemancar  bertegangan tinggi (High Voltage).

Saya diminta ke ruang mesin pemancar, terus masukin tangan ke cerobong pemancar tegangan tinggi. Ngeri kali. Jujur, kali ini saya lantang menolak..takut kesetrumlah.”Masak saya mau bunuh kamu ray,”katanya enteng. Maka saya masukkanlah tangan ke cerobong mesin pemancar dan seketika radio on dengan munculnya sinyal frekuensi modulasi 95.3 MHz. Inilah pelajaran  berharga bahwa terkadang kita harus mencoba hal-hal baru dan keluar dari zone nyaman. Kali ini saya bukan saja tahu cari mengoperasikan mixer siaran, tetapi juga pemancar siaran.

Ketiga, Mas Jerry  suka mendengarkan saya siaran. Buktinya, dia tahu kapan saya memutar kaset yang  suaranya wes ewes, fals, salah putar iklan bahkan spontan disuruh ganti lagu karena salah format. Ini bos rajin amat dengar radio. Entah di rumah, di kantor. di mobil.Sampai-sampai Mas Jerry tahu saya mutar lagu new entry yang diam diam saya ambil dari meja kerjanya atau dari ruang produksi. Hahaha, sorry bos…rendezvous kita.

Keempat, Diminta Jadi Pemandu Talkshow Tentang Tambang Batu Hijau Kerjasama CNL FM dengan PT Newmont Nusa Tenggara sekitar 1998-1999.

Imbas dari program talkshow Aktualita yang saya asuh dan kerap mengundang narasumber luar seperti Politisi, pengacara, akademisi dan aktivis membuat Boss Jerry mempercayakan saya mengasuh acara dialog interaktif yang berkaitan dengan isu isu aktual termasuk soal tambang yang akhirnya menjalin kerjasama dengan PT Newmont Nusa Tenggara.

Bukan saja Talkshow, rupanya, Newmont pun mengundang saya langsung ke Town site untuk media visit sekaligus produksi rekaman talkshow di lokasi. Tak lupa pengalaman naik pesawat ampibi milik Newmont, merupakan pengalaman yang tentu asyik dan tak terlupakan.

Kelima, Diutus mewakili CNL FM Sebagai Peserta Workshop Program Director Radio se Indonesia Untuk Kampanye Pemilu Demokratis 1999.

Ini program kerjasama antara Komseni Jakarta, Walhi dan Radio Jaringan Prambors FM Masima Radionet.

Tentu kesempatan emas bisa bertemu dengan program director radio hebat dari berbagai kota besar di Indonesia dan mempertemukan saya dengan beberapa kawan radio yang  belakangan bertemu lagi di forum lain. Salah satunya Judhariksawan, mantan Ketua KPI Pusat yang dulu menjadi program director Radio Al Ikhwan Ujung Pandang. Ada juga Mas Ridwan asal Guntur FM Bali, rekan kuliahnya Pak Haji Gusdink Haccandra FM.

BACA JUGA:  Cerita SBY Naik Kapal Selam dan Duka Mendalam Wafatnya 53 Prajurit Terbaik Nanggala 402

Keenam, Mas Jerry selalu memanggil saya untuk produksi Iklan radio terutama iklan off air miliknya Sampoerna A Mild Live Production.

Apapun jenis iklan yang berkaitan dengan produk Sampoerna, rasanya saya kerap dipanggil untuk mengeksekusinya sama Bos Jerry.  Dari sinilah saya diperkenalkan dengan beberapa perangkat lunak rekaman dan mixing iklan. Diantaranya Sound Forge, Nuendo dan Cool Edit Pro yang belakangan menjadi Adobe Audition.

Tentu masih banyak cerita unik lainnya yang dimiliki kawan-kawan penyiar lain selama berinteraksi dengan Mas Jerry yang selalu ngangenin.

Jenazah Diberangkatkan ke Pulau Dewata Bali

Saya dan istri melayat ke tempat jenazah almarhum Mas Jery disemayamkan di Tempat Persemayaman Nirwana RS Kota Mataram, Selasa (30/5) sekitar jam 19.00 Wita tadi malam.

Saya bertemu dengan Mbak Sari dan keluarga besarnya. Mbak Sari kelihatan sangat bersedih dan sesekali mengusap air matanya saat mengobrol dengan saya dan istri. Mbak  Sari tanda betul saya walaupu menggunakan masker. Saya pun menyampaikan bela sungkawa yang mendalam atas kepergian Mas Jerry yang juga membuat banyak orang merasa kehilangan sosok panutan. Mbak Sari cerita bagaimana akhirnya almarhum di bawa ke UGD RS Kota Mataram sekitar jam 4.00 dinihari.”Mas Jerry tiba-tiba sakit pinggang yang hebat, dan demam tinggi. Makanya kami bawa ke rumah sakit dan  ternyata itulah akhirnya,.”cerita Mbak Sari.

Ramainya pengunjung yang melayat tentu saja membuat obrolan menjadi singkat dan penuh makna. Saya bertemu beberapa kawan mantan penyiar yang juga hadir melayat. Ada Ito Neo, Mbak Ade, Mas Bimo, Mas SAS, rekan bisnis almarhum dan banyak lagi yang lain.  Kami pun bersepakat untuk datang lagi esok pagi untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum almarhum akan diberangkatkan ke Denpasar Bali.

Alhamdulillah, Rabu (31/5) pagi tadi, saya bisa hadir dalam acara persiapan pemberangkatan jenazah almarhum dari RS Kota Mataram ke Denpasar Bali yang akan menggunakan mobil ambulans lewat jalur laut

Satu persatu, keluarga besar Mas Jery datang ke lokasi. Tentu saja saya melihat dan bertemu dengan Mbak Sari dan Putri sulungnya Devi Saraswati Redana yang kelihatan sangat terpukul dan paling bersedih atas kepergian ayahanda tercintanya. Adapun putranya Made Agastya Redana dan adiknya Demira kelihatan tenang dan kuat menerima musibah ini.

Saya  dan Pak Anom Sampoerna, Mas Sas dan Mbak Ade juga hadir dan bersama-sama menguatkan Devi dan Ibunya untuk tegar dan kuat menerima cobaan ini. Demikian juga dengan Aga dan Demirah untuk jaga bundanya.

Bagi saya, hubungan akrab dengan keluarga besar Mas Jerry, terbina sudah lama. Setidaknya sejak saya diutus ke Jakarta dan tinggal di rumah besar  orang tua beliau di bilangan Hutan Kayu Depok Jawa Barat. Saya kenal dengan Mas Made, Mas Agus dan Mbak Yossi. Keluarga yang sangat luar biasa dan membuat saya serasa sudah akrab cukup lama, padahal cuma dua hari kala itu.

Terimakasih Mas Jerry. Semua kenangan indah tak kan bisa dilupakan. Nasehat dan wejangan Mas Jerry selalu saya ingat. Mas Jerry luar biasa. Tenang dan damailah disisiNya. Doa terbaik kami selalu menyertai. Amin YRA.

Mataram, 31 Mei 2023