Jejak Dua Pejuang Besar (TGKH. Zainuddin Abdul Majid dan KHR. As’ad Syamsul Arifin)

Oleh: Badrun AM

Kunjungan yang dilakukan oleh TGB M. Zainul Majdi ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo atas undangan KHR Azaim Ibrahimy  adalah momentum penting bertemunya dua ulama muda yang sama-sama memiliki ikatan sejarah terhadap pendahulunya. Pertemuan keduanya seperti sebuah metamorfosa atas jejak sejarah, perjuangan dan kebesaran kedua kakeknya  yaitu TGKH. Zainuddin Abdul Majid dan KHR. As’ad Syamsul Arifin. Dua ulama besar di masanya.  Dua ulama yang dulunya berperan menjadi cultural broker (Clifford Geertz, 1960). Sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Geertz untuk menjelaskan peran ulama sebagai jembatan bagi pesantren dengan dunia luar, sebagai penerjemah tradisionalisme dan modernism dan sebagai penyambung antara masyarakat dengan dunia diluarnya. Peran internal sekaligus ekternal ini tidaklah mudah karena selain harus mendidik santri dan masyarakat disekitarnya juga menjadi jangkar sekaligus transmiter bagi nilai, pengetahuan dan fenomena baru yang datang dari luar.

Peran mereka sungguh sangat berarti bagi bangsa Indonesia karena sama-sama tumbuh dan besar di masa revolusi. Masa dimana seluruh elemen bangsa berjuang melawan penjajah, tak terkecuali peran yang dimainkan oleh ulama. Ulama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan kemerdekaan, bahkan peran ulama sangatlah vital dan strategis. 

Walaupun mereka berdua tumbuh dan besar dilingkungan yang berbeda serta organisasi yang berbeda, tapi mereka tersambung oleh nasab ilmu yang sama. Pernah belajar di Shaulatiyah Makkah dan berguru pada beberapa ulama yang sama. Bertemunya nasab ilmu ini menjadi pijakan untuk memastikan bahwa beliau berdua memiliki pandangan, sikap dan corak yang sama dalam memahami dan mengartikulasikan islam yang rahmatan lil alamin di Nusantara.

Ulama-ulama Nusantara sejak abad ke 17 telah tersambung dengan ulama Timur Tengah dalam hubungan yang kompleks, baik hubungan yang terkait dengan sanad ilmu maupun hubungan politik. Demikian pula ulama-ulama Nusantara yang tersebar di berbagai daerah sesungguhnya mereka bersaudara, bertemu secara rohani dalam rumpun ilmu dan guru yang berkait kelindan (Azzumardi Azra, 1998)

BACA JUGA:  Terkini, 625 Orang Sembuh dari 957 Kasus Positif Korona di NTB

Kini bertemunya dua cucu beliau, seolah-seolah sebagai pertanda bahwa  jalan panjang membangun islam yang ramah, Islam Washatiyah, serta islam yang rahmatan lil alamin di Indonsia adalah tugas sejarah yang mesti dilanjutkan. Kedua ulama muda ini nyaris memiliki karakter yang tidak jauh berbeda; TGB adalah sosok yang cerdas, sejuk, selalau menebarkan kesantunan dalam berdakwah dan memegang teguh prinsip moderasi islam sementara Lora Zaim adalah sosok yang selalu tersenyum, sederhana, dan menyukai sastra dalam berdakwah.

Keduanya adalah mutiara bagi bangsa Indonesi di masa kini dan akan datang. Di pundak beliau berdua, kita berharap Indonesia akan tetap menjadi bangsa tempat tumbuhya islam yang ramah, damai sebagai rahmat bagi seluruh ummat.

Tumbuh Dalam Lanskap Religio-sosial yang Sama

Bila ingin melihat besarnya perjuangan seorang tokoh, maka tengoklah ekosistem tempat dia tumbuh dan besar.  Bila lingkungan tempat ia tumbuh masih terbelakang, maka dapat dibayangkan kerasnya perjuangan yang ditempuh. Semakin berat medan yang dihadapi maka semakin banyak keringat yang akan tumpah. Hal inilah yang dialami oleh Maulanasyeikh TGKH Zainuddin Abdul Majid ketika pertama kali mendirikan pesantren di tahun 1934 yang ia beri nama Mujahidin. Tahun-tahun ketika Indonesia belum lahir, sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat terbelakang. Sebagian masih dalam masa kegelapan. Disituasi itulah gagasan untuk mendirikan pesantren ini lahir.

Lalu pada tahun 1937, beliau mendirikan NWDI dan di tahun 1943 beliau melengkapinya dengan mendirikan NBDI. Pendidikan khusus perempuan pertama yang berdiri Nusa Tenggara. Komitmen Maulana terhadap perempuan sungguh besar, itu tertuang dalam pandangan beliau seperti “kaum perempuan adalah tiang negara, bila ia baik maka baiklah negara dan bila ia buruk maka buruklah negara”. Kepedulian ini tentu bukan hal yang biasa ditengah kondisi perempuan di masa itu yang masih jauh tertinggal, kaum perempuan tidak banyak yang mengenal pendidikan, mereka menjadi the second people bahkan mereka tidak merdeka atas tubuhnya sendiri. Situasi yang gelap.

BACA JUGA:  Revisi UU Penyiaran: Berharap Pengawasan Media Baru

Namun ditengah situasi itu Maulana mendirikan NBDI. Sungguh ini adalah cakrawala yang cemerlang dan futuristik. Beliau Rela berkubang dengan peluh ketika pilihan untuk hidup nyaman tinggal dan mengajar di Makkah misalnya bisa saja ia pilih, namun itu tidak dilakukan. Beliau memilih berjuang membangun, mendidik dan membesarkan bangsanya sendiri. Ini tentu adalah pilihan yang mungkin tidak semua orang akan menempuhnya.

Di masa itu Maulana juga membangun tradisi baru dalam berdakwah yaitu dengan mendatangi langsung ummat, beliau menggunakan cidomo berkeliling dari kampung ke kampung. Berbeda dengan tradisi sebelumnya, masyarakat yang mendatangi ulama.

Begitu pula Almagfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin, sejak kecil beliau diajak oleh ayahnya (KHR. Syamsul Arifin) membabat hutan belantara untuk mendirikan pesantren. Meninggalkan kampung halamannya di Pamekasan Madura untuk memulai perjuangan baru, menciptakan masa depan baru; bukan untuk dirinya, tapi untuk masyarakat dan bangsanya. Sebuah pilihan yang tidak gampang.

Lalu ketika pulang dari Mekkah dan memulai membesarkan pesantren, beliau mencetuskan sebuah gagasan baru yang cemerlang yaitu membangun sistem klasikal dalam pendidikan pondok pesantren. Gagasan yang sungguh maju ketika itu, ditengah model pendidikan pondok pesantren di Jawa yang masih tradisonal, dengan sistem sorogan (ngaji duduk). Gagasan ini kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya sistem pendidikan pesantren baik di Sukorejo maupun pesantren lainnya.

Kedua tokoh ini adalah pejuang yang dipertemukan dalam semangat yang sama, dipertemukan dalam lanskap perjuangan yang sama dan dipertemukan dalam cita-cita yang sama. Menjaga martabat bangsa, mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan menciptakan masyarakat yang terdidik, religius dan cinta tanah air. Itu adalah muara tempat mereka dipertemukan.”

Kiyai As’ad tumbuh dan besar ditengah belantara  yang masih tribal. Di sepanjang hutan Baluran, Sukorejo, Asembagus banyak preman, perampok dan pencuri yang berkeliaran. Kiyai As’ad muda dikenal sebagai pribadi yang ulung dalam membanungn jaringan sosial dengan mereka. Beliau menundukkan para penjahat dengan filosofi, menangkap ikan dengan tetap membiarkan air jernih . Buah dari strategi ini kelak akan berguna untuk membangun laskar dalam melawan penjajah.

BACA JUGA:  Hoax! PLN Bantah Berikan Subsidi Listrik Rp 5 Juta

Karena itu menurut Ricklefs, hebatnya seorang ulama di masa-masa pra revolusi, mereka adalah aktor sosial paling menonjol, memiliki kiprah yang sangat strategis ditengah masyarakat. Menjadi agen perubahan, menjadi lokomotif peradaban. (Ricklefs; 2013)

 Bertemu di Medan Perjuangan Kemerdekaan

Di masa-masa revolusi kemerdekan, kedua tokoh ini dipetemukan dalam arena yang sama. Di medan juang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Maulana menjadikan institusi-institusi pendidikan dilingkungan Nahdatul Wathan sebagai tempat membangun patriotisme.

Pandangannya tentang nasionalisme dan kebangsaan sungguh sangat menggetarkan. Pada halaqah-halaqah terbatas beliau sering berpesan bahwa; “kita ini berislam bukan diruang hampa, tapi diruang Indonesia, berarti antara kebangsaan dan keislaman adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan”. Pada kesempatan yang lain beliau juga menyampaikan bahwa; “ujian keislaman kita terletak pada seberapa banyak kita memberi manfaat buat bangsa”. Pesan-pesan ini menyiratkan betapa teguh dan dalamnya nasionalisme Maulana.

Dalam perlawanan fisik, saat perang pecah mempertahankan kemerdekaan, Maulana mendirikan Laskar Mujahidin, beliau mengkonslidasikan santri, tenaga pengajar dan masyarakat untuk ikut berperang bersama adiknya. Beliau bahkan sering disebut sebagai desainer serangan yang dipimpin oleh adiknya TGH. Muhammad Faisal dan Sa’id Saleh  ke markas NICA. Serangan yang telah menggugurkan keduanya di medan jihad.

Demikian pula Kiyai As’ad, dimasa-masa revolusi beliau mendirikan Laskar Pelopor yang diisi oleh para mantan penjahat. Beliau mengkonsolidasikan mereka dan menanamkan semangat cinta tanah air dan gelora perjuangan melawan penjajah. Laskar Pelopor ini kemudian menjadi pasukan berani mati yang tangguh dalam mengusir penajajah.

Pada masa-masa Orde Baru, ketika presiden Suharto menerapkan pancasila sebagai azas tunggal, beliau tokoh yang bersedia menerimanya, dan mengajak para ulama untuk berijtihad menerima pancasila sebagai azas tunggal dalam bernegara. Bagi banyak pihak, ini dianggap jasa besar kiyai as’ad khsusunya bagi Nahdlatul ulama.

Kedua tokoh ini adalah pejuang yang dipertemukan dalam semangat yang sama, dipertemukan dalam lanskap perjuangan yang sama dan dipertemukan dalam cita-cita yang sama. Menjaga martabat bangsa, mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dan menciptakan masyarakat yang terdidik, religius dan cinta tanah air. Itu adalah muara tempat mereka dipertemukan. Mereka adalah pahlawan besar bagi masyarakat dan bangsa. Terima kasih pahlawanku, kini kedua cucumu akan melanjutkan sejarah yang telah engkau torehkan.

Penulis adalah Peneliti Masalah Sosial Politik dan Budaya NTB