Dimas

Namanya mengingatkan tentang Santo Valentinus, seorang martir, sosok populer yang diperingati orang-orang sedunia setiap Februari. Juga novelis Prancis di abad 19: Alexander Dumas. Atau Alejandro Dimas, pelukis ternama di California.

Lombok juga punya sosok hebat. Namanya Dimas Valentino. Dia bukan tokoh rohani, pengarang, atau perupa. Tapi ia juga kesohor, lantaran suaranya yang menggemaskan. Dari sebuah frekuensi short wave (SW) di tahun 1980-an, suaranya menempuh jarak bermil-mil. Menembus ruang dan waktu.

Ia seorang announcer kawakan di Pulau Lombok. Hampir setengah abad berkutat dengan profesi ini. Sehingga, radio Rinjani Permai (Riper) tempatnya bekerja, identik dengan namanya yang beken. “Saking konsisten dengan pergumulan profesinya, nama anak-anaknya selalu ada embel-embel seputar radio,” kata Sukri Ray Aruman, mantan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) NTB.

Dimas punya ribuan penggemar setia, termasuk saya. Sayang sampai sekarang saya belum sempat ngobrol panjang lebar dengannya. Saya pastikan, ia menyimpan banyak informasi penting terkait perjalanan media radio. Juga tentang dunia entertain di daerah ini.

Waktu itu, di Alas, Sumbawa, tempat kelahiran saya, pesawat radio hanya mampu menangkap siaran RRI Mataram dan Riper dengan cukup jelas. Selebihnya radio Australia, RRI Sumenep, dan RRI Stasiun IV Ujung Pandang, bisa didengar sayup, antara ada dan tiada.

BACA JUGA:  Mas Jerry: Selamat Jalan  Sang Panutan!

Dari RRI Mataram saya memonitor informasi daerah, dari berita-berita yang dibacakan di sesi pagi hingga sore. Tetapi, hiburan murni saya dapatkan dari siaran Riper, tentu saja melalui cuap-cuap Dimas.

Belakangan saya mengetahui Dimas juga penyanyi yang sangat keren. Rambutnya gondrong, mirip penampilan Suhaimi bin Abdul Rahman yang lebih dikenal Amy Search, penyanyi top di negeri jiran, Malaysia. “Kalau masuk kantor, dia selalu memakai topi, untuk menutupi rambut gondrongnya,” kata kakak ipar saya H Sulaeman, pensiunan PNS yang berasal dari Kampung Banjar, Ampenan.

Dimas ternyata juga pernah bekerja di kantor PU. Namun instansi yang di masanya tempat duit menumpuk, ia tinggalkan begitu saja. Menurut Dimas, dunia entertain saat itu jauh lebih basah.

Saya punya hobi bermain musik. Saat SMA saya sudah masuk grup band profesional setempat.

Dimas Valentino bersama komunitas penyiar yang tergabung dalam Asosiasi Penyiaran Republik Indonesia (APRI) NTB.

Suatu hari di akhir 1980-an, saya mendengar informasi sebuah band Mataram akan tampil di lapangan Kerato, Alas. Harga tiketnya Rp 1000, setara dengan tiga bungkus rokok.

“Saya harus nonton,” demikian keputusan saya yang ingin tahu kualitas perangkat sound sekaligus kemampuan musisi dari ibu kota provinsi.

BACA JUGA:  Deretan Aktris Dunia yang Kagumi Shah Rukh Khan

Nama band itu Alkanari. Tempat pertunjukannya dikelingi pagar bambu tinggi yang dilapisi terpal putih. Di Alas disebut keroro. Tentu tidak mudah untuk mencoba menerobosnya. Apalagi petugas keamanan berjaga di setiap sudut.

Saya masuk — tentu saja membeli tiket — persis ketika MC mulai membuka acara. Saya tertegun, vokal pembawa acara itu persis milik penyiar yang sering saya dengar. Ternyata benar. Ini saya ketahui setelah ia memperkenal diri. Waktu itu namanya Dimas Valentin, tanpa huruf o di belakang.

Saya benar-benar bersyukur malam itu. Untuk pertama kalinya saya menyaksikan pertunjukan musik yang istimewa. Untuk pertama kali pula saya melihat dan mendengar perangkat sound yang dahsyat, yang bisa menembus lebih dari 1 kilometer. Kualitas suara perangkat yang jernih juga semakin sempurna dengan kemahiran para pemusik.

Saya takjub sekaligus malu, saat menyaksikan penampilan Alkanari. Ternyata kemampuan musik saya hanya sekuku, seperti membandingkan bumi dengan langit.

Tetapi, malam itu saya juga mendapat pelajaran penting. Tak disangka, sebelum pentas musik dimulai, Dimas menyebut grup band saya. Saya sempat geer. Entah dari mana ia tahu tentang band lokal ini. Ia menyampaikan salam hangat untuk grup ini, sekaligus mengucapkan permisi untuk bermain musik di Alas. Grup hebat namun begitu santun. Benar-benar menerapkan filosofi padi. Makin merunduk makin berisi.

BACA JUGA:  Ilmu Komunikasi Akan Terus Tumbuh dan Berkembang

Lalu, saya semakin terperangah ketika Dimas membawakan Isabella, lagu yang hits saat itu. Sebanyak penyanyi yang pernah saya iringi, belum pernah bisa menjangkau nada tinggi di lagu milik Amy Search itu. Tapi Dimas menyanyikannya dengan sempurna. Lengkingan suaranya tanpa beban. Jujur, bagi saya, masih lebih sensasional mendengar Dimas membawakannya ketimbang menikmatinya dari pemutar kaset.

Ketika saya hijrah ke Mataram, saya jarang absen menyaksikan Dimas bernyanyi. Beberapa kali ia tampil di KONI.

Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow share their dreams
With you and me

Itu salah satu lirik yang saya kenang. Wind of Change, salah satu lagu populer dari Scorpios, itu membuat penonton terpukau ketika Dimas menyanyikannya di stadion itu — sekarang menjadi Islamic Center. Lagu yang diawali siulan. Dan Dimas juga bersiul tak kalah merdu. Mengalun sampai jauh, merasuk hingga buluh kalbu.

>