Dominasi Dolar AS Mulai Terancam Uang Digital China

MATARAMRADIO.COM, New York  – Republik Rakyat China (RRC) benar-benar ingin menunjukkan pengaruhnya terhadap perekonomian dan keuangan dunia. Bahkan Amerika Serikat kini mulai keteter dengan gebrakan China mengembangkan mata uang digital.

Perlahan namun pasti, China mulai mengikis dominasi Amerika Serikat (AS) dalam inovasi uang digital.
Melalui yuan digital, China secara terbuka siap melawan pengaruh dolar AS sebagai cadangan moneter de facto. Sekitar 80 negara, termasuk AS dan China, saat ini tengah mengembangkan mata uang digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC).


CBDC adalah bentuk lain dari uang yang diregulasi tetapi sepenuhnya berada dalam bentuk daring. China telah meluncurkan yuan digital kepada lebih dari 1 juta warganya, sementara AS masih dalam tahap riset.

Dua kelompok yang ditugaskan melakukan riset ini adalah Inisiatif Uang Digital Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Bank Sentral Cabang Boston. Saat ini mereka masih memantau implementasi yuan digital dan privasi menjadi isu utama yang disorot.
“Jika ada dolar digital nanti, privasi akan menjadi isu yang sangat penting. AS berbeda dengan China,” kata Neha Narula, direktur Inisiatif Uang Digital MIT Media Lab sebagaimana dilansir CNBC International.

BACA JUGA:  39 Orang Meninggal di India, Diduga Akibat Demam Misterius

Kekhawatiran lainnya adalah akses. Menurut Pew Research Center, 7 persen dari warga Amerika tidak menggunakan internet. Untuk kelompok kulit hitam, angkanya mencapai 9 persen. Untuk warga lansia (di atas 65 tahun), angkanya mencapai 25 persen. Penyandang disabilitas juga mengalami kesulitan mengakses internet dibanding mereka yang tidak memiliki disabilitas.
“Sebagian tugas kami adalah berdasarkan asumsi CBDC akan berdampingan dengan uang fisik, dan masyarakat masih bisa menggunakan uang fisik jika mereka ingin,” kata Narula.

Salah satu tujuan CBDC AS adalah agar dolar tetap menjadi mata uang utama di dunia.“AS sebagai pemimpin tidak boleh lengah dalam hal ini. AS harus maju dan mengembangkan strategi untuk menjaga dan memanfaatkan kekuatan dolar AS,” kata Darrell Duffie, profesor keuangan di Stanford University.

Tujuan CBDC AS lainnya adalah karena yuan digital dianggap berbahaya.
“Yuan digital adalah ancaman terbesar terhadap Barat dalam 30,40 tahun terakhir. Yuan digital memungkinkan China mencengkeram semua orang di Barat dan menjadi pintu ekspor otoritarianisme digital,” kata Kyle Bass dari Hayman Capital Managemen dikutip AsiaToday. (EditorMRC)

BACA JUGA:  Jokowi Sebut Ketimpangan Penanganan Pandemi Korona Pada Sidang Umum PBB

MATARAMRADIO.COM, New York  – Republik Rakyat China (RRC) benar-benar ingin menunjukkan pengaruhnya terhadap perekonomian dan keuangan dunia. Bahkan Amerika Serikat kini mulai keteter dengan gebrakan China mengembangkan mata uang digital.

Perlahan namun pasti, China mulai mengikis dominasi Amerika Serikat (AS) dalam inovasi uang digital.
Melalui yuan digital, China secara terbuka siap melawan pengaruh dolar AS sebagai cadangan moneter de facto. Sekitar 80 negara, termasuk AS dan China, saat ini tengah mengembangkan mata uang digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC).
CBDC adalah bentuk lain dari uang yang diregulasi tetapi sepenuhnya berada dalam bentuk daring. China telah meluncurkan yuan digital kepada lebih dari 1 juta warganya, sementara AS masih dalam tahap riset.

Dua kelompok yang ditugaskan melakukan riset ini adalah Inisiatif Uang Digital Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Bank Sentral Cabang Boston. Saat ini mereka masih memantau implementasi yuan digital dan privasi menjadi isu utama yang disorot.
“Jika ada dolar digital nanti, privasi akan menjadi isu yang sangat penting. AS berbeda dengan China,” kata Neha Narula, direktur Inisiatif Uang Digital MIT Media Lab sebagaimana dilansir CNBC International.

BACA JUGA:  Disuntik Vaksin Covid Moderna, Dua Warga Jepang Meninggal Dunia

Kekhawatiran lainnya adalah akses. Menurut Pew Research Center, 7 persen dari warga Amerika tidak menggunakan internet. Untuk kelompok kulit hitam, angkanya mencapai 9 persen. Untuk warga lansia (di atas 65 tahun), angkanya mencapai 25 persen. Penyandang disabilitas juga mengalami kesulitan mengakses internet dibanding mereka yang tidak memiliki disabilitas.
“Sebagian tugas kami adalah berdasarkan asumsi CBDC akan berdampingan dengan uang fisik, dan masyarakat masih bisa menggunakan uang fisik jika mereka ingin,” kata Narula.

Salah satu tujuan CBDC AS adalah agar dolar tetap menjadi mata uang utama di dunia.“AS sebagai pemimpin tidak boleh lengah dalam hal ini. AS harus maju dan mengembangkan strategi untuk menjaga dan memanfaatkan kekuatan dolar AS,” kata Darrell Duffie, profesor keuangan di Stanford University.

Tujuan CBDC AS lainnya adalah karena yuan digital dianggap berbahaya.
“Yuan digital adalah ancaman terbesar terhadap Barat dalam 30,40 tahun terakhir. Yuan digital memungkinkan China mencengkeram semua orang di Barat dan menjadi pintu ekspor otoritarianisme digital,” kata Kyle Bass dari Hayman Capital Managemen dikutip AsiaToday. (EditorMRC)