Oleh : Saifullah Yusuf*

Semua bangsa di semua negara, tengah sibuk mencari jalan keluar dari sergapan wabah Covid-19. Semangatnya sama : berhadap-hadapan secara langsung dengan virus yang awal kemunculannya, kini kembali diperdebatkan. Corona dianggap musuh nyata, sehingga pendekatan yang digunakan adalah “senjata” yang sifatnya face to face , konfrontatif.

Banyak keputusan diambil sifatnya reaktif, sementara cara pandang tentang Corona belum sepenuhnya sesuai kenyataan. Yang penting lawan, babat habis, tumpas dan enyahkan. Bak melawan hantu, kita hanya mampu membayangkan sosoknya, sesuai sudut pandang dan kebiasaan masing-masing bangsa. Tidak ada yang dengan tepat dapat memastikan bagaimana figuritas Corona.

Tentu saja, banyak kesimpulan terkait Corona jadi sumir . Meyakini Corona sebagai musuh kasat mata adalah kesalahan pertama dan fatal yang terjadi di banyak negara. Padahal, virus ini tidak “nyata” , dalam artian ; hingga kini belum ada ahli virus, mikrobiologi, epidemiologi, kesehatan dan kedokteran yang berhasil mendefinisikan makhluk ini secara tepat dan benar. Tak gampang kita membidiknya.

Perubahan Paradigma

Ia lihai. Bermutasi dengan cepat sebelum sempat terdeteksi. Terbukti, setelah sekian bulan energi banyak terkuras menghadapi Corona, kini paradigma yang disepakati dalam mengatasi dan menanggulangi persebarannya, mulai bergeser. Berubah dari hard ke soft approach . Corona tak lagi diposisikan sebagai musuh yang dihadapi secara face to face . Meyakini bisa menumpasnya dalam waktu pendek, hanya ilusi.

Dalam beberapa bulan terakhir, manusia menghabiskan banyak modalitas hanya untuk mengatasi akibat yang ditimbulkan Corona. Semua anggaran pemerintah di semua negara, prioritasnya dialihkan untuk pengadaan obat, penyiapan tenaga medis, rumah sakit dan segala sumber dayanya, atau penguburan ratusan ribu mayat. Kehidupan diserang jantungnya. Resesi ekonomi jadi ancaman paling nyata. Jutaan orang sudah di-rumah-kan. Bahaya gejolak rakyat membayang di pelupuk mata.

Dalam pada itu, mencari negara tertentu untuk dijadikan standar dan contoh dalam menyelesaikan wabah ini, tidak mudah. Awalnya Cina dan Korea Selatan disebut negara yang sudah berada di track yang benar. Namun dalam perkembangan terakhir diketahui, keduanya justeru tengah dihantui kecemasan massif akan kemungkinan datangnya gelombang kedua. Kekuatiran menghantui semua negara dan semua bangsa.

Celah ini yang membuat Badan Kesehatan Dunia–WHO memprediksi, Covid-19 tidak akan sepenuhnya bisa dihilangkan. Ia akan menetap. Mengambil locus tertentu di negara-negara dengan lingkungan yang tidak sama. Ia akan beradaptasi dengan kondisi alam tropis dan alam subtropis. Ia bisa memapari orang-orang di Amerika, semudah ia menyerang bangsa Eropa, Afrika, Australia dan Asia.

Tiga Situasi

Mencermati situasi ini, pertama ; mari berikan waktu dan anggaran seluas-luasnya kepada para ahli, berkonsentrasi membuat, bukan hanya menemukan, vaksin untuk melumpuhkan Corona. Semua mesti borkontribusi, menciptakan iklim yang kondusif. Taruh di belakang semua isu kecuali langkah mengakselerasi terciptanya vaksin. Berdayakan dan percayai badan-badan kesehatan untuk menjalani perannya.

Karena tak ada kepastian kapan vaksin selesai dibuat dan ampuh mengatasinya, maka virus ini akan mengepakkan sayap-sayap mautnya dengan bebas ke seluruh permukaan bumi. Tidak banyak yang bisa mengelak. Semua orang tinggal menunggu waktu dan gilirannya. Jika sudah tercipta situasi kedua ; herd immunity , virus perlahan tak akan banyak mengintimidasi manusia. Sudah barang pasti, pertaruhannya akan sangat menyakitkan.

Akan tetapi, herd immunity mungkin hanya bisa dicapai lewat vaksinasi. Sejumlah ilmuwan mengklaim bahwa bila ada cukup banyak orang yang memiliki antibodi, virus dapat menghilang, dengan asumsi bahwa antibodi yang dimiliki memang benar-benar menimbulkan kekebalan. Herd immunity diyakini, dapat terjadi bila sekitar 65 persen hingga 75 persen dari populasi telah terinfeksi.

Diprediksi jutaan nyawa akan melayang sebagai konsekuensi logis dari terciptanya herd immunity. Memang terasa tidak adil, tetapi bila kondisi tidak berubah dan cara pandang manusia tidak beranjak, maka itulah resiko terburuk yang sudah menunggu di gerbang-gerbang kompleks pekuburan. Kini saatnya masyakat berkawan dengan Corona. Dengan segala resikonya. Bukankah cuma kawan yang paling paham kelemahan/kelebihan kawannya ?

Maka, menggunakan pendekatan berbeda adalah keniscayaan. Sebab, dengan menganggapnya musuh, terbukti manusia tak berdaya di hadapan trilyunan virus Corona. Kita mesti menimbang dengan cermat dan terukur, dalam kontek perlunya bersahabat dengan Corona. Mari belajar dan menyepakati pola hidup dan pola pikir baru. Inilah situasi ketiga ; membuat norma baru di atas abnormalitas ; yakni a new normal.

Tiga Standar

Di atas kanvas a new normal ini, masyarakat harus ambil inisiatif, berdiri di penjuru terdepan. Menyiapkan jaminan diri untuk keselamatan sebanyak mungkin diri manusia. Nyaris setengah tahun terakhir wabah telah memaksa manusia, mengubah kebutuhan akan kebersihan , naik peringkat. Virus mudah menyerang tubuh yang tidak bersih.

Cleanliness pada semua cakupannya, mesti jadi perhatian dan kebutuhan utama. Bersih harus jadi standar. Tidak bersih berarti tidak memenuhi standar. Tidak memenuhi standar berarti tidak lolos a new normal. Melanggar kebersihan termasuk aib. Kebersihan dijadikan faktor utama penerapan etiket di semua aspek kehidupan. Di rumah, kantor, sekolah, pabrik, tempat pertemuan, rumah-rumah ibadah, semua menerapkan kebersihan dengan level tinggi.

Untuk mendukung program hidup bersih, maka protokol kesehatan dalam mengatasi Covid-19 yang telah diadopsi pemerintah lewat WHO, bisa menjadi konsensus nasional. Ber-masker, jaga jarak fisik dan sosial, penggunaan disinfektan di sejumlah tempat umum, jadi norma baru dalam keseharian. Menyalahi protokol, jadi tanggungjawab semua orang.

Bersin di tengah kerumunan, melanggar kesopanan versi a new normal . Menjalani hari-hari dengan keadaan yang dulu dianggap merepotkan, melelahkan, tak sopan, tak berbudaya, bahkan aneh, tapi lambat laun akan terasa sebagai sesuatu yang normal. Mengenakan topi atau peci mungkin juga menjadi tradisi normal yang baru.

Tidak jabat tangan, bukan bentuk ketidaksopanan. Mengantongi sanitizer atau alkohol juga menjadi a new normal . Sekalipun cuci tangan dengan sabun di air mengalir lebih baik, tapi dalam keadaan minim air atau jauh dari toilet maka hand sanitizer atau alkohol bisa membantu membersihkan tangan. Kalau jadi habit , dengan mudah kita bisa daftarkan norma-norma baru lainnya.

Semua ini diharapkan bermuara pada terciptanya keselamatan. Terlebih, Islam menetapkan salah satu tujuan syariat adalah tersedianya jaminan keselamatan. Konsensus nasional soal a new normal , akan mengembalikan masyarakat ke rumah-rumah ibadah, sekolah, kantor dan habitat lainnya.

Tentu, semua dilakukan dengan norma baru. Masjid dengan norma baru. Sekolah dengan norma baru. Kantor dengan norma baru. Transportasi dan sarana publik dengan norma baru. Last but not least , pemerintah harus secepatnya menyiapkan instrumen dan legal standing agar rakyat merasa nyaman dalam menerapkan gagasan besar di era baru.

Welcome To A New Normal !

Saifullah Yusuf adalah Ketua PBNU, Wakil Gubernur Jawa Timur 2009-2019 dan Founder Area Wisata Halal Ngopibareng Pintu Langit,-