Ketika Pasien BPJS Dibully, Di Mana Empati Seorang Tenaga Kesehatan?

MATARAM RADIO CITY

Catatan Tangan Kanan Wiedmust

Ada sesuatu yang rasanya sulit diterima akal sehat dalam kisah almarhum Yurizal.

Ia seorang pasien. Ia menggunakan BPJS. Ia mengeluhkan pengalaman menunggu pelayanan kesehatan. Sesederhana itu.

Tetapi alih-alih mendapat empati, keluhannya justru menjadi bahan cibiran. Ironisnya, sebagian komentar yang beredar datang dari orang-orang yang seharusnya paling memahami arti sakit, takut, cemas, dan ketidakberdayaan seorang pasien: dokter dan tenaga kesehatan.

Bayangkan seseorang sedang sakit, sedang menunggu pertolongan, mungkin sedang gelisah memikirkan kondisi dirinya, kemudian keluhannya di media sosial justru disambut dengan ejekan dan komentar yang merendahkan.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada hati kita?

Yang membuat dada semakin sesak, Yurizal kini telah meninggal dunia.

Maka komentar-komentar itu tidak lagi sekadar persoalan “salah ketik”, “candaan”, atau “khilaf di media sosial”. Di balik sebuah akun media sosial ada manusia yang sedang berhadapan dengan rasa sakit. Dan di balik pasien yang mengeluh, ada keluarga yang berharap orang yang mereka cintai mendapatkan pertolongan.

BACA JUGA:  PPKM Darurat dan Jalan Ekonomi

Karena itu, sungguh wajar jika publik marah.

Marah bukan karena semua dokter dan nakes buruk. Justru karena kita berharap profesi yang mulia ini dijaga oleh manusia-manusia yang memiliki empati.

Dokter bukan hanya orang yang pandai membaca hasil laboratorium. Nakes bukan hanya orang yang terampil memberikan tindakan medis. Mereka juga berhadapan dengan manusia yang sedang berada pada titik paling rapuh dalam hidupnya.

Pasien tidak selalu membutuhkan kalimat panjang.

Kadang pasien hanya membutuhkan seseorang berkata:

“Sabar ya, Pak. Kami akan bantu.”

Sesederhana itu.

Lalu bagaimana jika seorang dokter atau tenaga kesehatan justru menjadikan pasien sebagai bahan olok-olok?

Terus terang, dongkol rasanya. Kesal. Bahkan marah.

Sebab masyarakat memberikan kepercayaan yang luar biasa besar kepada profesi kesehatan. Ketika seseorang mengenakan jas dokter, masyarakat bukan cuma melihat gelar akademiknya. Mereka melihat seseorang yang diharapkan bisa menjaga kehidupan dan martabat manusia.

Apalagi jika pendidikan seorang dokter dibiayai melalui LPDP, yang sumber dananya berasal dari uang negara uang yang pada hakikatnya berasal dari rakyat.

BACA JUGA:  Belajar Toleransi di Titik 26

Beasiswa negara bukan sekadar fasilitas untuk mengejar gelar.

Di dalamnya ada uang pajak. Ada kontribusi masyarakat. Ada harapan agar penerimanya kelak kembali memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada bangsa.

Maka ketika penerima beasiswa negara justru tersandung persoalan etika dan empati terhadap seorang pasien, publik berhak bertanya:

Apakah uang rakyat hanya membiayai kecerdasan, tetapi tidak ikut membiayai tumbuhnya empati?

Tentu tidak adil jika seluruh dokter dan nakes dipukul rata. Banyak sekali dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan yang setiap hari bekerja dalam diam, berjam-jam melayani pasien, bahkan mempertaruhkan tenaga dan waktunya demi menyelamatkan orang lain.

Mereka pantas dihormati.

Justru karena itulah perilaku segelintir orang yang menghina atau membully pasien harus ditegur keras. Jangan sampai ulah beberapa orang membuat kemuliaan seluruh profesi ikut tercoreng.

Dan untuk almarhum Yurizal, mungkin kita sudah terlambat memberikan pertolongan.

Tetapi setidaknya jangan sampai kita terlambat belajar.

Belajar bahwa pasien BPJS bukan manusia kelas dua.

BACA JUGA:  Perekonomian NTB Rontok Akibat Covid-19    

Belajar bahwa orang yang sedang sakit tidak layak dijadikan bahan lelucon.

Belajar bahwa di balik setiap akun media sosial ada manusia yang memiliki perasaan.

Dan belajar bahwa jas putih tidak otomatis membuat seseorang lebih manusiawi. Kemanusiaanlah yang membuat profesi itu benar-benar mulia.

Semoga almarhum Yurizal mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

Dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.

Untuk para dokter dan tenaga kesehatan yang tetap menjaga hati, tetap melayani dengan senyum dan tetap menghormati pasien terima kasih.

Tetapi kepada mereka yang merasa pasien adalah objek yang pantas ditertawakan:

ingatlah, suatu hari nanti kita semua bisa menjadi pasien.

Saat tubuh sudah lemah, saat kita sedang takut, saat kita membutuhkan pertolongan, kita tidak akan mencari dokter yang paling pintar mengejek.

Kita hanya ingin bertemu manusia yang mau berkata:

“Tenang. Saya akan membantu Anda.”

Sebab pada akhirnya, yang paling dibutuhkan seorang pasien bukan hanya ilmu kedokteran. Tetapi juga rasa kemanusiaan.