Lebaran yang Selalu Menemukan Jalan Panjang

Catatan Wiedmust 21 Ramadhan

Ada saat-saat tertentu dalam hidup ketika kenangan datang tanpa diundang. Ia hadir pelan-pelan, seperti aroma kue yang keluar dari dapur menjelang Lebaran.

Mungkin bermula dari sesuatu yang sederhana: suara takbir yang terdengar dari kejauhan, bau kue yang dipanggang, atau pemandangan toples-toples kue yang kembali memenuhi meja tamu.

Hal-hal kecil itu sering kali membuka pintu ingatan yang sudah lama tersimpan.

Dulu, di banyak rumah di kampung, ada satu benda yang hampir selalu hadir setiap Lebaran: kaleng biskuit merah bergambar keluarga yang sedang minum teh. Kaleng Khong Guan itu seolah menjadi penanda bahwa hari raya benar-benar sudah dekat. Meski sering kali isinya bukan lagi biskuit, melainkan kue buatan ibu atau rengginang, kaleng itu tetap setia berada di meja ruang tamu menjadi bagian dari tradisi yang sederhana, tetapi hangat.

BACA JUGA:  Ramadhan dan Cerita Kita yang Tak Pernah Usai

Di dapur, ibu dan para perempuan di rumah sibuk sejak pagi. Bau selai nanas dari nastar yang baru keluar dari oven perlahan memenuhi rumah. Di atas piring kaca, potongan lapis legit tersusun rapi, menunggu tamu yang datang bersilaturahmi. Anak-anak mondar-mandir di antara dapur dan ruang tamu, sesekali mencuri satu dua kue sebelum waktunya.

BACA JUGA:  Selama Puasa, Pengunjung Aruna Senggigi Bisa Dapat Emas

Lebaran waktu itu mungkin tidak mewah. Tidak banyak pilihan kue, tidak ada hampers mahal, dan foto keluarga pun masih diambil dengan kamera sederhana.
Namun ada sesuatu yang terasa begitu penuh.

Penuh tawa.
Penuh kebersamaan.
Dan penuh rasa pulang.

Kini waktu berjalan lebih cepat dari yang kita sadari. Banyak orang merayakan Lebaran jauh dari kampung halaman. Rumah-rumah lama perlahan sepi. Sebagian kursi di ruang tamu yang dulu selalu terisi kini mulai kosong satu per satu.

Kue Lebaran mungkin semakin beragam. Meja tamu mungkin semakin lengkap. Tetapi sering kali hati diam-diam mencari sesuatu yang dulu terasa begitu biasa: rumah yang ramai oleh keluarga.

BACA JUGA:  Makanan Bergizi tidak Harus Mahal

Barangkali itulah sebabnya setiap Lebaran selalu membawa kerinduan yang sama.

Kerinduan pada dapur yang hangat menjelang hari raya.

Kerinduan pada halaman rumah tempat anak-anak berlarian setelah salat Id.

Dan kerinduan pada orang-orang yang dulu membuat Lebaran terasa begitu hidup.

Sebab pada akhirnya, Lebaran bukan sekadar perayaan tahunan.

Ia adalah kumpulan kenangan yang tumbuh bersama waktu dan setiap kali takbir kembali bergema, kenangan itu selalu menemukan jalannya untuk pulang.