Knalpot, Nasi Uduk, dan Harga Sebuah Emosi

MATARAM RADIO CITY

Catatan Tangan Kanan wiedmust

Minggu pagi, 26 Juli 2026, sekitar pukul 10.00 WIB, kawasan Jalan Matraman Dalam, Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat mendadak berubah mencekam.

Yang semula hanya suasana warga menikmati akhir pekan, seketika berubah menjadi arena bentrokan dua kelompok.

Ironisnya, semua ini diduga berawal dari sesuatu yang terdengar sepele: motor yang digeber dengan knalpot bising.

Konon, ada warga yang menegur, “Bang, pelan sedikit. Ini kampung, bukan sirkuit.”

Kalimat itu seharusnya selesai dalam lima detik.

“Maaf, Bang.”

Selesai. Semua pulang. Pedagang tetap jualan. Warga tetap ngopi.

Sayangnya, yang pulang bukan rasa malu, melainkan rasa tersinggung.

BACA JUGA:  OPINI: Bukan Sepele, Jangan Diam-diam Tetapkan Lahan Sawah Dilindungi

Rombongan itu pergi, lalu kembali dengan jumlah lebih banyak untuk mencari orang yang menegur. Namun orang yang dicari sudah tidak ada.

Yang ada hanya sebuah gerobak nasi uduk.

Entah bagaimana logikanya, gerobak itu kemudian menjadi sasaran amarah. Padahal dosa terbesarnya hanya menjual nasi, telur balado, bihun, sambal, dan berharap dagangannya habis sebelum siang.

Dari situlah suasana memanas. Warga yang melihat gerobak dirusak ikut terpancing. Bentrokan pun tak terhindarkan.

Akibat kejadian tersebut, satu orang meninggal dunia, sementara delapan orang telah diamankan polisi untuk menjalani pemeriksaan dan mendalami peran masing-masing.

Polisi bergerak cepat dengan menerjunkan personel ke lokasi untuk membubarkan massa, mengamankan situasi, memasang garis polisi di area kejadian, melakukan olah tempat kejadian perkara, memeriksa saksi-saksi, serta mengamankan delapan orang yang diduga terlibat. Penyidik juga masih mendalami motif dan kronologi lengkap agar peristiwa ini tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

BACA JUGA:  Transparansi Anggaran Pendidikan dan PAD: Jalan Mataram Membangun Generasi Produktif

Peristiwa ini mengajarkan satu hal: emosi yang tidak direm bisa lebih berbahaya daripada knalpot yang tidak diredam.

Kasihan pedagang nasi uduk. Ia bangun sejak dini hari, belanja ke pasar, menanak nasi, menggoreng lauk, berharap mendapat rezeki untuk keluarganya. Namun dalam hitungan menit, hasil jerih payahnya hancur karena pertengkaran yang sama sekali bukan urusannya.

Kalau dipikir-pikir, nasi uduk itu tidak pernah menggeber knalpot.

BACA JUGA:  JANGAN PETIK BUAH SEBELUM MATANG (Renungan Menuju NTB Tanpa Pengantin Anak)

Gerobaknya juga tidak ikut marah.

Yang marah justru manusia yang diberi akal.

Gus Dur pernah mengingatkan bahwa orang yang kuat bukanlah yang pandai memukul, melainkan yang mampu menahan marah. Sebab kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil menjatuhkan orang lain, tetapi ketika kita mampu mengendalikan diri sendiri.

Semoga peristiwa di Menteng ini menjadi pelajaran. Sebab sebuah kota tidak diukur dari sekeras suara knalpotnya, melainkan dari setenang warganya menyelesaikan persoalan.

Karena kalau setiap emosi dibalas dengan amarah, yang hancur bukan hanya gerobak nasi uduk, tetapi juga rasa aman, mata pencaharian, bahkan nyawa sesama anak bangsa.***