
MATARAM RADIO CITY
MATARAMRADIO.COM – Rifky Anwar bukan sekadar nama. Ia adalah kisah tentang mimpi yang tidak pernah berhenti mencari jalan pulang.
Perjalanannya dimulai dari sebuah ruang siaran radio. Dari balik mikrofon, ia belajar bahwa suara mampu mengubah cara orang memandang kehidupan.
Saat menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mataram pada 1998, Rifky bergabung sebagai penyiar RIPER 97.5 FM The Lovely Radio.

Di sanalah kecintaannya terhadap dunia penyiaran tumbuh semakin kuat. Bakatnya tak berhenti di studio.
Manajemen kemudian mempercayainya ikut membesarkan jaringan Riper FM Network melalui Rasesa FM di Sumbawa Besar.
Kepercayaan itu dijawab dengan kerja keras. Rasesa FM menjelma menjadi radio favorit masyarakat Sumbawa dan mengoleksi berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Anugerah KPID NTB Awards.
Penyiar Radio Pria Terbaik
Puncak perjalanan di dunia radio datang pada 2012. Rifky dinobatkan sebagai Penyiar Pria Terbaik dalam ajang Anugerah KPID NTB Awards, penghargaan paling prestisius bagi insan penyiaran Nusa Tenggara Barat saat itu.
Hampir 16 tahun ia menghirup denyut dunia radio. Dari ruang siaran hingga ruang manajemen, semua dijalani dengan penuh pengabdian.
Namun baginya, pengalaman harus memberi manfaat yang lebih luas. Ia memilih mengabdi sebagai regulator demi kemajuan penyiaran daerah.

Tahun 2014, Rifky dipercaya menjadi Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Nusa Tenggara Barat periode 2014–2018. Amanah itu menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya.
“Dunia radio adalah saya,” begitu kalimat yang selalu dipegangnya. Sosok pengagum Si Boy dalam film Catatan Si Boy itu tak pernah benar-benar meninggalkan dunia yang telah membesarkannya. Meskipun dia mengakui pernah juga melakoni pekerjaan sebagai sopir gojek untuk menambah penghasilan.

Meski demikian, kecintaannya pada ilmu hukum tetap terjaga. Sejak lama ia memendam cita-cita menjadi seorang notaris.
Di sela kesibukan sebagai komisioner KPID NTB, Rifky menuntaskan pendidikan Magister Kenotariatan di Fakultas Hukum Universitas Mataram.
Ia membuktikan bahwa mimpi hanya membutuhkan kesabaran untuk diwujudkan.
Usai mengakhiri masa tugas di KPID NTB pada 2018, Rifky langsung membuka lembaran baru. Ia memulai karier sebagai notaris di Sumbawa Besar.
Kepercayaan masyarakat datang silih berganti. Dalam tiga tahun pertama, cukup banyak akta berhasil ditandatanganinya sejak diangkat sebagai notaris.
Pengabdiannya bertambah ketika dipercaya sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Kabupaten Sumbawa. Jabatan itu melengkapi dedikasinya di bidang hukum pertanahan.
Selama menjadi PPAT, Rifky telah menghasilkan banyak pula akta. Sebagian besar kliennya berasal dari sektor perbankan yang mempercayakan berbagai proses hukum kepadanya.
Pria kelahiran Jakarta, 10 Mei 1980, itu tidak berhenti belajar. Keberhasilan sebagai notaris justru menjadi bahan bakar untuk melangkah lebih jauh.
Ia kembali ke almamaternya. Kali ini, Rifky menempuh pendidikan doktor di Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Politik Universitas Mataram (FHISIP Unram).
Ujian Disertasi Terbuka
Perjalanan panjang itu segera mencapai puncaknya. Pada Rabu, 29 Juli 2026, ia dijadwalkan menjalani ujian terbuka disertasi.
Disertasinya berjudul Rekonstruksi Konsep Akta Kuasa Menjual yang Memberikan Perlindungan Hukum Bagi Para Pihak Dalam Peralihan Hak Atas Tanah. Sebuah kajian yang lahir dari pengalaman panjang di dunia kenotariatan.
Tidak kurang dari sembilan orang majelis penguji akan mengujinya. Sidang tersebut dipimpin Dekan FHISIP Unram, Dr. Lalu Wira Pria Suhartana, SH., MH.
Rifky mengaku siap lahir dan batin. Gelar doktor bukan sekadar capaian akademik, melainkan impian yang telah dirawat sejak lama.
Capaian gelar doktor ini ia dedikasikan untuk isteri tersayang dan dua putra tercinta Boy Gibran dan Given Mikail.
Perjalanan itu membuktikan satu hal. Mikrofon, ruang sidang, meja notaris, hingga ruang doktoral hanyalah panggung berbeda bagi orang yang tidak pernah berhenti belajar.
Di setiap fase hidupnya, Rifky Anwar selalu memilih , bertumbuh. Dari penyiar, regulator, notaris, sopir gojek hingga calon doktor, ia menulis takdirnya sendiri dengan ketekunan yang tak pernah padam.
Selamat dan sukses Babe Boy.***
















































































































































