Catatan Wiedmust 28 Ramadhan
Siang di kawasan pabrik Cikarang terasa berat. Matahari memantul dari atap seng dan aspal jalan, membuat udara seperti ikut terbakar.
Di sela waktu istirahat, Urip hanya duduk di pinggir trotoar dekat gerbang pabrik, memandangi kendaraan yang lalu lalang. Sesekali ia menghela napas panjang. Bukan hanya karena lelah bekerja, tapi karena sesuatu yang jauh lebih berat dari sekadar penat.
Lebaran tinggal beberapa hari lagi.


Di mana-mana orang mulai bicara soal pulang kampung. Tiket kereta habis, bus penuh, jalanan sebentar lagi akan dipadati motor yang membawa rindu orang-orang kepada keluarganya.
Beberapa hari lalu Samino, teman satu desa dari Pracimantoro, datang menemuinya di kos kecil mereka.
“Rip, tahun ini kita mudik bareng lagi ya. Berangkat malam seperti biasa. Gantian nyetir biar nggak ngantuk.”
Urip hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak benar-benar sampai ke matanya.
Ia menunduk sebentar, lalu berkata pelan.
“Sam… kayaknya aku nggak mudik tahun ini.”
Samino terdiam.
Selama lima tahun merantau, mereka selalu pulang bersama dengan satu motor tua. Perjalanan panjang melewati Pantura, dingin malam, kantuk yang datang di tengah jalan semuanya terasa ringan karena mereka saling menemani.
“Kenapa, Rip?” tanya Samino pelan.
Urip menatap jalan sebentar sebelum menjawab.
“Kamu tahu kan… tabunganku habis buat operasi emak tiga bulan lalu.”
Kalimat itu terasa seperti jatuh pelan di antara mereka.
Emak Urip didiagnosis kanker payudara. Operasinya memang ditanggung BPJS karena keluarga mereka termasuk keluarga pra-sejahtera. Tapi hidup orang kecil tak pernah berhenti pada satu biaya saja.
Untuk pergi ke rumah sakit kabupaten, mereka harus menyewa mobil Lik Gino yang masih kerabat. Ongkosnya tidak murah bagi orang desa. Belum lagi biaya makan selama menunggu operasi, bekal untuk Lik Sri yang setia menemani emak dari mulai pemeriksaan sampai kontrol setelah operasi.
Sedikit demi sedikit tabungan Urip yang ia kumpulkan dari kerja shift malam di pabrik pun habis.
Sekarang yang tersisa hanya cukup untuk makan dan bertahan sampai gajian berikutnya.
Di desa, emak tinggal sendirian di rumah sederhana yang menghadap sawah. Kadang tetangga datang menengok. Kadang rumah itu sepi sepanjang hari.
Urip sering membayangkan ibunya duduk di kursi kayu di depan rumah saat sore. Menatap jalan kecil di ujung desa. Jalan yang setiap tahun ramai oleh anak-anak rantau yang pulang membawa rindu.
Barangkali emak juga menunggu langkah kaki anaknya.
Samino menarik napas panjang.
Kondisinya sebenarnya tak jauh berbeda. Ibunya juga tinggal sendiri di desa. Meski masih sehat dan kadang membantu tetangga “matun” membersihkan rumput di sawah untuk upah harian, tetap saja setiap malam ia sering berkata di telepon, “Le… kapan pulang?”
Mereka berdua adalah potret banyak pemuda desa hari ini.
Pergi jauh ke kota karena kampung tak lagi memberi pekerjaan. Menjadi buruh pabrik, kuli bangunan, sopir, pekerja apa saja yang penting bisa mengirim uang ke rumah.
Mereka membantu menggerakkan kota, menyalakan mesin-mesin pabrik, membangun gedung-gedung tinggi.
Tapi ironisnya, sering kali mereka bahkan tidak mampu membeli perjalanan pulang untuk memeluk ibunya sendiri.
Malam itu di kamar kos yang sempit, Urip menatap ponselnya lama.
Ia membuka pesan untuk ibunya.
Lama sekali ia tidak menulis apa-apa.
Akhirnya dengan jari yang terasa berat ia mengetik:
“Mak… tahun ini Urip belum bisa pulang. Maaf ya, Mak.”
Pesan itu terasa seperti menekan dadanya.
Beberapa menit kemudian balasan datang.
“Tidak apa-apa, Le. Yang penting kamu sehat. Emak di sini baik-baik saja.”
Kalimat itu pendek. Tapi Urip tahu ibunya pasti menulisnya sambil menahan rindu.
Di luar sana orang-orang sedang menghitung hari menuju Lebaran.
Jalanan akan penuh oleh kendaraan yang membawa anak-anak pulang kepada ibunya.
Namun di sebuah kamar kos kecil di Cikarang, seorang anak hanya bisa memandangi layar ponselnya dengan mata yang basah.
Karena bagi sebagian orang, Lebaran bukan tentang baju baru atau kue di meja.
Lebaran adalah tentang pulang.
Dan bagi orang-orang seperti Urip…
pulang kadang harus ditunda,
demi seorang ibu yang ingin ia jaga agar tetap hidup lebih lama.***





















































































































































