Catatan Wiedmust 18 Ramadhan
Ramadhan memang bulan menahan diri.
Menahan lapar, menahan haus, menahan amarah.
Sayangnya, yang paling sulit ditahan di negeri ini justru keinginan mengatur orang lain.
Sebuah video dari Kota Juang, Kabupaten Bireuen, Aceh viral di linimasa. Seorang warga menegur pemilik toko peralatan listrik yang masih buka saat salat tarawih berlangsung.


Pemilik toko warga keturunan Tionghoa tidak membantah. Ia hanya berkata sopan bahwa masih ada transaksi pembeli dan akan segera menutup toko.
Tidak ada keributan.
Tidak ada adu mulut.
Yang panas justru kolom komentar netizen.
Beberapa komentar yang beredar cukup menampar logika:
“Emangnya tarawih terganggu kalau toko listrik buka?”
“Yang nyuruh tutup kenapa nggak di masjid saja? Kok malah ronda usaha orang.”
“Kalau iman goyang gara-gara toko lampu, mungkin masalahnya bukan di tokonya.”
Netizen memang kadang lebih jujur daripada forum diskusi resmi.
Fenomena ini muncul di tengah wacana pemerintah Aceh yang ingin menghentikan aktivitas saat azan berkumandang. Gagasan itu pernah disampaikan Gubernur Muzakir Manaf dalam kultum Ramadhan di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Masalahnya sederhana:
aturan itu masih wacana.
Namun di lapangan, sebagian warga sudah bergerak lebih cepat.
Hukum belum disahkan.
Penegaknya sudah muncul duluan.
Pepatah baru Ramadhan mungkin begini:
“Belum ada palu hakim, tapi palu moral sudah diketok warga.”
Yang menarik justru satu hal kecil dalam video itu.
Orang yang paling tenang justru pemilik toko yang ditegur.
Ia tidak marah.
Tidak melawan.
Tidak membuat drama.
Ia hanya berkata, “Baik, sebentar lagi saya tutup.”
Kadang-kadang dalam kehidupan sosial kita, yang paling santun justru orang yang sedang disuruh-suruh.
Sementara yang menyuruh terlihat sangat sibuk menjaga moral publik meskipun belum tentu sedang ikut salat.
Agama sebenarnya sederhana:
perbaiki diri sebelum mengoreksi orang lain.
Namun setiap Ramadhan selalu muncul profesi baru di masyarakat:
- polisi iman
- satgas akhlak
- patroli moral warga
Semua tanpa SK.
Semua tanpa pelantikan.
Seolah pahala bisa bertambah dengan menutup rolling door toko tetangga.
Padahal orang yang benar-benar khusyuk tarawih biasanya tidak sempat melakukan inspeksi toko listrik.
Pepatah lama mengatakan:
air susu dibalas air tuba.
Versi Ramadhan tahun ini tampaknya sedikit berbeda:
orang tarawih di masjid, yang ditutup justru toko tetangga.***





















































































































































