
MATARAM RADIO CITY
MATARAMRADIO.COM – Tokoh senior Nusa Tenggara Barat , Ali Bin Dahlan mengkritisi pernyataan Menteri Luar Negeri RI yang mengecam langkah Yaman terkait penutupan jalur menuju Laut Merah.
Menurut mantan Bupati Lombok Timur dua periode ini, pemerintah Indonesia semestinya melihat persoalan tersebut secara utuh.
Ali BD menilai pernyataan Menlu RI terlalu menitikberatkan pada aspek hukum internasional. Ia menilai akar konflik yang melatarbelakangi kebijakan Yaman dan Iran justru luput dari perhatian.

“Menlu RI mengecam tindakan Yaman yang akan menutup Selat Bab el-Mandeb menuju Laut Merah. Menteri juga membawa-bawa hukum internasional dan UNCLOS sebagai dasar pandangannya,” tulis Ali dalam status terbaru di akun medsosnya, Sabtu (25/7).
Menurut Ali, pernyataan tersebut mencerminkan sikap resmi Pemerintah Indonesia. Namun, ia mempertanyakan mengapa pemerintah tidak lebih dahulu menyoroti penyebab munculnya kebijakan penutupan jalur pelayaran tersebut.
“Menteri itu lupa mengapa selat itu ditutup. Selat itu ditutup karena Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, Yaman, dan terus melakukan serangan ke Gaza,” ujarnya.
Ali juga menyinggung besarnya korban sipil akibat konflik di Gaza. Menurutnya, tragedi kemanusiaan itu seharusnya menjadi perhatian utama dalam menyikapi eskalasi di kawasan Timur Tengah.
“Israel dan Amerika menyerang Gaza hingga puluhan ribu warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, menjadi korban. Itu yang semestinya lebih dulu menjadi perhatian,” katanya.
Ia kemudian membandingkan situasi tersebut dengan posisi Indonesia. Menurut Ali BD, setiap negara memiliki hak mempertahankan wilayah strategisnya apabila menghadapi ancaman perang.
“Indonesia juga pasti akan berupaya menutup jalur strategis seperti Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Torres, maupun Laut Arafura apabila terjadi perang. Itu adalah bagian dari kepentingan mempertahankan negara,” ujarnya.
Ali juga menyindir kesiapan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia. Ia menilai kemampuan Indonesia untuk menutup jalur-jalur strategis masih perlu dipertanyakan.
“Bahkan Indonesia belum tentu mampu menutup selat-selat tersebut. Kekuatan pertahanan kita masih memiliki banyak keterbatasan,” ucapnya.
Di akhir pernyataannya, Ali melontarkan kritik keras kepada Menteri Luar Negeri RI. Ia menilai respons pemerintah terhadap konflik Timur Tengah terlambat dan tidak menyentuh substansi persoalan.
“Saya kira Menteri Luar Negeri itu baru saja terbangun dari tidurnya karena terlalu sibuk mengurus hal lain. Yang lebih penting adalah memahami akar konflik sebelum mengeluarkan pernyataan,” tegas Ali.***
















































































































































