Nizar Qabbani: Sang Penyair Cinta dari Damaskus

MATARAM RADIO CITY

MATARAMRADIO.COM – Nizar Qabbani adalah seorang penyair, diplomat, penulis, dan penerbit asal Suriah yang dikenal sebagai salah satu tokoh terbesar dalam kesusastraan Arab modern.

Ia lahir di Damaskus, Suriah, dari keluarga pedagang kelas menengah dan tumbuh di kawasan Mi’thnah Al-Shahm, salah satu lingkungan di Kota Tua Damaskus. Kota kelahirannya tersebut kemudian menjadi bagian penting dari imajinasi dan identitas kepenyairannya.

Sejak usia muda, Qabbani telah menunjukkan ketertarikannya pada dunia sastra. Ia menempuh pendidikan di National Scientific College School di Damaskus pada 1930–1941. Sekolah tersebut dimiliki dan dikelola oleh Ahmad Munif al-Aidi, seorang sahabat ayahnya. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah, Qabbani melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Damaskus, yang pada masa itu dikenal sebagai Universitas Suriah. Ia memperoleh gelar sarjana hukum pada 1945.

Namun, hukum bukanlah satu-satunya dunia yang menarik perhatian Qabbani. Sejak masih menjadi mahasiswa, ia telah menulis puisi dan menerbitkan kumpulan puisi pertamanya yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai The Brunette Told Me (Qalat li al-Samra).

Karya awal tersebut menampilkan keberanian yang cukup mengejutkan bagi masyarakat Damaskus yang konservatif pada masa itu karena Qabbani berbicara secara terbuka mengenai cinta, tubuh perempuan, dan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Kumpulan puisi itu menjadi awal dari perjalanan panjangnya sebagai penyair yang berani menembus batas-batas sosial dan sastra.

Dari Diplomat Menjadi Penyair Dunia

Setelah menyelesaikan pendidikan hukumnya, Nizar Qabbani bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Suriah. Karier diplomatik membawanya ke berbagai kota dan negara, termasuk Beirut, Kairo, Istanbul, Madrid, London, dan kemudian Beijing. Meskipun menjalani kehidupan sebagai diplomat, kecintaannya terhadap puisi tidak pernah berhenti. Pengalaman hidup di berbagai negeri justru memperkaya pandangan, bahasa, dan tema dalam karya-karyanya.

BACA JUGA:  Bob Marley: Rastafari, Revolusi, dan Warisan Cinta

Pada 1959, setelah terbentuknya Republik Arab Bersatu antara Suriah dan Mesir, Qabbani ditugaskan dalam hubungan diplomatik di Tiongkok. Masa tinggalnya di Tiongkok turut menginspirasi sejumlah puisinya. Setelah lebih dari dua dekade berada dalam dunia diplomasi, ia akhirnya mengundurkan diri pada 1966.

Setelah itu, ia semakin mencurahkan hidupnya pada sastra dan mendirikan penerbitan di Beirut dengan namanya sendiri.

Nizar Qabbani kemudian dikenal luas sebagai penyair cinta. Bahasa puisinya terkenal sederhana, lembut, romantis, tetapi sekaligus berani. Ia mampu mengubah pengalaman sehari-hari—cinta, kerinduan, perpisahan, kesepian, dan kenangan—menjadi ungkapan puitis yang mudah dirasakan banyak orang.

Akan tetapi, menyebut Qabbani hanya sebagai penyair romantis tidaklah cukup. Dalam banyak karyanya, ia juga berbicara mengenai perempuan, kebebasan, masyarakat, politik, nasionalisme Arab, dan ketidakadilan. Ia memberikan ruang yang besar bagi pengalaman perempuan dalam sastra Arab dan karena itu sering dijuluki sebagai “penyair perempuan” atau poet of women. Karya-karyanya turut memunculkan perdebatan mengenai kedudukan perempuan dan norma sosial dalam masyarakat Arab.

Di antara karya-karyanya yang terkenal adalah Childhood of a Breast (1948), You Are Mine (1950), Poems (1956), My Beloved (1961), Drawing with Words (1966), Book of Love (1970), dan sejumlah kumpulan puisi lainnya. Selama lebih dari setengah abad berkarya, Qabbani menghasilkan puluhan buku puisi dan menjadi salah satu penyair Arab modern yang paling banyak dibaca.

BACA JUGA:  Perjalanan Hidup Charles Darwin

Cinta, Kehilangan, dan Luka Kehidupan

Kehidupan pribadi Qabbani juga diwarnai oleh pengalaman kehilangan yang mendalam. Salah satu tragedi terbesar dalam hidupnya adalah kematian istrinya, Balqis al-Rawi, yang meninggal dalam ledakan di Beirut pada 1982. Peristiwa tersebut meninggalkan luka yang sangat dalam bagi Qabbani dan kemudian dituangkannya dalam puisi berjudul “Balqis”.

Pengalaman kehilangan, kesepian, dan kehidupan di tengah pergolakan dunia Arab semakin membuat puisinya berkembang dari sekadar puisi cinta menjadi refleksi mengenai kehidupan, kematian, tanah air, dan kondisi masyarakat.

Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, Qabbani tinggal di London. Meskipun hidup jauh dari tanah kelahirannya, Damaskus tetap memiliki tempat yang sangat istimewa di dalam hatinya. Ia terus menulis dan menerbitkan karya hingga akhir hidupnya.

Nizar Qabbani meninggal dunia di London pada 30 April 1998 pada usia 75 tahun. Meskipun meninggal di Inggris, ia dimakamkan di Damaskus, kota yang menjadi tempat kelahirannya sekaligus sumber inspirasi sepanjang hidupnya. Oxford Bibliographies mencatat bahwa Qabbani tetap menjadi salah satu figur sastra Arab paling berpengaruh dan salah satu penulis yang memicu perdebatan serta perubahan dalam masyarakat Arab.

Warisan Qabbani tidak berhenti pada buku-buku puisinya. Banyak puisinya kemudian dinyanyikan oleh penyanyi dari berbagai negara Arab sehingga kata-katanya semakin dikenal oleh masyarakat luas. Gaya bahasanya yang sederhana tetapi penuh perasaan membuat puisinya dapat menjangkau pembaca dari berbagai generasi.

Nama Nizar Qabbani hingga kini sering dikaitkan dengan ungkapan-ungkapan mengenai cinta, kerinduan, kesunyian, dan perasaan manusia yang sulit diucapkan. Salah satu ungkapan yang banyak beredar dalam bahasa Indonesia adalah:

BACA JUGA:  Martin Luther King Jr.: Sang Pahlawan Tanpa Kekerasan dalam Perjuangan Keadilan

“Tidak semua yang ada di hati dapat diungkapkan. Maka Tuhan menciptakan air mata, tidur panjang, senyum, dan tangan yang gemetar.”


Ungkapan tersebut menggambarkan salah satu kekuatan yang sering diasosiasikan dengan gaya Qabbani: kemampuan melihat bahwa perasaan manusia tidak selalu dapat dijelaskan melalui kata-kata. Ada kesedihan yang hanya dapat diterjemahkan melalui air mata, kerinduan yang hadir dalam mimpi, kebahagiaan yang tampak melalui senyuman, dan kegugupan yang terlihat dari tangan yang gemetar.

Meski demikian, untuk penulisan biografi yang bersifat akademis atau publikasi resmi, atribusi kutipan tersebut kepada Qabbani sebaiknya diberi catatan atau diverifikasi dari karya Arab aslinya, karena kutipan-kutipan Qabbani yang beredar di media sosial sering kali diterjemahkan, dipendekkan, atau dicantumkan tanpa sumber karya yang jelas.

Nizar Qabbani bukan sekadar seorang penyair yang menulis tentang cinta. Ia adalah seorang penyair yang menjadikan cinta sebagai bahasa untuk memahami manusia. Melalui puisinya, ia berbicara tentang kebahagiaan dan kehilangan, keberanian dan ketakutan, perempuan dan kebebasan, tanah air dan pengasingan.

Ia tumbuh di gang-gang tua Damaskus, belajar hukum, menjalani kehidupan sebagai diplomat, kemudian memilih puisi sebagai jalan hidupnya. Dari Damaskus hingga berbagai kota dunia, pengalaman hidup tersebut membentuk seorang penyair yang mampu mengubah perasaan pribadi menjadi bahasa yang dipahami jutaan orang.

Lebih dari dua puluh tahun setelah kepergiannya, nama Nizar Qabbani masih hidup melalui puisi-puisinya. Barangkali itulah salah satu bentuk keabadian seorang penyair: tubuhnya boleh pergi, tetapi kata-katanya tetap tinggal di hati orang-orang yang membacanya.***