Polong Renten, Falsafah Hidup Warga Lombok Utara

Entah kapan istilah Polong Renten atau Mempolong Merenten mulai digunakan Warga Lombok Utara untuk ungkapan ikatan persaudaraan.  Namun, Budayawan sekaligus Tokoh Masyarakat Lombok  Utara,  Datu Artadi menyatakan kata Polong dan Renten merupakan bahasa asli warga Lombok Utara walau penggunaannya dibedakan atas dasar kewilayahan.

Untuk kata Polong yang merujuk arti saudara/keluarga biasa digunakan oleh warga di sekitar Kecamatan Pemenang.  Sedang untuk kata Renten yang bermakna saudara biasanya digunakan oleh warga dari Kecamatan Tanjung hingga Kecamatan Bayan dan Kecamatan Sembalun. “Polong Renten sudah melekat di jiwa masyarakat Lombok Utara dan menjadi filsafat hidup yang mengakar,” katanya.

Nengah Karuna, Tokoh Hindu Lombok Utara /foto: Dedi Suhadi

Tokoh agama Hindu, Nengah Karuna menyatakan walau mungkin istilah Polong Renten atau Mempolong Merenten belum begitu dikenal, namun hidup kekerabatan penuh persaudaraan bisa dilihat sejak masa  I Gusti Made Subagan yang dipercaya menjadi wakil raja Bali di Pemenang. 

Diceritakan, usai memenangkan sebuah peperangan, pasukan dari Lombok Utara dengan latar belakang keyakinan berbeda mendapat hadiah atau wakaf berupa tanah yang kemudian  dibangun tempat ibadah. “Oleh raja atau penguasa, mereka selalu diingatkan bahwa mereka adalah bersaudara dan harus  saling membantu,” katanya.

Bukti betapa kentalnya persaudaraan antar umat beragama di  Kecamatan Pemenang, jelas Nengah dapat dilihat saat pembangunan masjid Dusun Karang Pangsor Desa Pemenang Barat yang merupakan masjid tertua di Kecamatan Pemenang dan dibangun pada masa kekuasaan kerajaan.

Saat itu umat Hindu membantu membuat ukiran untuk pintu masjid atau hiasan dinding. Sedang umat Budha khususnya warga Dusun Tebango, membantu mengangkut material berupa batu atau bata.

“Warga Tebango (Jeliman Ireng)  yang kebetulan beragama Budha dikenal memiliki kekuatan lebih, mereka ikut membantu mengangkut batu untuk pembangunan masjid Karang Pangsor,” katanya.

Masjid Jamiul Jamaah di Dusun Karang Pangsor Pemenang menjadi bukti sejarah kuatnya ikatan persaudaraan Ummat Islam Hindu dan Budha di Kabupaten Lombok Utara. I Foto: Dedi Suhadi

Bahkan gotong royong dalam pembangunan tempat ibadah  hingga kini masih tetap terawat. Ini dapat dibuktikan saat rehab masjid Karang Pangsor setelah gempa melanda Lombok pada 2018.  

Untuk pembangunan masjid yang kini diberi nama Jami’ul Jamaah, ketiga tokoh agama hadir dalam penentuan titik ukur disamping warga yang beragama Hindu dan Budha turut andil dalam pembangunan fisik. “Ketika akan dilakukan rehab masjid, kami memberitahu saudara kami yang beragama Hindu dan Budha sehingga saat renovasi masjid Karang Pangsor, semua terlibat,” kata Takmir Masjid Jami’ul Jamaah Karang Pangsor, Taufik.

Begitu pula ketika umat Hindu atau Budha merayakan hari besar keagamaan, warga Pemenang yang beragama Islam sudah tahu apa yang harus dilakukan. “Biasanya, kami menjaga keamanan ketika umat Hindu atau Budha sedang beribadah,” katanya.

Bukti sejarah lain tentang kekerabatan persaudaraan warga Pemenang, jelas Nengah Karuna yakni adanya sebuah bukit yang digunakan untuk pemakaman bersama umat Hindu, Budha dan Islam. Kini bukit pemakamam itu masuk wilayah Dusun Sumur Mual Desa Pemenang Barat kecamatan Pemenang kabupaten Lombok Utara.“Di posisi paling bawah digunakan untuk pemakaman Umat Hindu, agak naik untuk pemakaman Umat Budha dan yang  paling tinggi digunakan untuk pemakaman Umat Islam,” jelas Nengah Karuna.

Pendapat Nengah Karuna soal kekuasaan Bali di Lombok (Sasak) yang merekatkan persaudaraan umat Islam, Hindu dan Budha di perkuat Filolog Dr Sugi Lanus.

Romo Metawadi, Ketua Majelis Budhayana Indonesia (MBI) NTB I foto: Dedi Suhadi

Menurutnya, kemungkinan kekerabatan masyarakat Sasak dan Bali dimulai saat pemerintahan Dalem Samprangan dan Dalem Gelgel, raja Bali yang dilantik Majapahit.

Secara administratif, kata Sugi saat itu Sasak (Lombok) tunduk secara damai kepada kekuasaan Majapahit di bawah pengawasan kerajaan di Bali. “Kondisi demikian bisa menjadi perekat kekerabatan antara masyarakat Bali dan Sasak yang ada di Lombok,” jelasnya. 


Pendapat Sugi Lanus sejalan dengan catatan Puri Pemecutan, Bali.  Dalam Pemecutan.blogspot.com disebutkan setelah wafatnya Dalem Ketut Kresna Kepakisan, kedudukan raja Bedahulu dibawah kekuasaan Majapahit digantikan oleh Dalem Sri Agra Samprangan pada 1373 M atau 1295 Saka.   

Dari rekatnya kekerabatan itu, walau belum pasti kapan  Polong Renten atau Mempolong Merenten berkembang, namun konsep hidup persaudaraan masyarakat Dayan Gunung lebih dari sekedar persaudaraan. “Konsep hidup Polong Renten atau Mempolong  Merenten jauh melebihi ajaran toleransi yang kini digaungkan pemerintah,” ucap Ketua Majelis Budhayana Indonesia (MBI) NTB, Romo Metawadi.

Romo Metawadi tak menampik, dalam ajaran agama Budha ada kehidupan toleransi umat beragama tapi yang dipraktekkan masyarakat Dayan Gunung lebih dari itu. “Polong Renten lebih dari toleransi. Ia hidup dari kesadaran yang lebih tinggi, persaudaraan sesama manusia,” tuturnya.

TGH Lalu Muchsin Effendi, Pimpinan Pondok Pesantren Manabi’ul Hikmah Pemenang I Foto: Dedi Suhadi

Dalam soal toleransi, jelas Pimpinan Pondok Pesantren Manabi’ul Hikmah Pemenang, TGH Lalu Muchsin Effendi Islam sangat mendukung selagi berhubungan dengan manusia. Namun, ketika memasuki ranah Ketuhanan Islam memberikan garis yang jelas, sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Kafirun, … Bagi kamu agamamu, Bagi Aku agamaku.  “Dalam hubungan sesama manusia, Islam sangat toleran. Kita bisa saling menghargai dan hidup rukun,” katanya.

Nengah Karuna, tokoh agama Hindu menegaskan dalam ajaran Hindu ada yang disebut Trihitakarana yakni konsep hidup yang mengatur hubungan antara manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Penekanan hidup manusia dengan manusia dalam agama Hindu disebut Wasudeva Kutumbakan, kita ini bersaudara. “Konsep inilah yang ditekankan hingga Umat Hindu di Lombok Utara menganggap umat agama lain sebagai saudaranya,” katanya.

Walau ajaran agama menekankan untuk hidup berdampingan dengan umat lain, namun ketiga tokoh yakni TGH Muchsin Efendi, Nengah Karuna dan Romo Metawadi sepakat Polong Renten atau Mempolong Merenten yang menjadi filsafat hidup masyarakat Dayan Gunung merupakan persaudaraan yang diikat oleh ‘Hati’ atau rasa yang lebih dalam.  “Persaudaraan masyarakat Dayan Gunung (Polong Renten atau Mempolong Merenten) diikat oleh emosional juga spiritualitas. Nilai itu membuat masyarakat Dayan Gunung memiliki rasa persaudaraan lebih kuat  walau berbeda dalam keyakinan (agama),” ungkap mereka bertiga (bersambung)

Foto utama:Pemakaman Bersama Ummat Hindu Budha dan Islam di Dusun Sumur Mual Desa Pemenang Barat kecamatan Pemenang, Lombok Utara I foto: Dedi Suhadi

 *****Tulisan kedua dari 4 tulisan yang merupakan bagian dari program Workshop dan Story Grant Pers Mainstream yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) bekerja sama dengan Norwegian Embassy untuk Indonesia