Potret Nilai Tukar Petani NTB 2019-2020

Pembangunan pertanian dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur kesejahteraan petani adalah Nilai Tukar Petani (NTP).

Dengan demikian, NTP merupakan salah satu indikator relatif tingkat kesejahteraan petani (Rahmat Muchjidin, 2013). NTP dihitung dari rasio (nisbah) harga antara harga yang diterima petani dan harga yang dibayar petani. Sehingga NTP menunjukkan peningkatan kemampuan riil petani dan mengindikasikan peningkatan kesejahteraan petani. Disisi lain, semakin tinggi NTP, relatif semakin sejahtera tingkat kehidupan petani (Tambunan, 2003; BPS, 2013). Demikian sebaliknya. Menurut BPS (2013) bahwa NTP mengukur kemampuan nilai tukar produk (komoditas) yang dihasilkan/dijual petani terhadap barang/jasa yang dikonsumsi dan biaya produksi yang dikeluarkan petani.           

BACA JUGA:  PPKM Darurat dan Jalan Ekonomi

Menurut BPS (2013) bahwa NTP meliputi 3 kategori. Pertama, NTP lebih dari 100 (NTP>100), berarti petani mengalami surplus. Harga produksi petani naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsi dan biaya produksi. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya. Dengan demikian, tingkat kesejahteraan petani lebih baik dibandingkan tingkat kesejahetraan petani sebelumnya. Kedua, NTP sama dengan 100 (NTP=100), berarti petani mengalami impas (break even). Kenaikan/penurunan harga produksi sama dengan persentase kenaikan/penurunan harga konsumsi dan biaya produksi.

Tingkat kesejahteraan petani tidak mengalami perubahan. Ketiga, NTP lebih kecil dari 100 (NTP<100), berarti petani mengalami defisit. Harga produksi petani naik lebih kecil dari kenaikan harga konsumsi dan biaya produksi. Tingkat kesejahteraan petani mengalami penurunan dibandingkan tingkat kesejahteraan petani sebelumnya.         Bagaimana kondisi Nilai Tukar Petani (NTP) di NTB 2019-2020?.

BACA JUGA:  Bola Liar Seleksi KPID NTB

Dalam editorial kali ini ditampilkan mengenai NTP NTB 2019-2020 berdasarkan data Statistik Indonesia (2021) yang dipublikasikan BPS (2021). NTP yang dimaksud yakni NTP Subsektor tanaman pangan. Pada tahun 2019, NTP Subsektor tanaman pangan di NTB berada pada peringkat 1 nasional dengan NTP sebesar 118,32 kemudian Lampung berada pada peringkat 2 dengan NTP sebesar 115,39 dan Jawa Timur dengan NTP sebesar 111,99 berada pada peringkat 3.  Pada tahun 2020, NTP Subsektor tanaman pangan di NTB masih tetap bertengger pada peringkat 1 nasional dengan NTP sebesar 108,59 dan Papua Barat berada pada peringkat 2 dengan NTP sebesar 104,83 kemudian Sulawesi Utara dengan NTP sebesar 104,82 berada pada peringkat 3. Dalam pada itu, NTP rata-rata nasional pada tahun 2019 mencapai 105,78 dan sebesar 101,43 pada tahun 2020.    (Tim Weekend Editorial)