Ampenan Dalam Pusaran Sejarah

Pada tahun 1741, di Lombok berkuasa seorang raja yang bernama I Gusti Wayan Taga yang bertempat tinggal di Tanjung Karang. Wayan Taga berstatus sebagai wakil kerajaan Karang Asem Bali di Lombok, yang mana Lombok pada tahun tersebut adalah vasal dari Karang Asem Bali.

Pada tahun inilah Pelabuhan Tanjung Karang dan Ampenan mulai dibangun oleh Wayan Taga. Disebutkan pula, pada tahun itu, Wayan Taga telah melakukan penjagaan di pelabuhan-pelabuhan dan menarik pajak kepada setiap keluarga sebesar 1000 kepeng (peces) dan 40 ikat (cekel) padi di dalam setahun.

Oleh : Gegen Redrebels

Menyadari besarnya potensi kekayaan yang dihasilkan oleh pulau Lombok,Wayan Taga berusaha membuka hubungan dagang dengan beberapa wilayah di nusantara. Pada bulan Agustus 1741,Wayan Taga mengirim surat kepada Gubernur Belanda di Makasar yang bernama Hendrik Smout, isinya Wayan Taga menyampaikan permintaan untuk mengadakan hubungan dagang dan menyatakan bahwa daerahnya banyak menghasilkan beras dan telur itik.

Dikarenakan surat yang dikrim tidak mendapatkan respon dari Hendrik Smout, Wayan Taga mulai mendekati pedagang -pedagang yang berasal dari Inggris. Pada 1760, pedagang Inggris mulai meramaikan Tanjung Karang, kapal Inggris yang banyak mengangkut rempah dari Maluku, menyempatkan diri untuk singgah di Tanjung Karang.

Pelabuhan Ampenan tempo dulu / foto: Lombok heritage and Science Society

Pada bulan Juli 1775, I Gusti Wayan Taga meninggal. Kematian Wayan Taga menimbulkan perpecahan di kalangan para elite Bali di Lombok. Sedikitnya ada empat kekuatan Bali yang eksis pada masa-masa setelah kematian Wayan Taga, empat kekuatan itu adalah Pagesangan, Pagutan, Karang Asem Sasak dan Mataram. Diantara empat kekuatan itu, Karang Asem Sasak (Singasari Sasak) dan Mataram, adalah dua kekuatan utama yang paling menonjol.

Melanjutkan usaha perdagangan yang telah dirintis Wayan Taga, dua kerajaan utama ini mulai berbagi pelabuhan, Karang Asem Sasak menggunakan Tanjung Karang, dan Mataram menggunakan Ampenan. Dua pelabuhan ini semakin ramai dan menjadi pelabuhan utama yang ada di Lombok.

Pada 1832, seorang Inggris bernama GP King tinggal di Lombok dan membuka hubungan dagang dengan raja Karang Asem Sasak, namun oleh raja, GP King di tolak. Pada 1835, GP King datang lagi dan meminta perlindungan pada raja Mataram. Oleh raja Mataram, GP King diterima dan diwajibkan membayar 2000 gulden pertahun. GP King memilih bertempat tinggal di Ampenan. Di Ampenan, GP King membuka hubungan dagang dengan perusahaan Jardine Matheson & Co yang berpusat di Canton. Setahun sebelumnya, pada 1834, seorang Denmark bernama Mads Lange, telah menjalankan usaha yang sama dengan yang dilakukan GP King, namun Mads Lange memilih bekerjasa sama dengan Raja Karang Asem Sasak dan bertempat tinggal di Tanjung Karang.

Persaingan antara Karang Asem Sasak dengan Mataram diikuti pula dengan persaingan dagang antara GP King dengan Mads Lange. Puncaknya adalah pada Januari 1838,meletus perang antara Karang Asem Sasak dengan Mataram, Mads Lange membantu pihak Karang Asem Sasak, sementara GP King memihak Mataram. Dengan kapal yang dimiliki, GP King membantu mengangkut pasukan bantuan untuk Mataram yang didatangkan dari Bali, tercatat, 10 ribuan orang berhasil didaratkan. Saat itulah, Mads Lange berusaha menghalangi usaha yang dilakukan oleh GP King tersebut, kapal kapal milik Mads Lange, menembaki dan menghalangi kapal GP King. Saling tembak antara kapal Mads Lange dengan kapal GP King di pantai Ampenan, dapat disebut sebagai perang maritim pertama di pulau Lombok.

Sejarah mencatat, Mataram muncul sebagai pemenang pada perang yang berlangsung dari 1838 sampai dengan 1839 tersebut, dan sejak itu supremasi Mataram di pulau Lombok semakin kuat. Pelabuhan Ampenan pun demikian, sejak Mataram berkuasa penuh, Ampenan tumbuh menjadi pelabuhan yang ramai dan padat.

Pada 1840, GP King diangkat menjadi Subandar di Ampenan, dibawah kepemimpinan GP King, Ampenan tumbuh menjadi pelabuhan utama di pulau Lombok. Pada tahun inilah, Amepenan mencapai masa keemasanya. Dikarenakan lokasinya yang strategis, yang berada di tengah tengah jalur perdagangan yang panjang yaitu Australia-Singapure-Bengalen dan Australia-Manila-Cina, Ampenan benar benar telah menjelma menjadi Bandar Internasional. Pada Oktober 1841 sebanyak 25 kapal berbendera Inggris berlabuh di Ampenan.

Hasil hasil pertanian di Lombok yang berupa beras, kapas dan kacang hijau adalah komoditas utama yang dieksport melalui pelabuhan Ampenan, sedangkan barang import yang datang di Ampenan berupa besi, timah hitam, senjata, emas, uang kepeng, sutra, minuman keras, kain-kain dan candu.

Sebagai kota Bandar internasional pada masanya, Ampenan menjelma menjadi kota dengan penduduk yang mejemuk, berbagai suku dan bangsa hidup di kota ini, mulai dari suku Sasak, Bali, Bugis, Banjar, Melayu, Cina, Arab, bahkan pada masanya dulu, warga bangsa Eropa juga banyak menetap di kota ini. Bahkan, Subandar Ampenan berasal dari berbagai suku bangsa, mulai dari Eropa, Bali, Sasak dan Arab. Salah satu Subandar yang terkenal dan mempunyai banyak kisah adalah Syaid Abdullah.

Selain kisah perdaganganya yang ramai, Ampenan juga menyajikan cerita lain yang jarang orang ketahui, sebuah kisah tentang kedatangan Alfred Russel Wallace, kisah itu terjadi pada tahun 1856, Wallace oleh dunia dikenal sebagai seorang naturalis, penjelajah, geographer, antropolog dan ahli biologi.Penelitian-penelitian yang dilakukan Wallace, oleh Charles Darwin digunakan untuk menyususn teori Evolusi yang terkenal itu. Wallace juga tercatat sebagai pencetus garis Wallace, yaitu garis imajiner yg membentang dari selat Lombok ke utara. Wallace berada di Ampenan selama tiga bulan dan menginap di salah satu warga Inggris yang bernama Mr.Cater, sungguh sebuah kebanggaan tentunya seorang ilmuwan besar pernah singgah dan menginap di Ampenan.

Pada saat terjadi perang Lombok tahun 1891-1894,pelabuhan Ampenan juga menjadi saksi bisu tentang pendaratan pasukan Belanda. Peristiwa itu terjadi pada 5 Juli 1894, pasukan ini bertolak dari Batavia tanggal 30 Juni 1894 dengan kekuatan tujuh kapal perang, 12 kapal angkut, tiga battalion infantry, dan satu skuadron kavaleri.

Pasukan ekpedisi itu berjumlah 110 perwira, 2300 prajurit, 2000 narapidana dengan total kekuatan kurang lebih 4400 orang. Dan sejarah juga mencatat, sejak ekpedisi itulah, pada bulan November 1894, riwayat kerajaan Mataram berakhir di tangan Belanda.

Di bawah pemerintahan Hindia Belanda, pelabuhan Ampenan direnovasi dan diperbaiki. Renovasi dan pembangunan itu terjadi pada tahun 1926. Di tangan Belanda, Ampenan melanjutkan masa keemasanya. Aktivitas impor dan ekport masih berjalan di pelabuhan ini. Selain itu, pemberangkatan jamaah haji sering kali dilakukan melalui Ampenan.

Kini Ampenan, hanyalah sebuah kota tua yang diurus setengah hati, tembok tembok tua yang sudah mengelupas merupakan petanda bahwa kota ini tidak betul betul serius diurus, pembangunan Ampenan sebagai kota tua hanya sebatas pepesan kosong yang tidak jelas arah pembangunanya, harusnya membangun kembali sebuah peradaban kota, jangan sampai melupkan nilai historisnya.

Sekedar perbandingan, rumah singgah Wallace yang ada di Maluku, kini oleh Pemda setempat dijadikan destinasi wisata, nama besar Wallace adalah daya tarik dari konsep wisata ini, bagaimana dengan kita yang ada di Lombok? Ach, rasanya seperti mimpi di siang bolong mengharapkan semua itu menjadi kenyataan. Warisan yang nyata dari Ampenan hanyalah kondisi social dari masyarakatnya, kota dengan penduduk yang majemuk telah menjadikan Ampenan sebagai kota yang penuh dengan nilai (**)

Foto utama: Lombok Heritage & Science Society