Serangan Drone Israel Tewaskan Petinggi Hamas Hassan Farhat, 27 Warga Gaza Jadi Korban di Sekolah!

Serangan Israel di Lebanon tewaskan tokoh Hamas Hassan Farhat. Di Gaza, 27 warga sipil gugur di sekolah akibat serangan udara.

Aksi militer itu menandai eskalasi konflik lintas batas yang tak hanya menyasar pejuang, tetapi juga menelan korban jiwa dari kalangan sipil.

Menurut laporan jaringan berita Al Mayadeen, Farhat merupakan target utama dalam serangan tersebut. Dua orang lainnya turut kehilangan nyawa dalam serangan mematikan tersebut yang dilakukan dengan menggunakan drone. Serangan terjadi di tengah intensifikasi aksi militer Israel di wilayah Lebanon selatan, termasuk Naqoura dan Nabatieh.

Hassan Farhat: Penghubung Strategis Hamas di Luar Gaza


Farhat dikenal sebagai tokoh penting dalam tubuh Hamas, terutama dalam perannya sebagai penghubung eksternal gerakan tersebut dengan simpatisan dan aliansi di luar negeri. Meski tidak setenar pemimpin politik Hamas seperti Ismail Haniyeh atau Yahya Sinwar, Farhat dianggap memiliki posisi krusial di jaringan perlawanan Palestina di luar Jalur Gaza.

“Farhat menjadi target serangan Israel,” ungkap Al Mayadeen, menegaskan bahwa serangan itu bukanlah tindakan acak, melainkan operasi yang dirancang secara terencana oleh Tel Aviv.

BACA JUGA:  Presiden Putin Ucapkan Selamat Idul Adha ke Umat Muslim di Rusia

Dengan kematiannya, Hamas kehilangan salah satu sosok yang dianggap strategis dalam memperkuat eksistensi internasional mereka. Namun, harga yang dibayar atas serangan ini bukan hanya terbatas pada tokoh perlawanan – nyawa warga sipil pun kembali menjadi tumbal ambisi militer Israel.

Gaza Berdarah: 27 Tewas di Sekolah yang Jadi Tempat Pengungsian

Di saat yang hampir bersamaan dengan gugurnya Farhat di Lebanon, penderitaan mendalam terjadi di Gaza. Serangan udara Israel menghancurkan sebuah sekolah di lingkungan Tuffah, Kota Gaza, yang tengah digunakan sebagai tempat penampungan bagi keluarga-keluarga pengungsi Palestina.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sebanyak 27 warga sipil tewas dalam serangan tersebut. Mereka terdiri dari 14 anak-anak, 5 perempuan, dan sisanya pria dewasa yang menjadi korban runtuhan bangunan sekolah.

“Jasad 14 anak-anak dan lima wanita ditemukan di sekolah di lingkungan Tuffah, Kota Gaza, dan jumlah korban tewas dapat bertambah. Pasalnya, beberapa dari 70 orang yang terluka mengalami luka kritis,” kata Zaher al-Wahidi, juru bicara Kemenkes Palestina, kepada media.

BACA JUGA:  Mahasiswi Indonesia di India Rela Tunggu Seharian demi Bertemu Presiden Prabowo, Bahagia Bisa Berfoto Bersama

Serangan itu menyulut kemarahan publik internasional. Sebab, sekolah yang mestinya menjadi tempat aman, kini justru menjadi ladang pembantaian yang menewaskan keluarga-keluarga yang sudah kehilangan tempat tinggal akibat perang.

100 Lebih Korban Jiwa dalam Sehari: “Kemanusiaan Telah Mati”


Menurut berbagai laporan termasuk dari France 24 dan IRNA, total korban tewas akibat serangan Israel pada hari Kamis dan Jumat mencapai lebih dari 100 orang. Di Gaza sendiri, korban terus berjatuhan setiap jam, menyusul intensifikasi serangan dari udara yang diklaim Israel sebagai upaya menumpas Hamas.

Militer Israel dalam pernyataannya menyebut bahwa serangan ini adalah bagian dari strategi “untuk mengusir dan melumpuhkan Hamas secara total dari Gaza.” Namun realitanya, mayoritas korban yang jatuh adalah warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang tua.

Reaksi Dunia: Kecaman Mengalir Deras, PBB Serukan Investigasi


Aksi brutal Israel di Gaza dan Lebanon menuai gelombang kecaman internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam serangan yang menyasar fasilitas sipil seperti sekolah dan mendesak dilakukannya penyelidikan independen atas kemungkinan pelanggaran hukum internasional.

BACA JUGA:  Ini Seruan Liga Arab Untuk Palestina Merdeka

Potensi Perang Regional Kian Nyata


Selain Gaza, Lebanon kini juga terancam menjadi medan pertempuran berikutnya. Serangan ke wilayah Sidon yang menewaskan Hassan Farhat memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas. Apalagi, wilayah itu juga menjadi basis kelompok Hizbullah, yang selama ini dikenal memiliki hubungan dekat dengan Hamas dan Iran.

Sebagai langkah pencegahan, Pentagon dilaporkan mengirimkan dua kapal induk ke kawasan Timur Tengah, untuk menghadapi segala kemungkinan, termasuk potensi serangan balasan terhadap sekutu Israel.

Anak-anak Palestina: Korban Nyata dari Agresi Berkelanjutan


Laporan dari UNICEF dan Save the Children menyebutkan bahwa sejak konflik berkecamuk tahun lalu, lebih dari 1.500 anak Palestina tewas, ribuan terluka, dan ratusan lainnya menjadi yatim piatu. Situasi ini membentuk generasi yang tumbuh dalam trauma dan kehilangan, sementara dunia tampak pasif dalam menghentikan kekejaman tersebut.

Banyak pihak mendesak agar komunitas internasional mengambil langkah nyata, bukan sekadar pernyataan kecaman. Akses bantuan kemanusiaan ke Gaza harus dibuka tanpa syarat, dan gencatan senjata harus dijadikan prioritas utama. (editorMRC)