Saat ini banyak orang telah mulai berpola hidup modern, orang sudah terlihat individualis, sosialisasi langsung dan alami berkurang karena pengaruh gadget yang akhirnya pelupakan “budi pekerti” dalam bertingkah laku. Sebagai contoh saat ini hanya masalah kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan, namun ujungnya berakhir dengan pemukulan, bahkan pembunuhan bukan hanya dilingkungan masyarakat tapi juga dilingkungan keluarga.
Dulu sekitar 10-15 tahun yang lalu ketika “budi pekerti” masih menjadi pedoman dalam bertingkahlaku sehari-hari yang tersebut diatas tidak sampai terjadi, hal ini karena “budi pekerti” merupakan sesuatu yang berkaitan sangat erat mengenai karakter manusia baik dalam sifat maupun perbuatan, yang dilakukan dengan kesadaran. “budi” adalah sadar, nalar, pikiran atau watak, sedangkan “pekerti” adalah perilaku, perbuatan, perangai, tabiat, watak. Merujuk pengertian “budi pekerti” dari Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tingkah laku, akhlak, perangai atau watak. Selain itu disebut dengan akhlak dan juga etika. Dengan kata lain budi pekerti atau akhlak adalah satu-satunya aspek yang sangat fundamental dalam kehidupan. Baik bagi kehidupan sebagai orang-orang maupun bagi kehidupan masyarakat.
Penerapan budi pekerti dalam kehidupan sehari memberi pengaruh positif bagi lingkungan. Ketika setiap individu menunjukkan perilaku baik maka orang lain juga akan menilai orang tersebut sebagai orang yang baik. Perilaku yang baik ini bisa ditunjukkan melalui kebiasaan yang sederhana, misalnya dengan bersikap sopan, membiasakan diri dengan senyum dan sapa atau sering menggunakan kata tolong, maaf dan terimakasih.
Sebagai gambaran nilai-nilai yang ada didalam “budi pekerti” yang menggambarkan prilaku yang ditampilkan adalah ketaatannya terhadap ajaran dari yang Maha Esa. Ketaatan dan keyakinan tersebut akan menjadi sebuah pilar yang menguatkan kepatuhan seseorang terhadap aturan yang ada baik aturan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat maupun aturan dari agama, seperti melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hal tersebut dimanifestasikan dengan taat beribadah dan berperilaku sesuai dengan norma agama; sikap dan perilaku yang mencerminkan toleransi dan penghargaan terhadap pendapat gagasan,tingkahlaku orang lain, baik yang sependapat maupun yang tidak sependapat; mampu untuk mengatur dirinya sendiri, berkenaan dengan dorongan nafsu, ambisi, keinginan dalam memenuhi rasa kepuasan dan kebutuhan hidupnya; dapat selalu berfikir jernih, tidak buruk sangka, mendahulukan sisi positif dari suatu masalah. Orang yang “berbudi pekerti” juga akan memiliki sikap dan perilaku memberi perhatian, perlindungan, penghormatan, tanggung jawab dan pengorbanan terhadap orang lain yang dicintai dan dikasihi, dengan menghargai hubungan antarindividu atau kelompok berdasarkan tatacara yang berlaku. Selain hal tersebut diatas juga akan bisa menunjukkan sikap dan perilaku yang menunujukan tidak enak hati, hina, rendah karena berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani, norma, dan aturan; tidak menyukai kebohongan atau berbohong, orang-orang seperti ini biasanya akan mengatakan apa adanya dan berani mengakui kesalahan, tidak bersikap egois atau juga indivualisme, tidak bergaya hidup mewah dan cenderung menunjukkan sikap dan perilaku rendah hati, sekalipun mereka memang lebih baik dari yang lain.
Betapa pentingnya “budi pekerti” itu maka setiap orang untuk dapat menjaganya dan terutama selalu berada dalam diri maka selalu berusaha untuk bertingkah laku dan berprilaku sesuai dengan norma agama, sosial dan masyarakat dan juga standart etika yang berlaku; selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari perbuatan buruk dalam bertingkah laku sehari-hari dari keseluruhan aktivitasnya; dan mempunyai kecerdasan akal, mampu mengendalikan emosi atau perasaannya, berbahasa dengan baik, memiliki kecerdasan spiritual dan bekerja secara cerdas.dan yang tidak kalah pentingnya selalu berempati dimana selain mampu untuk mengetahui dan dapat merasakan keadaan yang dialami orang lain, juga harus dapat merasakan bertukar posisi dengan orang lain, dasar empati adalah kesadaran. Dengan berempati orang mampu menyelami dan memahami perasaan orang lain meski bukan berarti menyetujui empati akan menggerakkan seseorang sehingga terlibat secara emosional tanpa meninggalkan unsur rasio dan nilai hidup. Untuk mewujudkan keberhasilan prilaku yang berbudi pekerti perlu adanya keteladanan, pembiasaan, pengamalan, pengkondisian serta upaya untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif pada lingkungan keluarga, pendidikan, dan masyarakat.