Dewa Kaum Sasak

Setelah sebelumnya banyak dewa, Lombok sekarang sudah punya tambahan dewa baru. Perguruan Tinggi dan Pondok Pesantren di Lombok belum terlalu berhasil melahirkan dewa. Malah institusi ini amat sukses menciptakan bertumpuk-tumpuk pemuja dewa atau penghamba dewa. Jika pun institusi ini berhasil melahirkan dewa, itu hanya sekelas sangkok bale atau leah bale. Kuasa hanya memengaruhi lingkungan sekitar yang berjarak depan.

Siapa yang memproduksi dewa kaum Sasak? Pertama ialah partai politik. Konon, salah satu urat nadi otonomi itu partai politik. Namun itu hanya isapan jempol. Tak lebih dari sebuah simulakra kekuasaan yang dibungkus narasi agung tentang pembagian kue kekuasaan secara adil. Dominasi pusat partai politik benar-benar mencekik kuasa lokal. Bahkan kuasa lokal hanya menjadi mesin pendulang suara untuk dewa yang mereka kirim.

Bermodalkan kuasa partai yang sentralistik dan kepemilikan modal serta relasi ke puasat kuasa, dewa yang dikirim oleh partai ke kaum Sasak, berpeluang jauh lebih besar dibandingkan mereka. Bahkan ketika sudah terpilih pun, orang Sasak yang menjadi dewa hanyalah sekadar subdewa di bawah dominasi parents dewa yang dibentuk oleh partai politik. Jadi, mainstream dewa mempunyai kuasa tanpa batas waktu untuk membangun kekuatan di tengah kaum Sasak yang sudah dikonstruksi sebagai pemuja.

Dewa itu seterusnya diproduksi oleh investasi. Lacurnya, hampir semua, bahkan semua pemimpin daerah di kaum Sasak itu, isi kepalanya sama. Paradigma pengembangan mereka sudah terpola oleh ekonomi global yang memang sudah menjadi kolonial yang semakin kuat. Watak utama pemimpin daerah kaum Sasak ketergantungan kepada investor. Akhirnya cara pandang mereka ialah pembangunan di tengah kaum Sasak tak dapat digerakkan tanpa menggenjot investasi. Lacurnya, investor selalu dimaknakan secara tunggal, yakni orang asing. Orang luar. Outside people dan power.

Sebab para pemimpin kaum Sasak itu juga mendewakan secara berlebihan investor, maka karpet merah dari kualitas paling tinggi digelar untuk para investor. Mereka tidak boleh disentuh debu dari turun peswat, semasa beraktivitas, hingga pulang naik pesawat. Dalam masa bersamaan, pendewaan tersebut telah tersistematisasi dan terstrukturisasi.

Di tingkat paling atas, pemimpin berotak investasi itu sebagai pemuja tertinggi, kemudian birokrasi di bawahnya, lalu sistem birokrasi digerakkan sebagai alat pemujaan. Pahitnya ialah, mereka menggunakan uang rakyat untuk memuja, mereka menggunakan mesin birokrasi untuk membuat rakyat sebagai pemuja. Maka jadilah kaum Sasak itu bagiannya hanya sebagai pemuja saja. Menderitanya, memuja dewa dalam perut kosong.

BACA JUGA:  Pembenci TGB: Haters Studies (Towards The Enlightenment Reborn)

Lantas, buat apa melahirkan pemimpin kaum Sasak kalau akhirnya sama-sama bernasib sebagai pemuja dan membuat sistem pemujaan yang didistribusikan kepada kaum Sasak yang seharusnya mereka bela dan angkat derajat di depan siapa pun dan di manapun.

Walau bagamanapun, pada dasarnya, meski pemujaan kepada dewa investor ini tidak tersistematisasi pun, ritual pemujaan akan berlaku juga. Karena uang dan high style ialah magnet bagi dewa kaum Sasak sejak dahulu. Sejak nenek moyang mereka. Hal ini secara sederhana dapat tergambar pada bagaimana perlakuan kaum Sasak pesisir kepada turis asing dan turis lokal, misalnya. Pembedaan yang menggambarkan betapa pemujaan kepada kaum asing telah menjadi salah satu watak penting kaum Sasak.

Karena itu, pemimpin kaum Sasak ini seharusnya berani menerobos jejak pemujaan itu untuk dapat membangun kekuatan sendiri. Sekurang-kurangnya, jika investasi itu memang sesuatu yang mutlak diperlukan, pemimpin kaum Sasak berwatak setara dengan mengarusutamakan kekuatan sendiri. Kaum Sasak itu tak lemah-lemah amat kok. Bukan malah membuat sistem yang makin kuat agar kaum Sasak kekal menjadi barisan pemuja. Pemimpin kaum Sasak jenis apa ini. Pemimpin kok inlander, inferior juga.

Mesin produksi berikutnya ialah industri media dan industrialisasi. Ini penyakit umum di Indonesia. Orang Indonesia lebih mengenali, menyanjungi, memahami artis drama Korea dan artis nasional dibandingkan ibu bapak mereka sendiri. Jadi ini penyakit umum. Pandemi mental budak alias kaum terjajah yang terus mewabah dan secara sengaja tidak dibuatkan vaksin sebab pemilik industri sengaja melahirkan orang-orang sakit agar mereka mudah diplot menjadi pemuja.

Namun, penyakit itu semakin ganas jika dihubungkan dengan kaum Sasak yang sudah beratus-ratus tahun sakit. Sebab dalam kemiskinan dan kekalahan yang unlimited masih memberikan ruang bagi pemujaan tanpa batas kepada mimpi yang dibuat oleh penguasa industri. Dan ruginya, agen utama mesin industri ialah pemimpin daerah kaum Sasak.

Lihat saja, bagaimana orang Sasak miskin sanggup berhutang seumur hidup hanya untuk dapat menaiki motor. Bagaimana orang Sasak sanggup menjadi hina asalkan ada untuk membeli bensin motor. Tega menjual tanah warisan asalkan punya kendaraan. Ini ialah mental rapuh yang sudah mewabah sejak lama dan amat kuat. Maka, ketika ada rentenir dalam bentuk apa pun, seperti penawaran kredit dan lainnya, kaum Sasak akan sanggup memberikan pemujaan tinggi asalkan terpenuhi hasrat keterjajahan kepada produk industri itu.

BACA JUGA:  Tragedi KRI Nanggala 402 dan Wasiat Jitu Maulanassyeikh Hamzanwadi

Mesin produksi dewa yang lain ialah institusi adat, atau adat yang diinstitusikan. Apakah ini salah. Diskusinya bukan pada salah atau tidak salah. Namun pada bagaimana pengoperasian (cultural reproduction) institusi tersebut. Ia digunakan untuk mendistribusikan keterkungkungan memahami variasi kebudayaan. Salah satu cirinya ialah mereka yang masih kuat berfikir yang, ada budaya tinggi yang ditugaskan mensubordinasi budaya lain sebagai rendah. Misalnya, Gendang Beleq sebagai yang agung sedangkan Kecimol sebagai yang rendah.

Akibatnya, Sasak youth melakukan resistensi dengan menciptakan dewa di luar bingkai kebudayaan mereka. Ketimbang tidak dianggap ada oleh adat yang diinstitusikan, lebih baik memilih dewa luar, tempat di mana diri mereka sendiri masih dirasa terakomodasi.

Lantas apa masalah kaum Sasak ini? Secara umum dapat digambarkan dalam narasi yang kaum Sasak tidak mempunyai imajinasi yang sama tentang kebangsaan mereka sendiri. Hal ini nampak, misalnya, sederhana, tokoh NW-NWDI hanya dipuja oleh kelompok mereka saja. Begitu juga tokoh NU yang menjadi pusat di tengah kelompak mereka saja. Amat susah tokoh NW-NWDI dapat menerobos komunitas di luar mereka karena susah diterima. Selalu ada resistensi dengan menciptakan narasi “dia bukan dari kita” dan “yang kita adalah ini”. Begitu juga tokoh NU yang mengalami kesusahan yang sama ketika diperhadapkan dengan kelompok yang bukan arenanya.

Kaum Sasak amat susah menjadikan Sasak sebagai arus utama. Atau menjadikan organisasi mereka sebagai arena pengarusutamaan Sasak. Jika sudah dikoding ke dalam organisasi yang mereka anut, mereka langsung tidak menjadi Sasak karena pada saat itu keutamaan ialah membela organsiasi. Dalam risalah yang lain, orang Sasak tidak bisa bersatu jika sudah masuk ke bilik organisasi yang mereka ikuti.

Lacurnya, pengarusutamaan organisasi ini dibawa ke ranah politik. Akibatnya, tidak jarang organisasi yang ada mempertandingkan ideologi kelompok organisasi secara sengit dan dalam masa yang sama menistakan Sasak ke liang durja yang paling dalam.

BACA JUGA:  Sasak Dalam Amuk Deras Neoliberalisme

Habis Sasak di ladang organisasi kemasyarakatan. Hilang Sasak di arena organisasi kemasyarakatan.

Ini ialah kelemahan besar yang sentiasa menganga yang, kemudian dengan cerdik dimanfaatkan oleh kaum asing. Mereka membawa segala jenis modal lalu menaburkan ke tengah kaum Sasak yang asyik memuja organisasi dan tokoh organisasi masing-masing. Maka jadilah kaum Sasak yang tidak berhasil menduniakan tokoh organisasi mereka sebagai representasi Sasak, dan pada masa yang sama malah sukses menjadi pemuja dewa asing.

Dengan begitu, secara sederhana dewa kaum Sasak tersebut mempunyai ciri utama. Pertama ialah orang asing. Kedua mempunyai harta dan kuasa. Ketiga, pusat dan global. Dewa ini datang ke Lombok membawa kekuasaan yang kuat dan kekayaan yang melambung. Sebagai kelompok yang selalu terkalahkan, orang Sasak sudah mempunyai sejarah lama sebagai penakut dan pengikut mereka dari golongan asing yang mempunyai dua hal tersebut. Lantas siapakah dewa baru itu?

Sebelum menutup tulisan ini, ada baiknya mengutip pernyataan salah satu dewa kaum Sasak yang kini benar-benar sedang hit. Ia mengatakan begini:

“Saya memiliki komitmen yang tinggi untuk menjadikan petani Lombok tuan rumah di daerahnya sendiri, dan kita bisa.”

Ini serupa pernyataan investor yang memang sangat didewakan oleh pemimpin daerah kaum Sasak. Maka, tak mengherankan jika tidak memerlukan waktu panjang, tidak perlu masa lama, dan tak perlu bergetih-getih, sang dewa kaum Sasak langsung menjadi dewa utama. Dipuja oleh kaum muda yang notabene dari kelompok terpelajar. Dibela dengan pertaruhan nyawa. Dihamba oleh kaum muda yang hebat namun miskin dan tak punya kuasa. Kaum muda yang dilahirkan oleh Perguruan Tinggi dan Pondok Pesantren yang ada di Lombok.

Lantas jika akhirnya kemiskinan dan kekuasaan yang lemah yang, selalu menjadi masalah di kaum Sasak ini, kenapa Perguruan Tinggi dan Pondok Pesantren yang ada tidak langsung saja bervisi melahirkan generasi muda kaya yang beriman. Bervisi kepada melahirkan generasi muda berkuasa yang berakhlaq. Tidak lagi bermegah-megah bervisi pada pusaran ilmu pengetahuan namun akhirnya menjadi hamba kepada dewa asing yang kaya dan berkuasa.

Malaysia, Selepas Bulan Puasa 1442 H.