MATARAMRADIO.COM — Ratusan jamaah memadati Lapangan Satbrimob Polda NTB untuk melaksanakan Shalat Idul Adha 10 Zulhijjah 1447 Hijriah, Rabu pagi (27/5).
Pelaksanaan salat berlangsung khusyuk dengan Imam Ustadz Abdurahman dan khatib Ustadz Abdul Azis dari Pondok Pesantren Meninting, Lombok Barat.
Dalam khutbahnya, Ustadz Abdul Azis mengingatkan jamaah tentang begitu besarnya nikmat dan karunia Allah SWT yang diberikan kepada manusia. Menurutnya, manusia tidak akan mampu menghitung seluruh nikmat Allah, apalagi membalasnya.


“Kita bahkan tidak mampu menghitung nikmat Allah SWT. Karena itu, mari bersyukur atas seluruh karunia yang diberikan,” ujar khatib di hadapan jamaah.
Ia mengajak umat Islam menggunakan seluruh anugerah Allah, mulai dari telinga, otak hingga mulut, hanya untuk hal-hal yang diridhai Allah SWT.
Khatib juga mengingatkan bahwa seluruh manusia kelak akan dikumpulkan di hadapan Allah, mulai dari Nabi Adam AS hingga manusia terakhir di akhir zaman.
Dalam khutbahnya, Ustadz Abdul Azis turut mengisahkan perjalanan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya sebagai teladan keikhlasan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Diceritakan bagaimana Nabi Ibrahim dan istrinya, Siti Hajar, lama tidak dikaruniai anak hingga akhirnya lahir Nabi Ismail AS.
Ketika Ismail masih bayi, Nabi Ibrahim diperintahkan membawa Siti Hajar dan putranya ke Mekkah yang saat itu masih tandus dan sepi. Dari perjalanan itulah kemudian menjadi awal lahirnya Kota Mekkah.
Saat bekal habis, Siti Hajar berusaha mencari air hingga akhirnya Allah SWT memunculkan mata air zamzam yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Mekkah hingga kini.
Khatib juga mengulas peristiwa agung ketika Nabi Ibrahim mendapat mimpi diperintahkan menyembelih putranya, Ismail AS. Pada 10 Zulhijjah, Nabi Ibrahim menyampaikan mimpi tersebut kepada anaknya.
Dengan penuh keimanan, Nabi Ismail meminta ayahnya menjalankan perintah Allah SWT dan menyatakan kesiapannya untuk berkurban.
“Di situlah letak keteladanan luar biasa tentang keikhlasan, ketaatan dan pengorbanan kepada Allah SWT,” katanya.
Selain mengupas hikmah kurban, khatib juga menyampaikan sejumlah kisah inspiratif tentang ibadah haji. Salah satunya kisah seorang imam besar di Mekkah yang bermimpi bahwa dari 600 ribu jamaah haji, tidak satu pun yang diterima hajinya. Namun justru ada seorang tukang sol sepatu di Palestina yang mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT.
Pria tersebut diketahui telah lama menabung untuk berhaji. Namun uang yang dikumpulkannya akhirnya diberikan kepada tetangganya yang kelaparan hingga terpaksa memasak bangkai keledai demi menyambung hidup keluarganya.
Kisah itu, menurut khatib, menjadi pelajaran bahwa keikhlasan, kepedulian sosial dan ketulusan hati memiliki nilai sangat tinggi di hadapan Allah SWT.
Tak hanya itu, khatib juga menceritakan perjuangan seorang calon jamaah haji asal Samarkand, Rusia, yang mengalami cacat tubuh namun memiliki kecintaan luar biasa kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Karena keterbatasan fisiknya, pria tersebut tidak mampu berjalan normal. Namun tekadnya untuk menunaikan ibadah haji tidak pernah surut. Ia disebut menempuh perjalanan selama 10 tahun menuju Tanah Suci dengan menggulingkan tubuhnya sepanjang perjalanan hingga akhirnya tiba di Kota Mekkah.
“Kecintaan kepada Allah dan Rasulullah membuatnya mampu melewati perjalanan yang sangat berat,” tutur khatib.
Kisah tersebut membuat suasana khutbah semakin menyentuh dan mengundang haru jamaah. Khatib mengajak umat Islam meneladani semangat pengorbanan, keikhlasan dan kecintaan kepada Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.***




















































































































































